Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 113


__ADS_3

Ahirnya pagi ini kami sarapan dengan terlambat.


Kulihat mama senyum - senyum dengan bahagia sekali.


" Ada apa gerangan hari ini ?? Suami dan mertuaku mendadak seperti menang lotre saja di pagi ini. " Tanyaku dalam hati.


" Sayang . . . cepat sarapannya Nenti kamu terlambat masuk kantornya " ucap Mama dengan membalai bahu Angga dengan manja.


" Ini juga sudah terlambat Mam, tadi aku telpon asistenku untuk menunda rapatnya. " sahut Angga dengan santainya dan menyuapkan sarapan di pagi hari ini juga dengan santai juga.


" Mas . . . cepat makannya " ucapku lirih dengan sedikit berbisik pada Angga. aku takut dia terlambat nanti.


" Tenang sayang, kalau setelah sarapan mood ku jelek aku malah tidak akan berangkat ke kantor nanti. Jadi tidak perlu tergesa - gesa. Tunggu mood ku saja nanti. " sahutnya dengan sedikit berkelakar.


" Mas . . . kamu itu yaaaa . . . " sahutku dengan mencubit pahanya yang masih mengenakan celana pendek casual.


" Aaaaw . . . Lihat Mam, dia ya yang sedang menggodaku. Apakah pantas untuk tidak di hiraukan ??? " sahutnya dengan masih berkelakar kan memamerkan nya kepada ibunya.


" Hahahahahaha . . . dulu mama dan papa juga seperti itu. Pas waktu malam pertama kali bukannya senang eeeeeh . . . ini Ribut, galau bahkan panik juga. Apa lagi si Papa, tahu mama masih perawan malah nangis sambil minta maaf berulang - ulang kali " ujar Mama membuatku sangat malu sekali di pagi ini.


" jadi Angga sudah menceritakan pengalaman malam pertama kami kepada Mama ??? Ya Tuhan . . .


Mati lemas aku rasanya " sungutku dalam hati.


Alhasil, nafsu makanmu pun hilang sudah mendengar ucapan mama dan Angga dengan bangganya menceritakan pengalaman malam pertamanya masih - masing barusan.

__ADS_1


Rasanya ingin bersembunyi saja aku saat ini, karena menahan malu dengan ucapan mereka.


" Sayang, kok sarapannya berhenti . . . ???


tanya Angga saat aku menyudahi sarapanku.


" Kamu sakit ??? tidak nafsu makan ya ??? " ucap Angga dengan nada kawatir.


" Kamu cerita ya mas ke Mama tentang semalam ??? " tanyaku dengan hampir menagis saja menahan malu kepada Angga saat Mama ke dapur untuk membereskan sisa makanan kami barusan.


" Tidak . . . aku tidak cerita ke Mama. Bahkan aku mengira kamu yang cerita, karena kalian kan sama - sama wanitanya dan sama - sama punya pengalaman pertamanya. Demi Tuhan sayang, aku tidak bercerita apa - apa ke Mama. Aku juga tahu lah ini privasi kita " sahut Angga dengan menggenggam tanganku dan kemudian mengecupnya.


Tak ayal, air mataku menetes tanpa permisi. Hati ini terasa bergemuruh tidak tahu pasti mengapa.


Angga akan membopongku untuk kembali ke kamar, tapi aku melarangnya.


Setelah tiba di kamar aku pun menumpahkan tangisku dengan keras di sana dengan menutupi mukaku dengan bantal. Sehingga tidak terdengar suara tangisku.


Angga meraih ku untuk di peluknya dan mencoba melepaskan bantal yang ku buat untuk menahan tangisku.


Dia seperti orang yang sedang kebingungan dan gelisah sekali.


" Sudah dong sayang, aku minta maaf ya dan juga aku minta maaf atas sikap Mama pagi ini ke kamu. Mungkin saja itu insting Mama sebagai ibu dan perempuan yang juga pernah mengalami malam pertama seperri kita. Cuuup dong sayang " pinta anggay kepadaku dengan suara yang pelan dan serius.


" Aku malu mas . . . " sahutku terbata.

__ADS_1


" Iya aku tahu, nanti coba aku bicara sama Mama ya untuk tidak membicarakan ini lagi, ya sayang?? cup ya . . . " pinta Angga


" Enggak mas, jangan menegur Mama. Aku tambah Mali nanti. mungkin benar yang kamu katakan. Mungkin ini naluri seorang ibu, mungkin beliau melihat gelagatku yang jalan tidak normal dengan menahan sakit di sekitar pahaku. Jadi beliau tahu apa yang terjadi dengan kita.


Maas . . . maaf ya aku baru menyadari itu dan jadi berburuk sangka kepada Mama barusan. " sahutku dengan bisa menerima keadaan saat ini.


" Iya, lebih baik kita tidak berburuk sangka kepada Mama. Syukurlah kalau kamu bisa menerimanya sayang. " ucap Angga dengan kembali menciumiku dengan mesranya.


"Sudah terlalu siang mas, sebaiknya kamu segera ke kantor " ujarku dengan mengalihkan pembicaraan kami sebab Angga semakin menjadi saja ciumannya kepadaku


" Apa sebaiknya aku bolos saja ya, aku masih ingin bersamamu. Tidak rela rasanya aku meninggalkanmu, semanit saja sayang " ucap Angga dengan sekali lagi melilitkan kedua tangannya di pinggangku.


" Maaaaaas . . . " ucapku dengan mendorongnya dengan kasar.


" Baik . . . baik aku ke kantor. Tapi kamu jangan menyesal ya kalau kangen sama aku. Seharian aku pastikan tidak bisa menerima telepon mu karena aku harus meeting dan sekalian mengunjungi klien di luar kota hari ini juga " sahutnya dengan mulai mengganti baju nya untuk segera ke kantor.


"Aku akan tidur seharian dan mematikan teleponku, jadi jangan kawatir. Aku tidak akan kangen sama kamu mas " jawabku dengan sedikit mencibirkan bibirku untuk mengejeknya.


" Ok kita lihat saja, siapa yang bisa bertahan untuk menahan rindu sehatian ini " ujar Angga kemudian dengan membalas ku mencibirkan bibirnya.


Dan ahirnya aku pun mengantar kepergian suamiku untuk berangkat ke kantor sampai pintu utama rumah ini, Angga melarang ku untuk mengantarnya sampai ke mobilnya karena takut rasa sakit di selakanga ku tidak kunjung reda.


Sebelum berangkat dia mengecup kening kemudian bibirku dan berpesan agar aku membatasi kegiatanku hari ini.


Aku pun menganggukkan kepala tanda mengerti.

__ADS_1



__ADS_2