
Kali ini aku mulai memejamkan mataku dan fokus untuk melihat area sekitar, Aku hanya melihat area sekitarku yang berwarna Hitam yang sangat gelap dan tidak ada Cahaya sedikitpun.
Sementara ditempat Hariyati berada, disana hanya ada Kegelapan yang terbentang sangat luas. Di tempat yang sangat gelap Dia berjalan seorang Diri, saat Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, disana tidak ada Cahaya ataupun seseorang.
Dia menggunakan Bola Cahaya untuk menerangi jalannya, namun Bola Cahaya itu mulai lenyap begitu saja. Seperti terserap oleh sesuatu, kali ini Tubuhnya merasakan kedinginan yang teramat sangat dan hampir pingsan.
Tiba-tiba Dia mendengar Suaraku sedang memanggil-manggil namanya dengan sangat keras, Sehingga Hariyati menjawab Aku disini tolong Aku, ketika Aku mendengar Suaranya. Aku mulai bergegas untuk terus maju, serta mencari dimana asal Suara itu berasal.
Tidak lama Aku pun menemukan Hariyati yang sedang berjalan terhuyung-huyung, ketika Aku memegang Tubuh Hariyati, Aku mulai merasakan Tubuhnya yang sangat dingin seperti Es, dengan cepat Aku mulai memangil Chika dan Niken untuk masuk kedalam Tubuhku.
Kali ini Mereka Berdua harus menempelkan dadanya ketubuhku, Niken yang mendengar kata-kataku merasa sangat malu namun tidak untuk Chika, Dia dengan sangat cepat menempelkan Tangan kanannya ke dadaku, tidak lama Chika pun jatuh pingsan disebelahku.
Niken agak ragu namun Dia sudah bertekad untuk terus berguna disisiku, dengan Perlahan-lahan Niken juga menempelkan Kedua telapak Tangannya, Sehingga Niken pun ikut pingsan menindih Tubuhku.
Dokter dan Kepala Desa hanya bisa diam dan melihat, apa Mereka Bertiga bisa membawa pulang jiwa Temannya. Chika pada akhirnya muncul dihadapanku, namun Dia menjadi bingung karena disekelilingnya terlihat sangat gelap.
Tidak lama Niken pun ikut menyusulnya, namun kali ini kemunculan Niken membuat Tubuhku merasa sangat hangat dan bercahaya, Tiba-tiba Cahaya itu diserap oleh Tubuh Hariyati, seketika itu Tubuhnya mulai berangsur-angsur membaik.
Disisi kananku terlihat ada Cahaya redup, sebelum Cahaya itu menghilang Aku dan Mereka bertiga mulai bergegas, Kami Semua menghampiri Cahaya yang muncul, Kedua kaki Kami berlari dengan sekuat tenaga menuju Cahaya redup, lama-kelamaan Cahaya itu menjadi sangat terang.
Dihadapanku terlihat Satria Naga, Tubuhnya dirantai oleh seseorang yang bernama Sugiyono, Dia berdiri tegap disampingnya Naga.
Hariyati, Chika dan Niken merasa sangat bingung, setelah melihatku ada Dua, namun Diriku yang ada didepan berbeda penampilannya.
"Cepat Kamu lepaskan Satria Naga dari rantaimu" ucapku sambil menyuruhnya.
__ADS_1
"Coba saja........bagaimana kalau Kamu yang melepaskan sendiri, tapi itupun kalau Kamu bisa" jawab Sugiyono sambil meremehkan.
"Kenapa Kamu melakukan itu kepada Temanku" tanyaku dengan sangat penasaran.
"Karena Aku tidak suka melihat orang lemah se'enaknya sendiri disini" ucap Sugiyono meremehkan.
"Aku juga orang lemah bahkan Satria Naga jauh lebih kuat dibandingkan denganku" kataku sambil membedakan.
"Kamu salah dengan apa yang telah Kamu ucapkan, Aku dan Kamu itu sama. Cuma Kita yang berbeda sifat, Dua jiwa satu wadah" jawab Sugiyono menjelaskan.
Mendengar kata-kata itu Aku hanya bisa terdiam. Sementara diruangan perawatan Miya mulai sadar, Dia pun membuka matanya, saat Dia terbangun Kepalanya terasa pusing sekali, namun Dia mulai berdiam Diri sejenak.
Ketika Danu dan Sri sadar kalau Gadis yang menyelamatkan Desanya telah siuman, Kedua anak Kecil itu menghampirinya dan memperkenalkan Dirinya.
"Kakak perkenalkan Namaku Danu dan Dia adikku namanya Sri, Kakak Miya sangat hebat dan kuat sekali, Aku pun juga ingin kuat seperti Kakak Miya" ucap Danu terlihat sangat senang sekali.
"Kakak Miya bolehkah Aku bertanya sesuatu yang sangat penting" ucap Sri sambil tersenyum.
Akan tetapi Miya hanya menganggukan Kepalanya sambil tersenyum, kali ini Kedua Anak itu seperti kehilangan semangat untuk berbicara, karena orang yang sangat dikaguminya hanya tersenyum dan menganggukkan Kepalanya saja.
Setelah sadar kalau Kedua Anak itu langsung terdiam, Miya mulai menghela nafas panjang, Dia mulai membalas pertanyaan Kedua Anak itu.
"Namaku Miya dengan senang hati Aku akan menjawab semua pertanyaanmu" kata Miya dengan sangat senang.
Ketika Dia tersadar. Kalau Dia sudah bisa berbicara kembali, Miya pun merasa sangat senang sekali, dari kecil Dia kehilangan Suaranya, karena Kedua orang Tuanya telah dibunuh oleh Para penjahat, dan Dia pun dijual sebagai Budak.
__ADS_1
Hidupnya yang sangat sulit sudah di lalui dengan rasa pahit, berkat Kedua orang yang bernama Rio dan Rina yang telah membelinya, Mereka Berdua mulai merawatnya seperti keluarganya, Sehingga Dia Tumbuh besar sampai sekarang.
"Kakak Miya kelihatanya sangat senang sekali ya" kata Danu merasa sangat heran.
"Aku sangat senang karena dari Kecil Aku tidak bisa berbicara, dulu kata dokter pita Suaraku telah putus karena suatu sebab" jawab Miya sambil tersenyum kecil.
"Kakak Miya........ Kami Berdua minta maaf, karena Kami Berdua tidak tahu kalau Kakak tidak bisa bicara" ucap Mereka Berdua sambil menundukkan Kepalanya.
"Tidak apa-apa kok, Kakak tidak Marah sama Kalian Berdua, nah sekarang coba katakan apa yang ingin Kalian Berdua tanyakan" kata Miya.
"Kakak Miya tahu Pemuda yang terbaring disana, serta disamping dan diatasnya ada Dua Gadis. Tadi Kakak itu memberikan obat lewat Mulutnya, Dia berusaha keras untuk memasukan obat, Sehingga obatnya bisa masuk selama 15 menit entah apa yang dipikirkan Kakak itu" ucap Sri menjelaskan.
Setelah mendengar kata-katanya, Miya pun menjadi sangat malu sekali, serta Kedua pipinya pun menjadi Merah, Ciuman pertama miliknya telah diambil oleh orang yang paling Dia cintai.
Kali ini perasaan Miya bercampur antara percaya dan tidak percaya, dokter mulai mendekatinya dan mengatakan yang sebenarnya, namun Wajahnya malah semakin Memerah, Sehingga Dia tertidur rebahan diatas tempat tidur, kali ini Miya mulai tersenyum-senyum sendiri.
Saat mengetahui kalau Kakak Miya menjadi sangat aneh, Sri pun mengatakan apa Pemuda itu suaminya Kakak Miya ya, ketika mendengar ucapannya Sri, Miya pun menjadi semakin malu dan bercampur senang.
"Tidak-tidak Kami Berdua adalah Teman, tetapi Aku sangat menyukainya dan Aku ingin sekali menikah denganya" kata Miya sambil tersenyum manis.
"Kakak Miya Kamu Aku dukung biar bisa menikah dengan Kakak itu" jawab Sri dengan sangat senang.
Sambil tersenyum lebar Sri memberi semangat kepada Miya, ketika Dia bangun dari tempat tidur. Miya merasakan kalau Tubuhnya merasa sangat ringan, Dia juga kaget setelah melihat bajunya sudah berganti, serta didalam Tubuhnya meluap-luap kekuatan yang sangat besar.
Miya berjalan perlahan-lahan mendekatiku dan yang lainnya. Satu persatu Tubuh Niken dan Chika ditidurkan disebelahku, dengan sangat tenang Miya mulai naik ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Dia perlahan-lahan mendudukki perutku, dengan perlahan Miya mulai mencium mulutku dengan penuh perasaan, namun tidak berselang lama Tubuh Miya pun menghilang seperti ditelan oleh Dunia.
Kepala Desa dan yang lainya merasa sangat kaget dengan kejadian itu, sedangkan untuk Sri dan Danu hanya bisa melongo, setelah melihat orang yang Mereka Kagumi menghilang.