
" Kakak, kok bisa ada di sini ??? '" tanyaku keheranan saat ku lihat kak Tasya sudah duduk cantik di dalam Caffe tempatku bekerja sore ini.
" Kenapa . . . Terkejut sekali kamu ??? " Balas Bang Angga yang tiba - tiba sudah berdiri di belakangku dengan membawa nampan berisikan capuccino dingin.
" Kok kalian tiba - tiba bisa bersama - sama ??? " tanyaku masih keheranan melihat mereka berdua. tampak akrab.
" Kita beberapa hari ini sering jalan bareng kok . " sahut kak Tasya dengan menunjuk Angga bergantian .
Apa maksud kak Tasya dengan mengatakan Mereka Sering jalan bareng, jangan - jangan . . .
" Minta Do'a restunya saja ya adik ipar. Semoga Kakak mu yang cantik jelita ini mau segera menerima ku sebagai calon suaminya " sahut Angga dengan meraih tangan kak Tasya yang kemudian untuk di genggamnya.
Ya Tuhaaaaaaan
Mereka berdua sudah pacaraaaaaaan
Sejak kapan . . . .
Sungguh terkejut aku mendengar pernyataan dari Angga.
Rasanya baru 2 bulan yang lalu mereka berkenalan tanpa sengaja, sejak Angga bertemu denganku di jalan saat aku akan berangkat kuliah dulu.
Kenapa secepat itu mereka sudah berpacaran dan bahkan akan menikah, ujar Angga barusan.
Sungguh, aku sangat tidak menduganya.
Mereka akan menikah, Angga Bara sosok yang diam - diam ku sematkan dalam hatiku ini akan menikahi kakakku ??? Dan dia akan menjadi kakak ipar ku kelak.
Tuhan, sungguh kejam takdirmu ini.
Bagaimana mungkin.
" Put . . . putri . . . melamun saja kamu " colek kak Tasya pada lengan kiri ku.
__ADS_1
" Pooh . . . enggak kok " sahutku terbata.
" jawab dong pertanyaan Angga barusan " sahut kak Tasya kemudian.
Kata - kata itu terdengar seakan - akan kami sepasang adik dan kakak yang sangat akrab dan romantis.
Padahal, sebenarnya kak Tasya tidak pernah memperlakukan aku seperti ini.
Bahkan saat kami di rumah, hanya seperlunya saja kami berbicara.
Jangankan bercanda, untuk menanyakan sesuatu yang sekiranya hanya untuk berbasa - basi saja sepertinya ogak untuk kak Tasya lakukan kepadaku.
" Jawab dong put . . . ??? " Angga pun ikut penasaran
" Oh iya . . . ak . . . aku sih setuju saja. Kan . . . kan kalian yang akan menjalaninya nanti " sahutku terbata dengan menjawab seadanya.
Masih bingung aku dengan pernyataan mereka barusan.
Kulangkahkan kakiku, masuk kedalam loker,
Ya Tuhan . . .
Tidak terasa air mataku jatuh satu persatu di pipiku,
Buru - buru aku menyekanya,
Aku takut bila saja ada yang melihatnya.
Aku juga bingung, mengapa air mata ini jatuh tanpa permisi.
Dada ini terasa sesak dan sakit sekali.
cukup lama aku berdiam diri di dalam loker, entahlah.
__ADS_1
Aku juga bingung hampir tidak bisa berfikir dan akan mengerjakan apa???
" Put . . . kamu tidak pulang . . . '" sapa suatu suara yang membuatku sadar dan kembali ke dalam dunia nyataku.
kulihat seorang teman kerja pria ku.
" sudah jam berapa ini ???" tanyaku kemudian dengan sedikit gelagapan.
" Sudah waktunya pulang, sudah jam 10 malam ini. " sahutnya kemudian dengan melihat pada jam yang melingkar di tangan kirinya.
Ya Ampun, sudah sampai malam, aku duduk termenung di sini.
" Terimakasih ya kak Bram " sahutku dengan beranjak bangkit untuk kemudian bertukar baju dan kemudian segera pulang ke rumah.
Sejenak ku lihat, di meja Caffe tadi tempat kak Tasya dan Angga berkencan tidak tampak lagi mereka di sana.
" Syukurlah " gumanku lega.
di depan Caffe kulihat mobil James terparkir di sana.
" Sudah pulang Tuan Putriku " sapa James dengan halus sambil dibukakan pintu untukku.
Ku balas dengan senyuman saja dan Aku pun menaiki mobilnya dengan tanpa kata - kata lagi.
" kenapa sih manyun saja dari tadi ??? " tanyanya penasaran saat melihatku diam seribu bahasa.
" Kakakku akan menikah " sahutku lirih seakan berbisik
" Syukur dong, trus kenapa kamu manyun. memang sama siapa dia akan menikah ??? " tanyanya penasaran
" Angga Bara " sahutku singkat masih dengan tanpa exoresi.
" Trus kenapa kamu seperti tidak suka begitu " balas James lagi.
__ADS_1
" Kamu . . . mengapa sih bertanya terus dari tadi ??? " sahutku sambil kubelalakkan mataku selebar - lebarnya pada James.