Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 100


__ADS_3

Aku menerima pesan singkat dari Angga Beberapa jam setelah ambulans membawanya ke rumah sakit. Pesan itu yang berbunyi


" Tunggu aku di apartemen saja. jangan kemana - mana. Nanti kalau Mama sudah pulang kamu aku hubungi lagi. Aku akan menjalani operasi '" tulisnya yang membuatku tercengang saat membacanya.


" Apa gerangan cidera yang di alami Angga ???


Kenapa dia tidak pernah bilang kepadaku ???


Apakah aku sudah sungguh sangat keterlaluan selama ini kepadanya ???


Ya Tuhan tolong lindungi suamiku dalam menjalani operasinya kali ini. Aamiin " Do'a ku dalam hati.


Baru kali ini aku sangat mencemaskan Angga.


Entah mengapa, hatiku sangat pilu melihat kondisinya saat ini.


dia terlihat kurusan dan wajahnya terlihat pucat dan lusuh sekali.


Saat memikirkan kejadian yang menimpa Angga aku pun tanpa sadar tertidur sesaat dalam posisi duduk dengan bersandar di pintu kamar Angga.


Entah berapa lama aku tertidur dengan posisi duduk tersebut, hingga ahirnya aku terbangun karena suara telepon pintar ku berbunyi beberapa kali yang masih berada dalam genggamanku saat aku tertidur.


Telepon dari Angga, aku pun langsung mengangkatnya tanpa berpikir panjang lagi.


" Hallo . . . dengan ibu putri ??? " ucap suara di seberang

__ADS_1


" iya benar, bagaimana kondisi suami saya " tanyaku antusias sekali.


" Suami ibu sudah selesai menjalani operasi. Kondisinya masih dalam pengaruh obat bius. Tetapi operasinya berjalan lancar, dan Pak Angga meminta saya untuk mengabarkan ini kepada anda " terang suster tersebut


" Iya, Terimakasih suster. Oh tunggu . . . apakah ini dengan suster Salsha ??? " tanyaku kemudian.


" Iya Bu, saya suster Salsha, maafkan saya Bu. tapi ini sebagian tugas saya " sahutnya dengan nada ketakutan.


" Tidak suster, saya lah yang minta maaf saya sudah membentak dan kasar kepada suster. Tolong bisakah suster memberikan alamat rumah sakit tempat suami saya di rawat ??? " tanyaku kemudian


Dan suster Salsha pun memberikan alamat tempat Angga di rawat beserta nama kamar nya, kepadaku lewat pesan singkat.


Tidak lupa kembali aku mengucapkan Beribu terimakasih dan permintaan maaf yang dalam kepada suster tersebut.


Aku ingin merawat Angga sebagaimana mestinya tugasku sebagai suami.


Entahlah . . . tiba - tiba aku merasakan lubang yang menganga di dalam hatiku saat melihat kondisi Angga dan mendengar kata Cerai yang di ucapkan Mama tadi.


Rasanya hatiku sakit sekali, tidak seperti biasanya saat Angga mengemis - ngemis cinta nya untuk aku balas dan permintaan maaf dari ku.


Dari perasaan tidak perduli dahulu, sekarang berubah menjadi . . .


" Aaaaakh . . . perasaan apa ini namanya " umpatku dalam hati.


Segera ku pesan pengemudi mobil online dari aplikasi telepon pintar ku untuk segera mengantarku pada suamiku yang sedang tergolek lemas di rumah sakit.

__ADS_1


Rumah sakit yang berjarak setengah jam perjalanan ini pun ahirnya sampai juga aku di tempat tujuan.


Segera ku langkahkan kaki ku menuju ruang inap yang di berikan alamatnya dari suster Salsha tadi.


Aku mencarinya pun tidak lah susah.


Segera ku buka pintu Kamar inap tersebut.


Kamar VVIP yang di tempati Angga terlihat sangat lah mewah.


Terdapat bad single yang tidak seperti rumah sakit biasanya dan tertidurlah Angga di atasnya.


Terlihat damai sekali dia tertidur di sana karena masih dalam pengaruh obat bius.


Sampai malam tiba Angga pun masih belum sadar. Aku mencoba mengambil handuk kecil yang terletak di dalam nakas untuk Kubuat membasuh wajah dan tangan Angga.


Ku sapu wajah yang dulunya terlihat tampan dan menawan itu dengan lembut sekali.


" Kenapa Wajahmu Tidak setampan dulu. sekarang terlihat pucat dan lusuh " ujarku pelan sekali dan lebih tepatnya berbisik.


Setelah kurasa cukup membasuh wajah nya aku pun mulai beralih membasuh tangannya yang hanya mengenakan baju khusus untuk operasi.


Lengan yang begitu kekar, ku basuh pelan keduanya dan ku hindari tangannya yang tertusuk jarum infus.


Setelah itu kubasuh juga ke dua kakinya.

__ADS_1


__ADS_2