
Pertempuran mereka masih terus berlanjut Andik menaikan kekuatan ke level sempurna miliknya Tubuhnya dilindungi oleh pelindung yang terbuat dari Tanah, serta Dia menciptakan dua Golem yang sangat besar dan tinggi.
Niken terlihat cukup tenang dengan prajurit ciptaan lawannya, Dia pun berlari dengan kekuatan penuh dan melancarkan sebuah pukulan kearah Golem, namun serangan Niken tidak berdampak apa-apa untuk lawannya.
"Inilah kekuatanku yang sesunguhnya, kamu tidak akan mampu menghancurkan prajurit Golem milikku hahahaha....." Kata Andik sambil tertawa.
"Apa ini kekuatan hebatmu, aku rasa kekuatanmu sangat jauh dibandingkan dengan kekuatanku" jawab Niken mengingatkan.
"Coba buktikan kalau kamu bisa menghancurkan perajurit Golem ciptaanku, serang Dia perajuritku tunjukan kekuatanmu kepadanya" teriak Andik sangat meremehkan.
Niken melakukan aba-aba untuk menyerang, ketika Tanah di pukul dengan tangan penghancur tiba-tiba bongkahan batu besar dan panjang menerobos dada Golem, dalam hitungan detik tubuh Golem itu hancur berkeping-keping.
Kejadian itu membuat Andik sangat terkejut, ketika tangan penghancur mengenai dada Golem tubuhnya hanya terlempar jauh membentur Tanah, kali ini Niken mulai berpikir dari pada Dia mengunakan kekuatan penuhnya sebaiknya dia menyerang Batu melawan Batu.
Serangan para Golem menghujani Niken dengan sangat kuat, namun Dia berhasil dengan sangat mudah menghindarinya, Dia tersenyum setelah melihat wajah Andik terlihat sangat kesal, Niken sangat cepat sekali padahal lawanya seorang Wanita.
Niken mulai menghilangkan Tangan penghancur dan berkata sambil menghindari serangan para Golem.
"Aku akan mengunakan jurus yang sama sepertimu, tangan Tanah dan Golem super keluarlah" ucap Niken dengan cukup keras.
Tidak lama tangan Niken dibungkus oleh batu berwarna putih, sedangkan milik Andik berwarna hitam, untuk Golemnya milik Niken berwarna putih sedangkan ukuran Golem milik Niken jauh lebih besar dari milik Andik.
Ketika semua Golem saling bertemu mereka semua saling beradu kekuatan, pukulan mereka semua saling bertemu hingga salah satu Golem mereka hancur, Andik sangat terkejut ketika Golem terkuatnya bisa dikalahkan dengan sangat mudah.
"Sebaiknya kamu menyerah saja sebelum aku melukaimu, karena kekuatanku jauh lebih besar dari pada kekuatanku yang sekarang" ucap Niken sambil menjelaskan.
"Apa kekuatanmu lebih besar daripada yang sekarang, kalau benar coba tunjukkan kepadaku" tanya Andik.
__ADS_1
"Baiklah akan tetapi kamu jangan kaget ya, karena aku tidak akan melukai lawan yang sudah mengaku kalah" jawab Niken.
Dia mulai melepas gelang yang Dia pakai dari tangan sampai kaki, kedua gelang di tangan kanan dan kedua gelang di tangan kiri, Andik meremehkan lawanya yang sedang melepas gelang.
Dia sempat berpikir kalau itu gelang sebagai aksesoris yang biasanya digunakan oleh para wanita, namun ketika semua gelang itu dilempar keatas dengan sekuat tenaga, Dia malah mentertawakannya dengan sangat keras, tetapi bagi Niken itu sudah biasa terjadi, namun yang selanjutnya mungkin dia akan melongo.
Ketika semua gelang jatuh ke Tanah terjadilah ledakan yang cukup keras Dhummmmm........, Debu hitam menutupi tempat terjadinya ledakan, setelah semua debu menghilang disana terlihat Tanah sedang berlubang cukup besar dan dalam.
Dia yang melihatnya melongo setelah mengetahui kalau gelang itu bukan gelang biasa, Niken mengeluarkan semua kekuatan miliknya agar lawannya mengerti.
Ketika semua kekuatannya terpancar semua tanah yang Dia pijak menjadi bergetar dan hancur, Niken mulai memukul Tanah yang dipijaknya dengan sekuat tenaga hingga terdengar suara Dhummmmm.......... Tanah yang terkena pukulan menjadi hancur dan berlubang cukup besar.
"Gila kekuatan yang kamu miliki sangatlah hebat sekali dibandingkan dengan kekuatan yang aku miliki" ucap Andik sangat heran.
"Ini hanya LV 1 yang aku gunakan, belum LV 2 yang aku keluarkan" kata Niken.
Tidak berselang lama tangan Andik diangkat keatas, tanda itu ditunjukan kalau dirinya telah mengaku kalah.
Sedangkan pertarungan dipintu kedua Hariyati sedang melawan Rudi, namun lawannya terlihat sangat meremehkan Dia, karena Rudi berpikir kalau semua Wanita itu lemah dalam segi kekuatan.
Hariyati pun tersenyum Dia memasang kuda-kuda untuk mengeluarkan Pisau Cahaya, akan tetapi lawanya malah menyuruh untuk menembakkannya tepat mengenai tubuhnya, dengan senang hati Dia menembakkan tepat kearahnya.
Ketika jurus pisau Cahaya ditembakkan, Tanah yang dilewatinya pun ikut hancur terkena terjangan, Rudi yang terlihat percaya diri pun menghindar, terjangan Pisau Cahaya melesat menerjang dinding hingga terjadilah ledakan yang sangat besar Dhummmmm...........ledakan itu membuat dinding yang diterjangnya hancur hingga berlubang.
Rudi yang melihat keadaan itu mengatakan kepada lawanya untuk tidak menggunakan sebuah pedang.
Hariyati mulai mengerti kalau lawannya lemah terhadap jurus Pisau Cahaya, Dia menghilangkan pedangnya dengan wajah tersenyum, namun Rudi terlihat sangat senang karena lawannya mengerti kelemahannya.
__ADS_1
"Baiklah mari kita lanjutkan pertarungan ini, kita sama-sama tidak mengunakan senjata, jadi jangan sungkan untuk melawanku" kata Rudi.
"Baiklah sepertinya aku akan memenangkan pertarungan ini, jadi kamu harus bersiap-siap untuk menyerah" jawab Hariyati.
Mereka berdua saling bertarung dengan tangan kosong, pukulan dan tendangan mereka lancarkan hingga membuat Tanah disekitarnya bergetar, serangan Hariyati berhasil mengenai perut Rudi, tidak berhenti sampai disana Dia melancarkan tendangan dan pukulan bertubi-tubi tepat mengarah ke tubuhnya.
Dengan satu tendangan memutar tepat mengenai leher Rudi hingga dia terlempar dan terguling-guling diatas Tanah, dengan sangat cepat jurus Pisau Cahaya melesat kearahnya dan mengenai tubuh Rudi, hingga terjadilah ledakan yang sangat besar Dhummmmm..........asap hitam menutupi tempat kejadian.
Hariyati tetap berdiri tegap setelah melancarkan jurus, ketika asap hitam menghilang tertiup Angin disana terlihat tubuh Rudi terkapar diatas Tanah, namun ketika Dia mulai bangkit Rudi pun mengatakan sesuatu.
"Sudah aku bilang kan, kalau menyerang jangan memakai Pedang" teriak Rudi.
"Apa aku terlihat sedang memakai sebuah Pedang" kata Hariyati.
"Iya juga sih........tapi kenapa tanganmu bisa bercahaya seperti sebuah Pedang" tanya Rudi terlihat sangat penasaran.
"Apapun yang aku sentuh bisa menjadi sebuah pedang, bahkan kukuku saja bisa aku jadikan sebuah pedang, apa kamu mau mengaku kalah sebelum aku menggunakan kekuatan penuh milikku" jawab Hariyati mengingatkan.
Setelah beberapa saat berpikir Rudi pun mengakui kekalahannya, kali ini Hariyati berhasil menang dengan sangat mudah, Dia bertarung tanpa harus bersusah payah, namun pertarungan mereka yang lain masih terus berlangsung, pertarungan di pintu ketiga baru saja dimulai.
Pertarungan Yuyun melawan Mat akan berlangsung, kali ini Yuyun mulai memangil Lili untuk ikut bertarung, namun Mat merasa berat sebelah karena dirinya melawan dua orang yang harus Dia kalahkan.
"Tenang saja aku tidak akan ikut bertarung, hanya bonekaku yang akan menghadapimu jadi persiapkan dirimu" kata Yuyun sambil tersenyum.
"Kamu meremehkan aku ya Gadis cantik, baiklah ayo kita mulai pertandingan ini, bila aku kalah kamu boleh menekan tombol itu, tapi bila kamu kalah kamu harus menjadi istriku, apa kamu mengerti Yuyun" jawab Mat sambil mengancam lawannya.
"Siapa takut.....aku terima tantanganmu ayo kita mulai" ucap Yuyun terlihat sangat marah.
__ADS_1
Kali ini Lili maju untuk menyerang Mat dengan kekuatan penuh miliknya, namun bagi lawannya Dia hanyalah sebuah boneka yang bisa dikalahkan dengan sangat mudah.