
Terlihat tulisan mengetik di bawah nomor ponsel itu. Beberapa saat kemudian pesan kembali masuk. Dengan perasaan campur aduk, Kirana memberanikan diri membuka pesan itu. Rasa penasarannya lebih besar ketimbang rasa cemasnya.
[Kok kamu tanya siapa aku? Atau jangan-jangan ini bukan kamu ya, Mas?] balasan darinya yang semakin membuat Kirana geram.
Kirana meremas cukup kuat ponsel itu. "Sepertinya Mas Hendrik sengaja tak menyimpan nomor ponsel ini. Tapi kenapa? Padahal ponsel ini tak pernah ia perlihatkan padaku. Jadi apa yang harus ia takutkan?
Bahkan mereka hampir setiap hari melakukan panggilan, terkadang juga panggilan video. Dan itu selalu dilakukan di malam hari."
Kirana memutar otak, ia bertekad pokoknya harus tau siapa pemilik nomor ponsel itu. Kalau di perhatikan sepertinya itu seorang wanita. Karena kalau laki-laki tidak mungkin seintens itu mereka telponan.
[Ah, iya maaf aku lupa. Soalnya ini aku sudah ngantuk berat. Oh iya, kamu kenapa nggak pasang foto profil di pesan singkatmu ini?] pesan terkirim kembali.
Kirana berharap si pemilik nomor ponsel ini mau memasang foto profilnya. Hanya itu yang bisa ia harapkan saat ini.
Cukup lama pesan tak juga dibaca olehnya. Hingga Kirana mulai mengantuk berat. Tapi saat matanya mulai terpejam, ponsel di tangannya kembali bergetar. Ia segera duduk kembali, mengusap matanya lalu membuka pesan itu.
[Buat apa aku pasang foto profil? Apakah kamu kangen sama aku malam ini, Mas? Bagaimana kalau kita melakukan panggilan video seperti biasanya?] balasannya.
[Iya, aku kangen sama kamu. Tapi maaf aku nggak bisa telponan sama kamu malam ini. Soalnya ada istriku sedang tidur di sampingku. Ehm, apa kamu bersedia mengirim fotomu aja?]
[Tumben kamu nggak pindah tidur di kamar lain saat akan telponan sama aku? Tapi ya sudah, tunggu sebentar ya. Aku mau ganti baju yang seksi dulu. Nanti aku kirim hasil fotonya ke kamu.] pesan disertai dengan emoticon cium.
Jujur perasaan dan hati Kirana mulai terasa sakit. Siapapun wanita ini, pasti dia adalah orang yang sangat berarti juga buat Hendrik. Buktinya Hendrik sampai rela menyembunyikan satu ponsel untuk khusus berkomunikasi dengan wanita itu.
Beberapa menit kemudian, ada pesan masuk lagi dari nomor itu. Dengan tangan gemetar, Kirana membukanya.
Degh!
__ADS_1
Mata membeliak, mulut melongo, jantung berdegup kencang. Ya, itulah reaksi Kirana saat pertama kali melihat foto wanita yang berpose sangat menggoda dengan menggunakan lingeri warna merah itu.
Bahkan Lingeri yang wanita itu kenakan hanya menutupi bagian area sensitivenya saja. Ah tidak tidak, bagian sensitive itu masih terlihat sangat jelas jika foto ini di zoom. Karena bahan Lingeri itu sangat transparan.
Sebagai sesama wanita Kirana merasa sangat malu bahkan jijik saat melihatnya berpose seperti itu lalu mengirimnya ke laki-laki yang sudah beristri. Ia lalu keluar dari aplikasi pesan singkat itu tanpa membalasnya lagi.
"Tapi siapa wanita ini? Aku sama sekali belum pernah melihatnya. Apakah selama ini Mas Hendrik telah berselingkuh di belakangku? Ah, jahat sekali kamu, Mas! Aku pikir kamu sudah berubah. Tapi ternyata kamu masih bermain gila sama beberapa perempuan di luar sana.
Apa mungkin ini karena aku yang nggak mau di sentuh sama sekali oleh Mas Hendrik? Tapi apa harus seperti ini yang dia lakukan sebagai pelampiasan hasratnya?" gumam Kirana menerka-nerka dan sedikit merasa berdosa telah mengabaikan kebutuhan batin Hendrik.
Tetapi semua ini Kirana lakukan lantaran Hendrik juga mengabaikan perasaan sakit hatinya.
Kirana kembali memasukkan ponsel itu ke dalam laci nakas. Namun ia tak mau menghapus semua riwayat pesan itu. Biarlah jika besok Hendrik membuka ponsel itu, ia akan tau kalau Kirana sudah mengetahui kelakuan buruknya.
Dan soal wanita penggoda itu mungkin akan Kirana bahas saat Hendrik bertanya padanya tentang riwayat pesan yang dia kirim barusan. Atau Kirana akan mencari tahu sendiri nanti jika ada waktu.
Pukul 06.00 pagi, Kirana sudah terbangun. Padahal biasanya dia akan bangun sedikit siang. Tapi karena sepanjang malam ia terus memikirkan ucapan teman-teman Hendrik, serta foto wanita seksi semalam, membuatnya tak bisa tidur dengan pulas.
Sebelum keluar kamar, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Ia ingin berendam beberapa saat dengan air hangat demi merelaxkan pikirannya.
Tapi lagi-lagi ia merasa Kecewa dengan sikap Hendrik. Bisa-bisanya Hendrik dari semalam hingga pagi ini tak berusaha mengetuk pintu kamar Kirana. Meskipun Kirana tak akan mau membuka pintu kamarnya, tapi setidaknya ia berharap jika Hendrik mau berusaha memperbaiki suasana. Bukan malah semakin mendiamkan Kirana seperti sekarang.
Sebagai wanita, Kirana juga ingin terus dirayu
kala sedang merajuk. Tapi sepertinya Hendrik enggan melakukan itu pada Kirana kali ini.
Setelah satu jam kemudian, Kirana yang merasa sudah cukup relax, akhirnya memutuskan untuk keluar kamar. Perutnya juga sudah mulai terasa lapar.
__ADS_1
Baru saja membuka pintu, suasana di luar kamar sangat hening. Pintu kamar yang lain juga dalam keadaan terbuka, yang menandakan sedang tak ada orang di dalam sana.
"Huh!" Kirana membuang nafas kasar, lalu duduk di sofa ruang tamu. Matanya kembali melihat kanan kiri, namun tetap nihil. Hendrik sudah tak terlihat lagi pagi ini.
Kemudian ia berdiri lagi dan jalan ke arah dapur. Namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti kala ia berjalan di samping meja makan. Lantaran ia melihat ada sebuah kertas yang ditindih ponsel di atasnya.
"Jaga dirimu baik-baik. Kamu tak perlu mencari aku ada di mana atau datang ke rumah makan. Karena untuk sementara ini aku akan tinggal di apartemen Judika.
Untuk kamu, silahkan jika mau tetap tinggal di sana. Tapi jika kamu ingin keluar juga tak masalah. Aku tak akan menghalangimu lagi.
Dan ini ponselmu aku kembalikan. Aku pergi bukan karena sudah nggak sayang sama kamu. Tapi aku ingin memikirkan semuanya lagi." Bunyi pesan yang di tulis oleh Hendrik sebelum ia keluar dari apartemen subuh tadi.
"Ternyata kamu benar-benar takut akan ramalan konyol dari temanmu itu."
Kirana meremas kertas itu, lalu membuangnya ke sembarang lantai. Seperti biasa, tak ada sedikitpun air mata yang menetes lagi dari matanya. Seolah dia sudah tau kalau kejadian seperti ini akan terjadi cepat atau lambat.
Lalu ia gegas masuk ke dalam kamar, dan mengemas semua pakaiannya. Tapi sebelum ia melangkah keluar ia menyempatkan diri untuk mengirim pesan terlebih dahulu pada Hendrik untuk sekedar berpamitan.
[Aku harap kamu segera sadar jika yang kamu lakukan padaku saat ini salah. Dan semua teman-temanmulah yang akan membawamu ke kehancuran. Tapi maaf, aku nggak akan memohon-mohon sama kamu agar kamu mau kembali lagi dan percaya sama aku.
Silahkan kamu buktikan semua ucapan dan ramalan teman-temanmu kemarin yang menyatakan aku pembawa sial bagi kehidupanmu.
Jika memang dengan kita berpisah saat ini bisa membuatmu lebih sukses, aku siap untuk kamu ceraikan kapanpun itu.
Tapi jika dengan kita berpisah sekarang semakin membuatmu terpuruk, dan teman-temanmu itu mencampakkan kamu, maka carilah aku di gereja tempat kita menikah. Kita cari solusi terakhir di sana dengan melibatkan Pak Gembala.
Aku juga sadar diri kalau kamu sudah mengusirku secara halus pagi ini. Maka dengan senang hati aku akan keluar dari apartemenmu ini. Aku tak akan membawa apapun, selain milikku sendiri.] pesan terkirim namun hanya centang satu.
__ADS_1
Kemudian Kirana juga melepas cincin nikahnya, lalu memfoto dan mengirimnya pada Hendrik.