
"Terima kasih kalau tidak aku sudah mati terkena jurusnya" ucap Hariyati dengan rasa senang.
Bagus menghampiri Hariyati sambil tersenyum, namun wajah Hariyati menjadi sangat merah karena penampilan Bagus menjadi lain, pedang yang putus di ambil dan di pegang Bagus dengan tangan kanan, setelah kedua tangannya mengengam gagang pedang yang putus menjadi dua.
Tiba-tiba pedang itu utuh kembali menjadi samurai panjang, Hariyati pun terkejut dengan samurai panjang miliknya bisa kembali seperti semula.
Saat dia memandangi pedang barunya tiba-tiba Bagus mencium mulut Hariyati dengan sangat lembut, Chika yang sedang melihat kejadian itu menjadi cemburu dan marah-marah.
Namun Hariyati sangat menikmati ciuman lembut yang dilakukan oleh Bagus, tapi tak lama wajahnya menjadi merah seperti buah yang matang dari pohonya, tidak berselang lama tubuh Hariyati mengeluarkan cahaya putih yang sangat menyilaukan mata.
Bagus pun tersenyum melihat kejadian itu, wajah Manusia Besi malah meremehkan kejadian itu dan menyerang dia dengan kekuatan penuh, serangan Manusia Besi berhasil dihindari dengan begitu cepat, kejadian itu membuat manusia Besi menjadi kaget dengan kecepatan anak manusia yang tidak normal.
Mata lawanya yang melotot saat melihat Bagus sudah berada di belakangnya dan menyerangnya dengan satu pukulan ringan, pukulan itu tepat mengenai dada manusia besi hingga peyot, dia pun menjadi sangat kaget kenapa pukulan anak manusia bisa melukai tubuhnya.
Ketakutan yang luar biasa sedang dialami oleh Manusia Besi, satu pukulan dilancarkan tepat mengenai wajahnya hingga tubuh Manusia Besi terlempar dengan sangat cepat membentur batu hingga keluar bunyi DUUUUMMMMM yang sangat keras.
Batu-batu berserakan dan berterbangan ke sana dan ke mari sehingga mengeluarkan debu yang sangat banyak, cahaya putih yang menyilaukan sedang menyelimuti tubuh Hariyati lama-lama meredup.
Hembusan angin bertiup sangat kencang keluar dari tubuhnya, di sana terlihat tubuh Hariyati yang sedang memakai pakaian yang sangat berbeda.
Baju dan celana berwarna kuning ketat, di kakinya ada hiasan seperti kelopak bunga, sedang di depan dadanya terlihat jelas bola pengawal berwarna merah, kali ini penampilannya sangat memukau, serta tubuhnya mengeluarkan kekuatan yang sangat hebat, hari ini dia sangat jauh berbeda di banding awal mereka bertemu.
Hariyati mulai bangkit dan dia sangat kagum dengan pakaian dan pedang samurai yang diberikan oleh Bagus, kekuatan Hariyati meluap-luap hingga membuat Linda terkejut.
Ciuman dari satria naga legendaris bisa membuat Manusia menjadi sangat kuat, Chika membayangkan kalau yang di cium bukan Hariyati melainkan dirinya, saat terbayang wajahnya berubah menjadi merah, tetapi Chika lebih kaget saat melihat Linda berada di sampingnya dengan perasaan heran.
"Chika ada apa dengan wajah kamu ??? apa kamu sakit....soalnya wajah kamu menjadi merah" tanya linda dengan penuh penasaran.
"Ah tidak ada apa-apa kok, aku sehat-sehat saja kamu jangan khawatir ( sialan wanita itu sudah berani mengambil ciuman bagus )" jawab chika dengan wajah cengar-cengir.
"Chika kamu tidak apa-apa ???" tanya Bagus.
"Aku tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja jangan khawatir" jawab Chika dengan gugup.
"Hariyati sekarang giliranmu menebas tubuh manusia besi dengan pedang samurai milikmu" ucap Bagus dengan pelan.
"Aku tadi sudah memotong dengan pedangku tapi tubuhnya hanya tergores walau cuma sedikit, malahan pedangku dipatahkan menjadi dua" jawab Hariyati dengan kata-kata kalem.
Bagus hanya tersenyum melihat sikap Hariyati yang menjelaskan kejadian yang telah dia alami, setelah melihat senyuman Bagus dia menjadi yakin dengan pedang dan kekuatan baru miliknya.
Tak lama Manusia Besi keluar dari bebatuan yang menimbun dirinya, badan yang reyot terlihat jelas di kepala dan dada manusia besi, dia heran kenapa tubuhnya yang tidak bisa di lukai oleh benda apapun, sekarang malah terluka dengan sebuah pukulan dari anak manusia.
Hariyati pun mulai berlari dengan cepat ke arah manusia besi dan menghujani sebuah tendangan, namun tendangan itu berhasil di tangkis karena kekuatan Hariyati sangat besar, tangan lawanya menjadi bengkok terkena tendangannya, dengan cepat manusia besi mundur dan menyerang dengan jurus cahaya lava.
Sebuah pedang panjang di ayunkan keatas namun tak lama terbentuklah cahaya putih tepat di mata pedang, tak berapa lama pedang panjang di ayunkan ke bawah dan cahaya panjang yang keluar dari pedang berhasil memotong cahaya lava.
Kejadian itu membuat manusia besi kaget namun tak lama tubuhnya juga ikut terpotong menjadi dua bagian.
"Kenapa Perempuan itu bisa memotong tubuhku seperti ini, kenapa aku bisa dikalahkan dengan sangat mudah" teriak manusia besi dengan suara yang sangat keras.
Kekuatan Hariyati meningkat dengan dratis, kematian Manusia Besi membuat Chika semakin yakin kalau dirinya bisa menjadi kuat dan hebat seperti dia.
Perlahan cahaya merah keluar dari tubuhnya dan menyelimuti tubuh manusia besi, namun perlahan-lahan cahaya itu terbang ke langit, Linda sangat kagum dengan keindahan cahaya merah yang keluar dari tubuh manusia besi.
Diam-diam Chika menghampiri Bagus dan mengatakan sesuatu tentang janji yang pernah di ucapkan oleh Bagus.
"Ada apa Chika ???
kamu pasti heran dengan penampilanku yang sekarang, pasti aku terlihat jelek ya" ucap Bagus dengan kepala menunduk ke bawah.
"Tidak kok siapa bilang kamu jelek !!kamu itu cakep sekali tahu, namun bukan itu mauku" jawab Chika dengar rasa malu.
"………………………???????" Bagus hanya berpikir karena penasaran.
"Kamukan sudah berjanji padaku, kalau kita jatuh pada waktu menyebrang kamu mau menuruti satu permintaanku" tanya Chika mengingatkan.
"Iya sih.....kalau kita jatuh aku akan menuruti semua permintaanmu tanpa ada tolakan, tapi kita jatuhkan karena diserang oleh para monster, bukan karena badai angin" jawab Bagus dengan tegas.
"Pokoknya kitakan jatuh, walau tidak secara sengaja atau tidak sengaja, jadi ingat janjimu ya ingat itu Bagus!!!" jawab Chika dengan ketus.
"Iya aku mengerti, karena aku sudah berjanji maka akan aku tepati, katakan permintaanmu chika" jawab Bagus dengan nada pasrah.
__ADS_1
"Aku mau setelah kita dewasa, kamu harus menjadi suamiku dan itu harus dan mutlak" jawab Chika dengan raut wajah sedikit malu.
"Heeehhhhhh......yang benar saja kita kan masih sekolah, mana boleh anak sekolah menikah" jawab Bagus dengan wajah kaget.
"Kenapa tidak boleh, kita pacaran dulu kalau kita berdua sudah dewasa kita berdua akan menikah" ucap Chika.
Bagus cuma bisa menghela napas panjang mendengar perkataan Chika, namun apa boleh buat akhirnya dia menyetujuinya tapi mata Bagus sedang tertuju kepada Hariyati yang sedang tersenyum kepadanya.
Chika memeganggi tangan Bagus dan tidak mau melepasnya, kelakuan Chika membuatnya merasa bingung, kenapa tadi aku berjanji segala pikir Bagus dalam hati.
"Selamat datang Satria Naga Legendaris.
Aku sebagai ratu peri akan memandu perjalanan kalian" sambut Linda dengan wajah berseri-seri.
"Putri peri Linda pangil aku Bagus, jangan pangil aku Satria Naga Legendaris, mulai hari aku akan melindungi kalian semua" ucap Bagus dengan semangat.
"Harusnya aku yang melindungimu tuanku" jawab Hariyati dengan yakin.
"Bagus pangil saja namaku Linda" ucap Linda dengan sopan.
"Baiklah Linda, untuk Hariyati jangan panggil aku tuan, pangil aku Bagus" ucap Bagus memberi perintah.
"Kenapa aku tidak di ajak berbicara, hari ini aku di cuekin" tanya Chika dengan memasang wajah kesal.
"Chika maaf ya aku tidak bisa tinggal diam di sini, aku ingin menyelamatkan di mensi cahaya dan segera kembali ke Bumi" jawab Bagus dengan tatapan tajam.
Hariyati merasa penasaran dengan dunia yang di tinggali oleh Bagus, karena misi untuk mendapatkan kekuatan Satria Naga Legendaris telah di dapat, Linda mengajak mereka bertiga untuk menemui paduka ratu peri.
Di hadapan paduka ratu peri mereka bertiga memberi hormat, tak lama kepala Desa menyarankan mereka bertiga untuk ikut pesta penyambutan satria naga legendaris.
Pesta yang meriah berlangsung sangat ramai, mereka di sugui buah dan sayur serta sup khas negeri peri.
Namun di sana Chika terlihat sangat murung sekali, Linda yang merasa penasaran mulai mendekatinya dan menanyakan langsung.
"Chika kenapa kamu terlihat sangat murung" tanya Linda dengan suara pelan.
"Aku seperti ini karena seseorang yang membuatku malas saja" jawab Chika dengan tubuh menunduk lemas.
"Bolehkah aku mendengarkan ceritamu, siapa tahu aku bisa membantumu" tanya Linda dengan penuh penasaran.
Linda yang mendengar kata-kata Chika langsung terdiam, dia hanya menghela nafas panjang dan melihat bintang bersinar di langit.
Seandainya dunia ini terbebas dari monster yang sangat jahat dan kejam, Linda sedang berpikir tentang Dimensi Cahaya yang damai.
Mereka semua tampak riang gembira setelah bangkitnya penjaga gerbang satria naga legendaris, Dimensi Cahaya yang damai sekarang berubah mencekam karena kemunculan para Monster yang ingin menguasai dunia ini.
Ketika hari menjelang sore pesta pun sudah berakhir, paduka ratu peri memangil Bagus dan temannya untuk menghadap.
Mereka bertiga pun memberi hormat namun paduka ratu peri hanya menghela nafas panjang.
"Kalian bertiga jangan terlalu formal, anggap saja aku seperti teman kalian" ucap paduka ratu peri dengan senyuman.
"Maaf tidak boleh begitu paduka ratu, kami sebagai pelindung dimensi cahaya harus menghormati anda sebagai ratu keseimbangan dunia ini" jawab hariyati sedang mengingatkan.
"Hari ini aku telah membuat keputusan yang tidak bisa dirubah oleh siapa pun, anggap aku seperti teman kalian" jawab paduka ratu peri memberi perintah.
"Baik paduka ratu aku mengerti" jawab Hariyati dengan sangat hormat.
"Ratu memanggil kami bertiga apa ada yang ingin di sampaikan" tanya Bagus sangat penasaran.
"Ini tentang para Monster yang ingin membunuh kalian para penyelamat Dimensi Cahaya, kalian satyria Naga Legendaris dan pengawalnya akan menghadapi rintangan yang sangat sulit, perlu kalian ketahui pengawal satria naga ada lima orang gadis, itu yang aku ketahui di tulisan batu kuno.
Hariyati kamu adalah elemen cahaya sedang kurang empat lagi, elemen kegelapan, elemen tanah, elemen api dan elemen tumbuhan, Kedua Monster yang ingin membunuh kalian itu bawahan Raja Monster Maikel, mereka sangatlah kuat jadi kalian semua harus berhati-hati bila berhadapan dengan mereka.
Kalian harus membunuh Raja Monster Maikel karena dia ingin menguasai dan menghancurkan siapa saja yang menentangnya.
Sedangkan markas mereka berada di gurun kematian.
Apa kalian masih ingat dengan dua monster yang menyerang kalian berdua di dunia kalian" jawab paduka ratu peri.
"Apa monster itu utusan dari raja monster maikel" tanya Chika dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Iya mereka utusan dari Raja Monster Maikel, karena mereka tahu kalau penyelamat Dimensi Cahaya akan datang kemari, jadi sebelum itu terjadi mereka menyuruh anak buahnya datang ke dunia kalian dengan bantuan alat pembuka gerbang dimensi" jawab paduka ratu peri.
"Kalau boleh tahu Linda juga telah mengunakan alat itu dan sekarang alat itu telah rusak, yang ingin aku tanyakan siapa yang membuat alat itu???" tanya Bagus dengan rasa ingin tahu.
"Alat itu di buat oleh seorang gadis yang sangat jenius, gadis itu seumuran kalian namanya Niken dia berasal dari Kota palam, arah Kota itu dari tempat ini sangat jauh, tempat itu bisa di tempuh dalam satu minggu perjalanan" ucap paduka ratu peri dengan pelan.
"Pagi-pagi kita semua harus berangkat dari sini melewati hutan kematian, karena kalau sore hari hutan itu sangat menakutkan" ucap Linda dengan raut wajah yang ketakutan.
"Memang benar hutan kematian itu akan menyesatkan orang yang melewatinya, itu bila sore dan malam hari, tapi kalau pagi sampai siang orang yang melawatinya akan berhasil keluar dengan selamat" jawab Hariyati dengan pasti.
"Itu pasti hanya sekedar dongeng" tanya Chika tidak percaya.
"Chika kamu salah, hutan kematian itu sangat menyesatkan karena hutan itu di jaga oleh dua monster bunglon, mereka aktif pada malam hari sedangkan pagi hari mereka tidur.
Ingat kita tidak boleh mengusik atau mengangunya, kalau monster itu bangun kita tidak akan bisa keluar hidup-hidup" jawab Linda dengan memasang wajah yang sangat serius.
Setelah mendengar perkataan Linda, Chika pun langsung terdiam, sebentar lagi malam Linda menyuruh mereka semua untuk tidur di kamar mereka masing-masing.
Kali ini raut wajah Chika terlihat muram karena tidak bisa tidur di dekat Bagus.
Malam hari di terangi indahnya bintang dan bulan, waktu tengah malam Bagus tidak bisa memejamkan mata, dia beranjak pergi keluar dari kamarnya.
Ketika memandang langit malam dia takjub akan keindahan langit di malam hari.
Negeri peri waktu malam hari juga terlihat sangat indah, dia berjalan menyusuri jalan setapak, dari jauh terdengar suara air yang sedang mengalir, di sana terlihat ada orang yang sedang mandi di malam hari.
Karena penasaran siapa yang mandi di tengah malam, Bagus pun menghampirinya dan memastikannya dengan mata kepalanya sendiri.
Bagus takjub melihat danau yang sangat indah dan di sinari bulan serta cahaya yang sangat gemerlap.
Terlebih lagi dia melihat Hariyati yang sedang mandi di danau sendirian, dia berpikir kenapa dia mandi dengan memakai baju pengawal cahaya, karena penasaran bagus pun menghampirinya.
Langkah kaki Bagus membuat Hariyati menoleh ke arahnya, wajahnya sangat cantik sekali dan terlebih lagi wajahnya terkena air danau yang disinari cahaya bulan.
"Bagus kenapa kamu belum tidur" tanya Hariyati dengan rasa penasaran.
"Aku tidak bisa tidur, boleh aku menemani kamu untuk ngobrol" jawab Bagus sambil malu-malu.
"Boleh saja, lagian aku juga tidak bisa tidur dan waktuku sedang senggang" jawab Hariyati dengan memberi senyuman.
Hariyati keluar dari Air dan mengajaknya untuk duduk di taman dekat sungai untuk berbicara, hati Bagus berdegup cukup kencang dan baru kali ini dia merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, suasana yang sangat tenang mendukung mereka berdua.
"Kalau ada yang perlu di bicarakan bilang saja" tanya Hariyati sambil memandangi indahnya langit.
"Kenapa kamu mandi di tengah malam, dan kenapa bajumu tidak kamu lepas???" tanya Bagus dengan penuh perasaan.
"Badanku gerah setelah latihan jadi aku mandi di sungai, ketika aku mau melepas baju eh tidak tahunya baju ini tidak bisa di lepas" jawab Hariyati dengan raut wajah kecewa.
"Kok bisa boleh aku bantu melepasnya" tanya Bagus sambil malu-malu.
"Ih.....kamu tidak boleh genit, lagian baju ini kalau terkena air tidak akan basah, dan selalu kering tapi badan ini bisa merasakan segarnya air sungai di malam hari" kata Hariyati dengan senyuman manis.
"Maaf.......bukanya aku genit atau semacamnya tapi dari awal aku suka sama kamu, maaf kalau aku mengutarakan isi hatiku" jawab Bagus dengan wajah memerah.
"Kamu mencintai aku ya, makanya kamu tiba-tiba mencium bibirku, tapi waktu itu jantungku juga ikut berdegup kencang" jawab Hariyati dengan nada pelan.
Mereka berdua sedang jatuh cinta namun Hariyati tidak mengerti tentang arti apa itu perasaan cinta, tak lama Hariyati memotong pembicaraan dengan mengalihkan topik tentang dirinya.
Dia dari kecil sudah hidup sendiri di negeri peri dan tidak ada teman atau saudara yang hidup bersamanya.
Hariyati tidak ingat siapa dirinya dan siapa keluarganya, yang dia ingat hanya seorang wanita dewasa yang menyuruhnya untuk menjaga gerbang Dimensi, di mana gerbang itu tempat tertidurnya Satria Naga Legendaris berada.
Wanita itu mengajari Hariyati teknik berpedang dan sebuah jurus pamungkas, untuk menjaga diri ketika di serang oleh Monster.
Waktu sudah menunjukan tengah malam mereka berdua kembali ke kamarnya masing-masing.
Di pagi hari udara di luar sangat dingin membuat badan menggigil dan ingin tidur terus di bawah selimut, diluar terdengar suara kaki sedang menuju ke sebuah kamar, ternyata yang sedang melangkah itu adalah Chika.
Dia sedang mengetuk-ngetuk pintu dengan sangat keras untuk membangunkan dia yang ada di dalam kamar, namun tidak ada tangapan dari Bagus, kebetulan Linda juga sedang menuju kamar Bagus dan ingin membangunkannya.
Tapi Chika mengatakan kalau pintunya di kunci dari dalam, jadi Chika tidak bisa membuka pintunya, hal itu tidak jadi masalah untuk linda.
__ADS_1
Karena dia dengan sangat mudah bisa membuka pintu yang sedang terkunci, dengan sentuhan lembut pintu itu tiba-tiba terbuka, Chika pun berlari membangunkan Bagus agar mereka tidak kesiangan kalau berangkat.
Linda hanya tersenyum setelah Bagus bangun dari tidurnya.