
Pagi-pagi sekali mereka semua harus bergegas melewati hutan kematian.
Linda berpamitan kepada paduka ratu peri untuk memandu, dengan izinnya pintu gerbang yang tidak terlihat mata pun terbuka, mereka berempat melangkah menuju gurun kematian.
Perjalanan mereka baru saja di mulai, namun mereka semua tidak mengetahui, kalau mereka sedang di incar oleh para monster yang siap mengambil kekuatan Satria Naga Legendaris, perjalanan jauh siap untuk mereka tempuh dengan berjalan kaki, hutan kematian yang sangat gelap dan lembab pun berhasil di lewati dengan sangat cepat.
Ketika hari menjelang sore Chika merasa kelelahan, namun Linda melihat sebuah Kota terpencil yang dikelilinggi oleh danau yang sangat lebar, sedangkan Chika meminta untuk beristirahat sejenak untuk melepas lelah, cuaca di sore hari semakin dingin menusuk tulang dan lelah sedang mengusik mereka semua, setelah mereka semua beristirahat sejenak, akhirnya mereka semua melanjutkan perjalanan menuju ke Kota yang dikelilinggi sungai yang cukup lebar.
"Wah......indahnya pemandangan di desa ini, rasanya aku ingin mandi dan berendam, Karena aku ingin merasakan segarnya air sungai" kata Chika dengan nada gembira.
"Ini namanya Kota Surga tapi sayangnya di Kota ini tidak ada dokter" jawab Linda sambil memandangi Kota Surga.
"Ayo sebaiknya kita cari tempat untuk beristirahat" jawab Bagus.
"Bagus apa kamu punya uang dari dunia ini???" tanya Chika dengan memasang wajah memelas.
"Aku tidak punya" jawab Bagus dengan santainya.
"Kalian semua tenang saja biar aku yang akan membayar semua makanan dan penginapan" ucap Hariyati.
Setelah mereka semua tiba di Kota keadaan Kota sangat sepi dan tidak ada seorang pun yang sedang keluar dari dalam rumah, penginapan dan toko pun sudah tutup mereka semua pun bingung mau tanya siapa.
Hariyati merasa sangat heran kenapa Kota ini penduduknya kok tidak ada satu pun yang keluar rumah, dia mulai mendekati sebuah rumah yang cukup kecil dan mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban sama sekali walau pintu rumah diketuk, dan masih juga tidak ada jawaban dari pemilik rumah.
Pada akhirnya mereka semua berpencar dan mengetuk semua pintu yang mereka jumpai, namun tak satu pun orang membalas atau membukakan pintu.
Mau tidak mau mereka semua harus bermalam diluar.
"Bagus aku lapar, toko yang ada di Kota ini semuanya tutup sedangkan dari siang aku belum makan sama sekali" tanya Chika sambil memegangi perutnya.
"Kamu tunggu di sini biar aku yang akan menangkap ikan untuk kita makan bersama" jawab Bagus.
Bagus pun membuat kail dari ranting pohon untuk menangkap ikan, setelah satu jam dia merasa jenuh dengan ikan-ikan yang ada di sini, tidak satu pun ikan yang menunjukan dirinya.
Perut chika berbunyi kruuuuuukkkkkkk......kk karena menunggu terlalu lama dan Bagus masih belum mendapatkan ikan seekor pun, Hariyati pun tersenyum manis melihat Bagus dari tadi belum mendapatkan ikan satu pun, saat dia melihat senyumman hariyati yang sangat manis tiba-tiba wajahnya menjadi merah, Chika yang melihat kejadian itu menjadi cemburu.
"Hei kamu jangan tebar pesona begitu, Bagus itu milikku tahu" teriak Chika dengan nada keras.
"Hihiiiii... Chika kamu itu lucu sekali, sudah jangan marah-marah nanti perutmu jadi semakin lapar loh" jawab Hariyati dengan senyuman.
"Sudah-sudah kalian berdua jangan berisik, nanti takutnya tidak ada ikan yang tertangkap oleh mata kailku, sebaiknya kalian berdua duduk dan lihat saja" jawab Bagus dengan nada keras.
"Aku dulu pernah datang ke Kota ini bersama guruku, sungai di Kota ini sangat dalam walau kamu memancing sampai besok tidak akan ada ikan yang tertangkap oleh pancingganmu.
Aku yang akan menangkap ikan dengan pedang baruku" kata Hariyati dengan wajah serius.
Bagus pun menjadi heran dibuatnya, dengan tenang Hariyati melompat jauh ke atas air, namun mereka semua menjadi heran dengan kehebatannya, kedua kakinya mengambang di atas air dan tidak hanyut karena beban tubuh.
Tapi yang membuat mereka bertiga heran adalah sebuah pedang yang di bawa oleh Hariyati ditancapkan ke air sungai dan tidak tengelam.
Mata Hariyati terpejam beberapa saat, tak lama seluruh tubuh dan pedang miliknya mengeluarkan cahaya putih, dia mencari keberadaan ikan dan memancingnya untuk mendekat, dengan perlahan pedang yang tertancap di sungai di pegang oleh hariyati, namun tak lama pedang itu memancarkan sinar di dalam air.
Tidak lama kemudian air itu menyembur ke atas langit dan terjadi hujan air yang disertai oleh ikan yang sangat banyak, mereka bertiga kaget melihat Hariyati bisa menangkap ikan dengan sangat mudah dan banyak sekali, sebagian ikan yang ada di darat mereka kembalikan ke air sungai, sedang Linda memasukan banyak ikan ke dalam tas yang dia bawa.
Mereka semua mulai membuat api unggun untuk membakar ikan yang telah berhasil di tangkap, kelelahan yang amat sangat menyerang Chika, malam semakin larut mereka semua tertidur dengan pulas di pingir sungai.
Saat malam menjelang Hariyati terbangun dari tidur namun dia sedang memandanggi sungai yang bercahaya di malam hari, entah apa yang dipikirkan olehnya mata yang terlihat sayup, mungkin dia sedang teringat oleh masa lalunya, namun tak lama Bagus terbangun dan bertanya kepadanya.
"Hariyati kenapa kamu duduk termenung sendiri memandangi sungai, tapi sungai di malam hari sangat indah sekali" tanya Bagus lirih.
"Aku teringat masa kecilku dulu, aku dibesarkan oleh guruku dan aku diajari ilmu pedang di tempat ini, namun di tempat ini pula guruku meninggal, dia dibunuh oleh Monster Ular yang ada di danau ini" jawab Hariyati dengan wajah sedih.
"Maaf kalau aku membuatmu sedih, aku akan membunuh ular itu untukmu" ucap bagus dengan sangat yakin.
"Guruku tidak bisa melawannya karena dia sangat cepat sekali, Kalau boleh tahu kamu dari Kota mana???" tanya Hariyati dengan penuh penasaran.
"Aku dari planet bumi" jawab Bagus dengan wajah kalem.
Bagus tersenyum melihat Hariyati yang sedang bercerita, tak lama mereka bercerita Hariyati merapatkan duduknya di sebelah Bagus.
__ADS_1
Dengan perasaan tenang dia menyandarkan kepalanya di bahu Bagus, tak lama mata Hariyati pun terpejam.
Menjelang pagi hari mereka pun makan ikan yang telah di tangkap kemarin sore dengan sangat lahap, setelah mereka semua makan tiba-tiba ada kegiatan di dalam Kota.
Akhirnya mereka semua sepakat untuk bertanya kepada penduduk tentang Kota ini, namun para penduduk malah diam saja, Bagus malah menjadi bingung dengan para penduduk yang telah menutupi kejadian di Kota ini.
Namun ada seorang anak laki-laki yang mau memberikan petunjuk tentang Kota ini, tapi informasi yang dia berikan tidak cuma-cuma.
Hariyati pun paham dengan maksut anak kecil itu, dia memberikan satu koin emas miliknya namun anak kecil itu meminta lima koin emas, permintaan anak kecil itu pun dituruti olehnya, dia memberi koin emas sebanyak lima koin.
Namun anak kecil itu mengajak dia dan teman-temannya menuju tempat yang sangat sepi dari hiruk pikuk para penduduk.
Setelah mereka sampai ditempat yang sangat sepi anak kecil itu mulai menceritakannya.
"Kenalkan namaku Antok, sebagai informan di Kota ini, katakan apa keperluan kakak di sini mencari harta terpendam milik desa inikan" tanya Antok.
"Kami semua tidak menginginkan harta terpendam milik desa ini, tapi ada yang ingin aku ketahui di Kota ini.
Kenapa para penduduk diam saja kalau ditanya dan kenapa sore hari tidak ada satu orang pun yang keluar dan membukakan pintu untuk kami, padahal kami butuh tempat tinggal untuk tidur" jawab Hariyati dengan wajah serius.
"Kalau masalah itu karena satu sebab.
Aku kira kalian mengincar harta terpendam milik Kota ini, dulu juga banyak orang yang datang kesini mencari harta terpendam dan mereka mati sia-sia di Kota ini, tapi kalian malah tidak tertarik dengan harta terpendam milik Kota ini.
Aku akan cerita kenapa para penduduk bersikap acuh seperti itu kepada kalian, mereka semua takut di bunuh oleh Monster Ular bila berkata kepada Manusia asing, karena Monster Ular takut kalau harta terpendam miliknya di ambil arang lain.
Jadi setiap siang hari sinar matahari berdiri tepat di atas kepala, Monster ular itu akan keluar untuk meminta upeti kepada para penduduk di Kota ini, dia juga memberi perintah kepada semua penduduk agar masuk rumah di sore hari dan tidak boleh membuka pintu untuk seseorang di sore hari.
Dulu ada penduduk yang menolak peraturan yang telah di buat oleh Monster Ular, namun dengan cepat Monster Ular itu menelan penduduk yang tidak setuju dengan peraturan yang telah dia buat, setelah kejadian itu para penduduk menjadi takut dan menurutti semua perintah monster ular" jawab Antok dengan detail.
"Ternyata di Kota ini butuh pertolongan, sedangkan aku hanya mementingkan diriku sendiri.........antok aku akan menolong desa ini" ucap Bagus dengan semangat.
Namun Antok tidak percaya dengan perkataan bagus, tak lama kemudian mereka semua menunggu kedatangan Monster Ular.
Para penduduk mengumpulkan hasil panen dan pendapatan mereka di pingir sungai, setelah harta yang mereka kumpulkan tertata cukup banyak, tak berselang lama danau yang cukup tenang menjadi bergelombang.
"Berhenti......kembalikan harta milik penduduk yang telah kamu ambil" teriak Bagus dengan cukup keras.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu kepadaku, apa kamu sudah bosan hidup anak muda" jawab Monster Ular sedang meremehkan.
"Hei monster jelek kamu belum tahu ya siapa yang kamu hadapi, dia adalah Satria Naga Legendaris yang sudah terlahir kembali" teriak Chika dengan keras.
"Apa kamu bilang dia Satria Naga Legendaris, hahahaha......kamu gadis bodoh yang suka bermimpi di siang hari kalau di lihat kalian semua mungkin terasa enak kalau di makan" jawab monster ular sambil menjulurkan lidahnya yang sangat panjang.
"Hei monster bodoh kamu pikir kami ini makanan buatmu, dasar monster jelek" jawab Chika dengan nada menghina.
"Kau gadis yang sangat menyebalkan sekali, kamu yang pertama akan aku makan terlebih dahulu" jawab monster ular dengan raut wajah marah.
Monster ular menghampiri Chika dengan sangat cepat, namun dia tidak merasa panik karena ada Bagus yang akan melindunginya, saat monster ular membuka mulut lebar-lebar, tiba-tiba sebuah pukulan tepat mengenai kepala sang Monster Ular, pukulan itu membuat monster ular terlempar sangat jauh.
Para penduduk merasa kagum dengan kekuatan Satria Naga Legendaris.
Ketika monster itu bangun tiba-tiba, Hariyati mengayunkan pedang ke arah Monster Ular, namun Monster Ular itu sangat marah kepada bagus yang di sebut-sebut Satria Naga Legendaris, monster ular itu membuka mulut lebar-lebar dan menyerang dengan mulut yang sangat besar, namun kejadian itu tidak membuat Bagus takut, monster ular itu kaget setelah tubuhnya terbelah menjadi dua bagian terkena sabetan pedang milik Hariyati.
"Berani sekali kamu memotong tubuhku, kamu pikir aku akan mati dengan kondisi seperti ini, namamu siapa hai gadis manis???" tanya monster ular dengan sinis.
"Namaku Hariyati.pengawal Satria Naga Legendaris, dengan pedang ini aku akan membunuhmu" jawab Hariyati dengan tegas.
"Oh jadi kalian adalah Satria Naga Legendaris dan pengawalnya, aku dengar kalian telah membunuh Manusia Besi yang sangat bodoh itu kan" tanya monster ular.
"Kenapa temanmu kamu jelek-jelekkan seperti itu" ucap Bagus dengan raut wajah kesal.
"Memangnya dia itu sodaramu hah" jawab Monster Ular dengan sombongnya.
"Hai monster ular ingatkah kamu 10 tahun yang lalu di tempat ini???" tanya Hariyati dengan penuh emosi.
"Seorang ibu dan anak kecil, jadi kamu itu anak kecil yang berhasil selamat dariku" jawab monster ular.
"Iya itu aku dan guruku, sekarang aku akan membunuhmu" jawab Hariyati dengan rasa dendam.
__ADS_1
"Saat aku makan gurumu rasanya sangat enak, ingin sekali aku memakannya sekali lagi.
Tapi sekarang makanan lezat sudah ada di depan mata, sekarang kamu tidak akan aku biarkan lolos, aku akan melahapmu seperti gurumu" teriak Monster Ular dengan lidah menjulur keluar dan disertai air liur.
Hariyati menjadi sangat kesal dan marah mendengar perkataan Monster Ular, pedang samurai panjang pun diayunkan, tak lama pedang itu di tebaskan ke arah Monster Ular, pisau cahay pun melesat dengan sangat cepat, namun dia berhasil menghindar dengan cepat, kejadian itu membuat Hariyati heran.
Kenapa dia berbeda dari yang dulu kecepatannya sudah jauh berbeda dari masa kecilnya, namun Hariyati masih belum menyerah dia mengayunkan dan menebaskan berkali-kali pisau cahaya, namun monster ular berhasil menghindarinya, sayatan pedang yang di keluarkan olehnya membuat batu dan tanah terbelah.
"Kehebatanmu bermain pedang perlu aku waspadai, kalau aku terkena seranganmu aku bisa mati" kata Monster Ular.
"Aku akui kecepatanmu sudah bertambah pesat dibandingkan yang dahulu aku bertemu denganmu" jawab Hariyati.
"Oh jadi kamu kaget dengan kecepatanku yang sekarang, semenjak aku melahap gurumu aku menjadi kuat seperti ini, kekuatanku sekarang sudah jauh berbeda dari yang sebelumnya.
Perlu kamu ketahui kekuatanku bisa bertambah kalau aku berada ditahap ke 2, tapi kekuatanku yang sekarang sudah bisa melahapmu dengan sangat cepat" teriak Monster Ular.
Tubuh monster ular yang terpotong kembali utuh Hariyati tersentak kaget melihatnya, dengan perasaan heran dan terkejut Hariyati berpikir bagai mana bisa Monster Ular bisa kayak cicak, menumbuhkan ekornya dengan cepat sekali.
"Apa kamu heran dengan tubuhku yang sekarang bisa tumbuh seperti ekor cicak, perlu kamu ketahui aku tidak akan bisa mati oleh serangan kalian semua" kata Monster Ular dengan sangat bangga.
"Kamu pikir kamu monster yang memiliki tubuh yang kekal dan tak bisa mati, aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah monster ular" jawab Bagus dengan nada kasar.
"Hahahahahaha walau kamu Satria Naga Legendaris pun tak akan mampu membunuhku bahkan melukai tubuhku" jawab monster ular.
Para penduduk merasa ketakutan mendengar perkataan Monster Ular, dia dengan sangat cepat menuju ke arah Hariyati, namun Hariyati tidak merasa panik dengan kedatangan Monster Ular, pedang panjang di ayunkan dan tak lama pedang itu mengeluarkan sinar putih, tapi Hariyati belum sempat menebaskan pedangnya tiba-tiba dengan cepat monster ular melahapnya.
Bagus dan Chika kaget melihat kejadian itu, namun tak lama muncul sinar panjang yang keluar dari kepala monster ular, cahaya putih itu membelah tubuh monster ular menjadi dua bagian, sehingga monster ular tak bergerak sedikitpun.
Tak lama Hariyati keluar dari kepala monster ular yang sudah mati, tubuhnya belepotan air liur dan darah sang monster.Melihat kejadian itu Chika merasa takut badannya terbelah oleh pedang yang di bawah Hariyati.
"Kamu hebat sekali, tebasan pedangmu sangat tajam" tanya Chika dengan keraguan.
"Ini bukan pedangku tapi pedang pemberian Bagus, jadi pedang ini bukan pedang biasa" jawab Hariyati dengan pelan.
"Ah kamu bisa saja" jawab Bagus dengan rasa malu.
"boleh aku memegang pedangmu, aku hanya ingin memegangnya walau cuma sebentar" pinta chika kepada temannya.
"Boleh saja, kamu boleh memegangnya tapi ingat jangan di lepas dari sarungnya" ucap Hariyati.
"Baik akan aku patuhi perintahmu" jawab Chika dengan rasa senang.
Setelah pedang di serahkan ke Chika monster ular membuka matanya, namun dia hanya melihat saja dari tempatnya, kejadian itu tidak disadari oleh Bagus dan yang lainnya, ketika pedang itu di pegang Chika, ternyata pedang itu terasa sangat berat hingga Chika tidak kuat, kejadian itu dimanfaatkan oleh monster ular.
Ekor monster ular dikibaskan ke arah Chika dengan sangat cepat, hingga Chika terlempar ke dalam sungai yang sangat dalam bersama pedang milik Hariyati, karena pedang itu cukup berat dan menimpa tubuh Chika.
Hingga dia tak bisa lepas dan keluar, malah tubuhnya pun hanyut ke dasar air yang sangat dalam, namun Chika masih berusaha untuk menyingkirkan pedang yang menimpahnya, tapi luka bekas sabetan ekor monster ular membuat dia sulit mengerakan tubuhnya, kesadaran Chika pun mulai menghilang, namun samar-samar ada yang menolongnya tapi siapa dia.
Monster ular menatap Bagus dan mengatakan sesuatu tapi Bagus hanya diam saja mendengarnya, di samping itu luka yang dibuat Hariyati perlahan menyatu dan sembuh seperti semula, dalam hatinya Bagus apa Hariyati berhasil menolong Chika.
"Kalian lihat aku tidak bisa mati bukan, temanmu akan mati dan tinggal menunggu ajalnya saja" bentak monster ular.
Bagus sangat geram setelah mendengar perkataan monster ular, namun tanpa pikir panjang Linda menyerang mata kanan monster ular dengan racun bunga mematikan.
Karena keasikan berbicara Monster Ular tidak dapat menghindar, dengan cepat racun itu menyebar di kelopak matanya, sehingga mata monster ular menjadi buta sebelah, kemarahan monster ular tak dapat terbendung lagi, dia menyerang apa yang dia lihat dengan membabi buta.
Kalau tidak ditangani secara langsung bisa gawat kalau monster itu lari ke arah penduduk pikir Bagus, Monster Ular itu mengamuk membenturkan kepalannya ke bebatuan yang cukup besar sehingga batu besar itu pun hancur.
Hariyati berenang dengan membawa Chika yang sedang terluka, yang tidak sadarkan diri untuk naik ke darat, tetapi Hariyati membiarkan pedangnya jatuh tengelam ke dasar sungai yang cukup dalam, tak lama sebuah cahaya terlihat hingga akhirnya mereka berdua muncul di permukaan air, setelah membaringkan Chika di pinggir sungai, Hariyati menolongnya dengan cara memberi napas buatan, dia menekan dadanya berulang kali.
Namun tak lama Chika mengeluarkan air yang dia telan, tapi kondisinya terlihat pucat.
Dadanya memar cukup besar, disamping itu Chika juga terkena racun monster ular.
"Chika bangun.......sadarlah, kamu pasti bisa mendengar suarakukan, kalau kamu mendengarnya coba jawab perkataanku??" teriak Hariyati menyadarkan temanya.
"Aku mendengarmu, tapi seluruh badanku kedinginan dan terasa kaku sekali, tolong aku.....aku masih ingin hidup aku juga tidak ingin mati seperti ini" jawab Chika dengan raut wajah sedih.
"Dari dulu sampai sekarang racun jenis ini tidak ada penawarnya, kejadian ini sama seperti guruku dulu (( dalam hitungan 1 jam maka Chika akan mati )) mungkin Satria Naga Legendaris bisa menyembuhkan racun yang telah menjalar di tubuh Chika" pikir Hariyati dalam hati.
__ADS_1