Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 93.


__ADS_3

Kirana berjalan lebih dekat lagi ke papan karangan bunga yang sudah berjajar rapi di halaman rumahnya. Ia ingin memastikan lagi jika yang ia lihat tidaklah salah.


"Bukannya ini ciri khas papan karangan bunga dari tempatku ya? Tapi siapa yang sudah memesannya? Apakah Bu Angel yang kemarin itu?" gumam Kirana seraya memperhatikan satu persatu papan karangan bunga itu. Di mana setiap kayu penyangganya di balut pita berwarna gold.


Wajar Kirana merasa terkejut pagi ini. Lantaran kemarin malam saat ia datang, papan bunga ini tak ada satupun yang terpasang. Dan sewaktu Bu Angel kemarin memesan, Kirana juga tidak memperhatikan kemana alamat pengirimannya.


"Tapi, apa mungkin hanya sama aja ya desainya menggunakan pita warna gold di bagian kayu penyangganya? rasanya nggak mungkin deh."


"Hei! Jangan dekat-dekat! Nanti bisa rusak itu. Lagian udik banget sih, papan bunga gitu aja sampai di perhatiin deket banget!" seru Bang Handoko sambil berjalan mendekat. "Oh, iya lupa. Kamu kan nggak pernah lihat dan dapat papan karangan bunga seperti ini ya? Hahaha," cemoohnya dengan lantang.


Kirana berpaling menatap tajam ke arahnya, hingga membuatnya terdiam. "Sudah tertawanya, Bang? Kalau belum puas, silahkan di lanjutkan lagi. Tapi jangan nyesel aja nanti, karena udah ngetawain aku pagi ini," ungkap Kirana sambil melipat tangannya.


"Apa katamu? Nyesel? Wkwkwkwk!" Handoko kembali tertawa besar. Bahkan suaranya sampai mengundang perhatian yang lainnya.


Sedangkan Kirana hanya mengedikkan bahunya, lalu berjalan pergi meninggalkan Handoko.


"Hei, aku akan tunggu waktunya, kapan aku akan menyesal telah menertawakanmu!" teriaknya.


Tin..


Tin..


Tin..


Semua orang menoleh ke arah mobil yang baru masuk ke halaman rumah, termasuk Kirana juga. Ternyata pagi ini Papa Robert datang bersama Judika.


Beliau di sambut dengan sangat bahagia oleh Bu Mery dan semua anak-anaknya.

__ADS_1


"Selamat datang, Pa. Akhirnya Papa sudah bisa kembali berkumpul bersama kita semua," tutur Bu Mery.


"Papa juga senang, sekarang Papa sudah sehat kembali. Dan nggak lama lagi, Papa bisa menyambut kedatangan cucu pertama Papa," ungkap Papa Robert saat melihat ke arah Kirana.


"Sini, Nak," panggil Papa Robert melambaikan tangannya pada Kirana. "Terimakasih untuk kebaikanmu selama Papa di rawat kemarin. Papa sangat berhutang budi padamu. Papa berharap kamu bisa menjadi anak menantu Papa sampai selamanya," ucap Papa Robert tulus sambil memeluk Kirana.


Membuat Rita, Handoko, dan Bu Mery mencebikkan bibirnya karena tak suka mendengar Papa Robert mengucapkan terima kasih pada Kirana.


"Sudah, sudah! Ayo kita masuk saja. Papa juga nggak perlu sampai segitunya sama dia. Toh itu memang sudah kewajibannya!" celetuk Bu Mery tak suka. Kemudian gegas menuntun Pak Robert masuk ke dalam rumah.


Pukul 08.30 pagi, para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Kirana sempat heran lantaran banyaknya tamu undagan pagi ini. Papa Robert kan tidak tinggal di kota Surabaya? Tapi kenapa bisa banyak yang datang pagi ini?


Pertanyaan itu selalu muncul di benak Kirana pagi ini. Sampai-sampai ia nekat bertanya pada Hendrik yang sengaja ia cuekin dari semalam.


"Mas, banyak juga ya tamu undangannya? Padahal Papa kan nggak tinggal di Surabaya?" bisiknya. Ia tak mau pertanyaannya terdengar yang lain.


Hendrik merasa lega saat Kirana mengajukan pertanyaan padanya. Karena menurut Hendrik, dengan Kirana mengajaknya bicara itu berarti Kirana sudah tak marah lagi padanya. Padahal sebenarnya Kirana masih marah. Tapi mau bagaimana lagi, Kirana sudah terlanjur penasaran soalnya. Mau bertanya pada yang lain, nanti di pikirnya Kirana mau julid.


"Oh!" balas Kirana sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Namun matanya masih memperhatikan tamu yang berdatangan.


Hendrik mengernyitkan keningnya lalu menatap Kirana lekat. "Kok cuma 'Oh' sih, Sayang? Kamu masih marah sama aku? Aku kan sudah minta maaf," cetusnya.


"Terus aku harus jawab apa, Mas?" Kemudian ia bangkit berdiri lalu berjalan masuk.


Tapi tanpa sengaja Kirana justru bertabrakan dengan seorang ibu-ibu yang sedang berjalan sambil memainkan ponselnya.


Brugh!

__ADS_1


Seketika baju putih Kirana terkena tumpahan jus jeruk. "Aduh, maaf ya Mbak! Saya nggak sengaja, tadi saya sibuk mengirim pesan soalnya," ungkapnya sambil terus memperhatikan ke arah baju Kirana.


Sedangkan Kirana sendiri fokus membersihkan bajunya menggunakan tisu. "Iya, nggak apa kok, Bu. Ini juga salah saya yang nggak fokus tadi jalannya."


"Aduh, ada apa ini, Jeng?" tiba-tiba suara Bu Mery muncul dari belakang Kirana.


"Ini Jeng, saya nggak sengaja menabrak Mbak ini."


Bu Mery mencengkeram lengan Kirana. "Kamu bisa nggak kalau jalan itu matanya di pakai juga?" desis Bu Mery dengan penekanan.


Kirana mengangkat wajahnya, ia tak terima jika dirinya di salahkan di depan umum. Toh ini juga murni tak sengaja.


"Apa sih, Ma. Kita sama-sama nggak sengaja kok." protes Kirana.


Saat Kirana dan Bu Mery saling adu pandang, tiba-tiba perempuan yang bertabrakan dengan Kirana tadi memegang lengan Kirana yang satunya.


"Loh, kamu Kirana kan?" serunya dengan nada kaget.


Kirana berpaling. "Eh, Bu Angel kan?" sahut Kirana ramah.


"Kalian saling kenal?" kali ini Bu Mery yang dibuat melongo lantaran mereka sudah saling tau nama masing-masing.


"Iya, Jeng. Saya kenal sama Kirana. Baru kemarin sih kenalnya, saat saya pesan papan karangan bunga yang saya kirim kemarin malam itu."


Bu Mery lalu memperhatikan sekitar, kemudian berbisik pada Bu Angel. "Jadi Jeng Angel tau kalau menantu saya ini kerja sebagai karyawan di toko bunga? Tapi tolong jangan kasih tau yang lain ya, Jeng. Saya malu kalau punya menantu yang hanya kerja di toko bunga. Pasti gajinya juga nggak besar seperti PNS," mohonya dengan mengiba.


Bu Angel menatap bingung. "Karyawan? Maksud Jeng Mery? Apakah Jeng Mery tidak tau kalau menantu Jeng Mery ini bukan sekedar karyawan di toko bunga itu? Tapi dia ini pemilik dari toko bunga itu? Bahkan dia sudah punya cabang loh Jeng? Saya aja pengen sekali punya menantu yang pintar dalam dunia usaha seperti Kirana," pujinya seraya mengelus lembut lengan Kirana.

__ADS_1


Mata Bu Mery melotot dan mulutnya terbuja lebar. "Jeng Angel pasti salah lihat orang deh. Nggak mungkin menantu saya yang miskin ini tiba-tiba punya dua toko bunga yang sudah sukses. Buktinya rumah aja mereka masih ngontrak di sini," sanggah Bu Mery.


Bu Mery tak bisa terima jika ternyata yang di bilang Bu Angel itu memang benar. Mau taruh di mana mukanya? Karena selama ini dia selalu menghina Kirana.


__ADS_2