Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 47


__ADS_3

" Bu, bisakah saya berteduh di sini sampai besok pagi ??? " Tanyaku pada pemilik warung tempatku makan ini dengan berharap beliau mau menampungku semalam ini.


" Maaf ya mbak, ini bukan penginapan umum. ini warung makan " jawabnya dengan ketus.


" Baik lah Bu, Terimakasih " sahutku kemudian dan berlalu dari warung makan tersebut.


Tidak seberapa jauh aku menemukan tempat berteduh yang lumayan untuk berteduh ku sejenak.


Ada beberapa ibu - ibu dan juga beserta anaknya yang sekitar umur 10 tahun ikut bersamanya.


" Ibu juga berteduh di sini malam ini ??? " tanyaku membuka obrolan dengan salah satu ibu di sana.


" Iya mbak, jam segini dan hujan pula akan susah mendapatkan angkot " jawabnya.


" Di tempat tinggal ibu adalah kamar kos ??? " tanyaku lagi setelah kurasa obrolan kami mulai akrab.


" Mbak cari kamar kos ??? untuk sendiri atau bersama suami ??? " tanya beliau kemudian dengan memandang perut buncit ku.


Spontan aku juga ikut memandangi perutku yang memang sudah tampak buncit dan membesar ini.


Maklum lah, ini kehamilanku menginjak 5 bulan.


" Tidak Bu, sa . . . saya tinggal sendiri kok " sahutku terbata dengan berusaha menutupi rahasiaku.


" Banyak sih mbak, tergantung harga dan Fasilitasnya " sahut ibu tersebut yang ternyata bernama Bu Neny.

__ADS_1


" Yang paling Murah berapa ya Bu dan fasilitasnya apa saja ??? " tanyaku penasaran.


' Eeem . . . kalau tidak salah 350 deh mbak, itu pun sudah kamar mandi dalam, sudah di pinjami kasur dan bantal guling lengkap dengan sprei nya " satut Bu Neny menjelaskan.


" Mau Bu, saya mau . . . besok tolong ibu tunjukkan ya tempatnya" jawabku, dengan girang.


" Iya mbak boleh . . . boleh . . . nanti kalau sudah pagi kita naik angkot ke rumah saya ya " jawab Bu Neny dengan antusiasnya.


" Terimakasih ya Bu sebelumnya, sudah membantu saya " sahutku dengan berucap syukur sudah beliau bantu.


Rasanya tidak sabar aku menunggu di pagi hari dan mendapatkan rumah kos tersebut.


Aku berhayal untuk segera mandi, dan melepas kepenatan ku ini.


Pagi yang kunantikan ahirnya tiba juga.


Ini tempat ternyaman untuk ku tidur semalam.


" Ayo mbak, kita naik angkot itu " ajak Bu Neny dengan menunjukkan angkot berwarna hijau dan tertuliskan nama kota tempat Bu Neny tinggal.


" Iya Bu, mari " sahutku dengan semangat.


putra Bu Neny yang bernama Fahri pun mengekor di belakang ibunya.


Hawa pagi ini terasa sejuk sekali.

__ADS_1


" Mungkin karena hujan semalam ya ??? " pujiku dalam hati.


Aku melihat - lihat suasana perjalanan menuju tempat tinggal Bu Neny, pinggiran kota J , tidak terlalu ramai dan juga tidak bisa di katakan sepi juga sih.


setelah terminal bus tadi kami meliwati sebuah pasar kecil yang terletak di pinggir jalan raya.


Terlihat aktifitas jual beli yang ramai di sana.


Kemudian perjalanan kami melewati sebuah jembatan yang besar dan Kokoh sekali konstruksinya, di bawah jembatan tersebut mengalir deras sungai yang lumayan besar, perjalanan selanjutnya angkot tersebut melewati jajaran ruko - ruko yang beberapa di antaranya masih dalam tahap pembangunan, kemudian kami melewati beberapa rumah yang terletak di pinggir jalan ini.


" Sepuluh menit lagi kita akan sampai mbak " ucap Bu Neny yang membuyarkan lamunanku melihat - lihat suasana kota ini.


" Oh iya Bu " sahutku dengan bersiap - siap membenahi barang bawaan ku dan ku rogoh dompetku untuk mengeluarkan uang guna membayar ongkos angkot ini bertiga dengan Bu Neny beserta Fahri putra Bu Neny.


Tepat perkiraan Bu Neny, sepuluh menit pas kami tiba di gang menuju rumah Bu Neny.


Aku pun turun duluan guna membayar ongkos angkot terlebih dahulu.


" Ini pak, saya bayar untuk tiga orang ya "sahutku dengan menyodorkan uang pecahan dua puluh ribuan ke pada sopir angkot.


" lho . . . mbak, biar saya bayar senri sama anak saya " sahut Bu Neny terkejut saat tahu ongkosnya aku yang Batakan.


' Sudah Bu, tidak apa - apa. Ibu sudah banya kembantu saya " jawabku dengan halus dan mengembalikan uang pembayaran angkot yang dengan paksa di selipkan ke tanganku.


Ahirnya Bu Neny pun terpaksa menerimanya kembali.

__ADS_1


" Ya sudah, ibu juga berterimakasih ya sama mbak putri " ucap Bu Neny ahirnya.


kemudian kami pun berjalan beriringan untuk menuju tempat kos yang di janjikan Bu Neny padaku.


__ADS_2