
Berat rasanya untuk mengatakan kata iya bagi Kirana. Tapi mengingat kesan pertama kali saat bertemu dengan Papa mertua, beliau bisa menyambut hangat kedatangan Kirana, membuatnya menganggukan kepala pada akhirnya.
"Ya udah, aku ikut pulang ke rumah. Terus Papa sendiri apa sudah pulang dari rumah sakit, Mas? Kan acaranya besok katanya jam 9 pagi. Masa iya Papa pulangnya deket sama jam acara?" tanya Kirana.
Ia kembali menggenakan helmnya dan naik ke atas motor Hendrik. Untung saja Kirana sudah memakai jaket sedari berangkat tadi siang, jadi meskipun sekarang ia harus naik motor di malam hari tak akan membuatnya kedinginan.
"Papa baru bisa pulang besok pagi jam 7, Sayang. Biarlah Papa pulangnya dekat sama jam acara. Daripada pulang sekarang, tapi beliau lihat keribetan istrinya? Kan jadi beban pikiran lagi yang ada."
"Kalau Kak Rita sama Bang Handoko? Apa mereka sudah sampai?"
Kirana sebenarnya sedikit merasa gugup saat ini. Bukan gugup karena takut kena marah. Tapi lebih ke rasa canggung akan bertemu dengan semua saudara-saudara dari suaminya ini.
Karena waktu acara nikahan kemarin 'kan tak ada saudara yang datang kecuali Judika, Alfan, dan Musa.
"Mungkin sudah. Entahlah, aku juga nggak mau tau mereka sudah datang atau belum."
Setelahnya mereka berdua sama-sama diam. Hanya terdengar suara kendaraan saja saat ini. Bagi Kirana, ia tak ingin menenyakan apa-apa lagi.
********
"Nah, itu mereka baru pulang!" seru seorang laki-laki yang sedang duduk di teras rumah. Kirana belum bisa menebak siapa nama laki-laki itu.
"Kamu nanti tutup telinga aja ya kalau mereka ngomongin kamu. Anggep aja angin lewat. Karena semua keluargaku kalau ngomong suka pedes kayak bon cabe level 30," bisik Hendrik pada Kirana saat mereka memarkirkan motornya.
Kirana hanya diam saja, namun kalimat Hendrik barusan cukup membantu dia agar segera membangun benteng yang kokoh di hati dan telinganya. Agar jika ada yang berkata pedas, ia tak menjadi baper.
Laki-laki itu berdiri menghadang langkah kaki Kirana dan Hendrik yang akan masuk ke dalam rumah. "Kalian kemana aja sih? Sudah tau Mama lagi repot masak, ini malah keluyuran nggak jelas! Nggak kasihan apa sama orang tua?" ketusnya seraya berkacak pinggang.
Lalu ia menatap tajam Hendrik. "Terutama kamu Hen, masak kamu nggak bisa ngajarin istrimu untuk hormat sama mertua? Tuh kamu coba lihat Rita, istriku," ujarnya sambil menunjuk ke dalam rumah. "Baru datang tadi sore, tapi dia langsung bantuin Mama di dapur. Jangan alasan lagi hamil terus nggak mau bantuin. Mual itu hanya alasan bagiku!
__ADS_1
Rita juga hamil, tapi dia baik-baik aja tuh. Nggak ada istilah mual atau pusing. Padahal dia lagi hamil muda. Lah ino istrimu sudah hamil tua masak masih mual-mual. Jangan bodoh kamu jadi suami!" umpatnya tanpa peduli persaan orang lain.
Kirana hanya diam menatap ke arah laki-laki itu. Dia tak menunjukkan ekpresi marah ataupun sedih. Hanya tatapan datarlah yang ia tunjukkan.
Hendrik membuang nafas kasar. "Tolong jangan bandingkan kondisi Kak Rita dan Kirana, Bang. Karena setiap ibu hamil akan merasakan kondisi yang beda-beda. Lagipula kita juga bukan dari jalan-jalan kok. Kita ini baru pulang kerja. Jadi jangan asal tuduh kalau nggak tau kebenarannya," sunggutnya kesal.
"Halah alasan aja kalian ini!" bantahnya lalu kembali duduk di kursi teras.
Hendrik pun menyusul duduk di sana. "Kalau aku dan Kirana nggak kerja, siapa yang bakal biayain semua biaya rumah sakit dan acara syukuran Papa besok? Apa Abang mau keluar uang untuk itu semua? Nggak kan? Jadi tolonglah, kita saling kerja sama.
Aku dan Kirana bantuin secara materi, sedangkan Abang dan Kak Rita bantuin secara tenaga. Adil kan kalau seperti itu?" beber Hendrik.
Dari percakapan yang Kirana dengar dari tadi, sepertinya laki-laki ini adalah Bang Handoko. Kakak pertama dari Hendrik. Memang benar kata pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya.
Mulut Handoko sebelas duabelas dengan Bu Mery. Sama-sama pedas jika sudah berbicara sama orang yang tak ia suka. Tapi, atas dasar apa ia tak suka pada Kirana? Bahkan bertemu aja baru sekarang.
"Loh, ya nggak bisa gitu dong. Kan kalian yang punya rumah di sini. Jadi ya memang sudah sewajarnya kalau semua kalian yang tanggung. Termasuk biaya rumah sakit dan biaya untuk syukuran besok!" ketusnya lalu bangkit berdiri.
Namun tiba-tiba ada yang menepuk punggung Hendrik dari belakang. "Hai, Bang. Bagaimana kabarmu?" sapanya.
Laki-laki itu berjalan dengan 3 orang lainnya.
"Hai, kabar baik aku. Kamu sendiri bagaimana? Kapan kalian nyusul?" balas Hendrik. Kemudin ia kembali merangkul pinggang Kirana.
"Sayang, kenalin ini adikku yang nomor tiga. Namanya Axel dan ini Sinta, pacarnya," jelasnya. "Kalau yang ini adikku yang nomor empat. Namanya Cindy dan itu Bagas, pacarnya."
Kirana mengulurkan tangan membalas uliran tangan mereka satu per satu. Nah, kalau yang Axel dan Cindy ini sepertinya mereka mewarisi sikap ramah dari Pak Robert.
Hendrik, Axel, dan Bagas melanjutkan ngobrol di kursi teras sisi kanan. Sedangkan Kirana, Sinta, dan Cindy tetap duduk di teras sisi Kiri.
__ADS_1
"Sudah berapa bulan, Kak? Wah, nggak sabar sebentar lagi aku mau punya ponakan," tanya Cindy dan Sinta sangat antusias seraya mengusap perut Kirana yang semakin membesar.
"Sudah 7 bulan," jawab Kirana ramah. Ia sangat bersyukur, lantaran masih ada yang baik padanya selain Pak Robert. Jadi rasa cemasnya pun berangsur mulai berkurang.
"Wah, sebentar lagi dong ya? Cowok atau cewek, Kak?" tanya Sinta lagi.
"Hush, nggak boleh tanya gitu. Mau cowok atau cewek kan sama aja!" tegur Cindy sambil menepuk lengan Sinta.
"Ihhh, main pukul-pukul aja sih? Aku tanya kan karena mau beliin baju buat calon ponakanku," cebik Sinta tak terima karena sudah dipukul Cindy.
"Calon ponakan? Helo, kamu kan belum nikah sama Axel. Bisa-bisanya bilang calon ponakan. Nggak boleh! Yang bener ini calon ponakanku. Hahaha," Cindy tertawa terbahak-bahak hingga mengundang perhatian para laki-laki di sisi kanan.
Kirana, sedikit terhibur dengan perdebatan antara adik ipar dan calon adik iparnya itu. Usia mereka yang hampir sama, membuat mereka jadi mudah untuk berbaur.
Namun Kirana kembali mengedarkan pandangannya. Ada satu sosok yang membuatnya penasaran. Kemana Judika? Kok hanya dia yang tak terlihat malam ini? Bukankah dia sudah bebas dari penjara? Lalu kenapa dia tak ikut berkumpul di sini? Apa dia ada di dalam ya? Tapi sepertinya di dalam rumah hanya ada Mama mertua, Kak Rita, dan Bang Handoko.
"Huh! Baguslah kalau dia nggak ada. Berarti satu mulut bon cabe berkurang," gumam Kirana sambil megusap dadanya.
Tapi tiba-tiba,
tin...
tin...
tin..
Terlihat satu mobil sedan masuk ke halaman parkir rumah kontrakan Kirana. Semua mata yang ada di teras tertuju ke mobil itu.
"Mas, siapa yang datang malam-malam begini? Temanmu kah?" tanya Kirana pada Hendrik.
__ADS_1
Tapi Hendrik justru mengelenggkan kepalanya. "Aku nggak ngundang siapapun malam ini kok, Ran. Coba kita tunggu aja siapa yang keluar dari mobil itu," usulnya.