
Wajah Chika yang terlihat sangat sewot, Dia merasa sangat senang karena sudah sampai diakhir anak tangga, Para Penduduk mengatakan kalau Kepala Desa sedang berada diruang perawatan, kali ini Kami Berdua sedang diantar oleh salah Satu Penduduk.
Penduduk itu berkata kalau tidak ada Gadis berambut Pink, Semua Penduduk Desa sudah pasti meninggal Dunia, karena Mereka Semua tertimpa Batu tebing yang sangat besar.
Mengetahui kalau Miya sedang melindungi Para Penduduk, Chika mulai merasa sangat senang dengan keberanian Miya, namun Chika mulai bertanya-tanya dimana Miya sekarang.
Orang itu menjawab Gadis itu muntah Darah dan jatuh pingsan, setelah menolong Para Penduduk dengan membuat Pelindung Api yang sangat besar, mengetahui hal itu Chika mulai menyuruh orang itu untuk lebih cepat berjalannya, kali ini Chika dan Aku mulai berlari melewati lorong Rumah perawatan, dengan dipandu oleh Satu orang Penduduk.
Bisa juga dibilang Rumah sakit, terlihat sangat jelas kalau nafasnya sedang terengah-engah, karena Dia sedang mengendong Hariyati yang tidak sadarkan Diri. Setelah sampai diruangan dimana Miya dirawat, Chika menaruh Tubuh Hariyati ke tempat tidur untuk dirawat.
Sedangkan Aku masih mengendong Tubuh Niken yang sedang pura-pura pingsan, namun tidak lama Niken mulai memeluk bahuku dengan sangat erat, kali ini Dia mengucapkan Terimakasih sudah mau mengendong Dirinya.
"Hei Niken jadi Kamu sengaja pingsan supaya bisa digendong Bagus ya" ucap Chika sambil marah-marah.
"Aku tadi memang pingsan. Ketika Aku tersadar Bagus mengendongku turun melewati anak tangga, jadi Aku menikmatinya terus Aku pura-pura tidur hehehehe...." Jawab Niken sambil tertawa Kecil.
"Dasar Kamu itu bisa saja, lihatlah Kedua Teman Kita pingsan" ucap Chika sangat uring-uringan.
Niken pun hanya bisa diam setelah melihat kondisi Temannya yang lain, sedangkan Chika sedang mendekati Tubuh Miya yang sedang terluka parah, mulut Miya sedang mengeluarkan Darah segar. Chika pun menyesali perbuatannya telah mengajak orang lain didalam Medan pertempuran.
Di Siang hari matahari bersinar sangat terik, membuat Para binatang berteduh di rindangnya pepohonan yang sangat Hijau, Hutan yang tadinya tandus dan gersang sekarang berubah menjadi Hutan yang Hijau.
Hutan yang banyak ditumbuhi berbagai jenis Tanaman, banyak rerumputan dan jamur yang tumbuh, serta banyak juga hewan-hewan yang sedang berlalu-lalang untuk mencari makan, sementara didalam hutan itu muncul sesosok anak Kecil, yang tidak lain Dia bernama Putri.
__ADS_1
Kelihatanya Dia baru menikmati pemandangan yang sangat Indah, Dia pun berpikir tadinya Hutan ini tandus dan gersang, tetapi kenapa sekarang hutan ini terlihat tampak Hijau dan segar, mungkinkah ini perbuatan Ayah ucap Putri dengan sendirinya.
Dia memandang area sekitar dan mulai merubah ke bentuk Tubuh awalnya, seorang anak Kecil menjadi Gadis dewasa yang terlihat sangat sexsi, serta sangat Cantik seperti bidadari, rambut berwarna Merah menyala panjang seperti rambut bidadari.
pandangan Putri mulai terfokus disuatu tempat yang sangat jauh, namun tidak lama Putri menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Sedangkan pemandangan di Desa terlihat porak poranda, bebatuan yang sangat Kecil maupun yang besar, telah menimpa banyak Rumah Para Penduduk, Sehingga banyak rumah yang hancur, kali ini suasana yang sangat hening terlihat jelas ditempat perawatan.
Dokter yang sedang merawat Miya mengatakan, sesuatu yang membuat Chika down, kalau Tubuh Miya sedang terluka dalam, dan banyak organ dalamnya yang terluka, mendengar kata-kata dokter yang merawat Miya, Chika terlihat sangat shock dan mulai merasa bersalah.
Dokter itu mengatakan kalau umur Miya tidak akan lama lagi, karena obat yang diberikan tidak bisa masuk ke dalam Mulutnya, dan obat itu selalu keluar beserta Darah segar, mendengar Miya sudah tidak bisa tertolong lagi, Chika mulai menyesal dan hanya bisa duduk termenung seorang Diri.
Dia menyesali Semua perbuatannya karena mengajak Miya untuk ikut, Aku mulai menghampiri Chika dan menenangkan hatinya.
"Sudahlah Kamu jangan menyesali Semua yang sudah terjadi, bila tidak ada Miya Para Penduduk banyak yang meninggal Dunia, mungkin itu sudah keputusannya untuk menolong Para Penduduk, dibandingkan melarikan Diri itulah yang di inginkan oleh Miya, mungkin Dia rela mengorbankan nyawanya sendiri demi orang lain" ucapku berharap Chika tidak sedih lagi.
Aku mendekati Tubuh Miya yang terbaring lemas diatas tempat tidur, kali ini Aku mulai menghirup Udara dalam-dalam, setelah itu Aku meminum obat dengan sangat tenang didalam mulutku.
Warga Desa terlihat sangat binggung dibuatnya, sedangkan Chika hanya bisa menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Dokter itu merasa sangat kaget. Kenapa Dia yang meminum obatnya, harusnya Gadis itu yang diberi obat bukannya diminum sendiri, namun dokter itu menjadi kaget setelah Aku memasukan obat lewat Mulut ke Mulut.
Ketika Aku mengetahui obat itu akan terdorong keluar, Aku pun meniup kembali dengan sekuat tenaga, namun obat itu terdorong lagi keluar. Karena tidak mengenal lelah Aku pun tidak ingin menyerah, Sehingga obat itu bisa masuk kedalam Tubuhnya walau membutuhkan Waktu 15 menit.
__ADS_1
Akan tetapi Aku tidak sadar kalau sudah mencium Miya selama itu, setelah waktu berselang beberapa saat Tubuh Miya mulai bercahaya, Tubuh kecil itu mulai terangkat dengan sendirinya.
Tidak lama Cahaya itu membungkus Tubuh Miya seutuhnya, Chika dan Niken yang melihat kejadian itu mengatakan, akan terlahir pengawal baru pengawal Elemen Api, Cahaya itu sangat menyilaukan mata, namun tidak lama Cahaya itu pun menghilang.
Setelah itu Tubuh Miya telah berubah penampilannya, Dia mengenakan baju yang sangat cantik seperti yang lainnya, namun Miya masih tertidur karena Semua energinya telah terkuras habis.
Ketika dokter memeriksa Tubuhnya Dia pun berkata, Tubuh Gadis ini sudah sembuh total. Tinggal menunggu Dia siuman, setelah berkata dokter itu menghampiri Hariyati yang sedang terbaring lemas ditempat tidur.
Kali ini dokter itu mulai memeriksa nadi dan matanya, tidak lama dokter itu pun mengeleng-gelengkan Kepalanya, dengan rasa ingin tahu. Aku mulai bertanya kenapa Hariyati bisa menjadi seperti ini kepada dokter.
"Detak jantung Gadis ini telah berhenti dan untuk jiwanya hilang entah ke mana" kata dokter sambil menghela nafas panjang.
Mendengar kata-katanya, Aku pun merasa shock dan terjatuh lemas, tetapi secara tidak disengaja. Dokter itu melihat jiwa Gadis itu terkurung di dalam Tubuhku, tetapi Aku tidak mengerti kenapa Semua itu bisa terjadi.
Ketika dokter melihat dari dekat, Dia melihat Gadis itu terperangkap diruangan yang sangat gelap. Serta tidak ada Cahaya yang bisa menerangi tempat itu.
Mungkinkah ini perbuatan Sugiyono yang dengan seenaknya mengambil jiwa Hariyati, namun tidak hanya Hariyati. Mungkin juga Satria Naga juga telah Dia kurung, dengan sangat tenang Aku mulai berbicara dengan Sugiyono.
"Sugiyono apa Semua ini ulahmu, jawab Aku.......kenapa Kamu hanya diam saja" tanyaku kepadanya.
"Bagus Kamu berbicara dengan siapa???" Tanya Chika dengan sangat penasaran.
"Aku sedang berbicara kepada Diriku yang lainnya, karena Dia sudah seenaknya sendiri, kali ini Dia membuat Aku menjadi sangat Marah.
__ADS_1
"Coba Kamu tebak sendiri, Kamu kan bisa melihatnya" jawab Sugiyono dengan entengnya.
Aku sangat Marah dan juga bingung, namun Chika menyuruhku untuk tetap tenang dan harus berkonsentrasi, dengan begitu Hariyati mungkin bisa dicari, mendengar kata-kata Chika Aku pun sudah merasa tenang.