
Hari Minggu pagi ini Aku dan Angga berpamitan kepada Mama untuk menjenguk Ibu dan Ayah ku.
" Memang seharusnya anak yang harus mengawali silaturohim kepada orang tua sayang. Tidak akan rugi, bahkan akan menambah keberkahan di dalam hidup kalian. Mungkin saja mereka kangen sama kamu, jangan berprasangka buruk dulu. Apa lagi dengan orang tua yang melahirkan kita. Mama tidak pernah melarang kamu dan Angga untuk mengunjungi orang tua. Selama ini Mama diam dan tidak mu ikut campur karena mama tahu kalian masih - masing masih menata hati kalian untuk bertemu mereka lagi kan. Sekarang kalian sudah ikhlas akan kejadian lalu, dan seharusnya di segerakan silaturohim ini agak bisa nyambung antara orang tua, anak dan menantu. " pesan Mama suatu hari kepadaku dan Angga
" Mama Do'a kan yang terbaik buat kalian ya nak, sayang. Hati - hati kalian di jalan. Jangan mendahulukan emosi. ingat itu " pesan Mama saat kami berpamitan tadi pagi.
Di perjalanan kami mengobrol dengan mengingat ingat masa lalu saat pertama kali aku di bawa Angga untuk bertemu dengan Mama nya dulu.
Saat di mana kami berhenti di pantai saat hampir sampai di kota tempat tinggal mami.
Kami berhenti sesaat saat tiba kembali di pantai tersebut.
Seakan ber riuni kami berjalan menyusuri tepi pantai ini berdua dengan bergandeng tangan, bahkan berpelukan berjalan beriringan. tak jarang pula Angga mencium keningku atau mencium rambutku.
" Mas . . . " sapaku pada Angga
" Ada apa sayang . . . " sahut Angga dengan merapatkan pelukannya di bahuku.
" Kenapa aku deg degan ya, saat kita perjalanan untuk ketemu Ibu dan Ayah ??? " tanyaku dengan menghentikan langkahku dan menengadahkan wajahku untuk memandang suamiku yang tinggi sekali ini.
" Kenapa deg degannya ??? " sahut suamiku dengan melepaskan pelukannya kemudian menghadap ku dan memegang kedua bahuku.
" Entah lah mas, aku takut dengan apa yang terjadi nanti di rumah orang tuaku " sahutku dengan nada ketakutan
__ADS_1
" Kenapa takut sih sayang . . . Apa coba yang kamu takutkan. Aku ada bersama mu, aku kan melindungi mu sayang " sahut Angga dengan mengecup hangat keningku dan kemudian memelukku erat sekali.
Tiba - tiba saja rasa takut itu sedikit demi sedikit berkurang dengan pelukan Angga yang terasa hangat menjalar di seluruh tubuh ku.
Seakan pelukan Angga suatu pengisi daya yang sangat aku perlukan sekali.
" Ayo kita lanjutkan perjalanan kita, supaya tidak terlalu siang kita sampai di rumah Ayah dan Ibu " ajak Angga kemudian saat aku sudah mulai stabil.
Ahirnya kami pun melanjutkan perjalanan tersebut yang kurang lebih sekitar tiga jam lagi akan sampai di rumah orang tua ku.
Perjalanan kami sama sekali tidak menemuka kendala.
tepat tiga jam kemudian mobil sport kesayangan Angga sudah terparkir tepat di depan rumah ku.
Rumahku terlihat seperi bangunan tua dan terlihat kumuh sekali.
" Aneh biasanya Ibu sangat telaten dengan tanaman - tanaman ini, kenapa sekarang seperti tidak terawat ya " rasa penasaran yang berkecamuk di dalam hatiku.
" Ayo sayang kita masuk " sahut Angga dengan menggandeng tanganku dan menuntunku masuk keteras rumah ini.
Semakin dalam kami memasuki rumah ini aku semakin asing saja dengan rumah ku saat kecil hingga remaja ini.
" Putri . . . dan kamu Angga . . . bagaimana kalian bisa datang bersamaan seperri ini ??? " ujar seorang ibu yang keluar dari balik pintu utama di rumah ini.Tiba - tiba saja Angga sudah mengetuk pintu rumah ini saat aku masih terbengong melihat suasana yang tampak asing ini.
__ADS_1
Kulihat perempuan itu terlihat tua dan aku sepertinya kenal dengan beliau.
" Bolehkah kami masuk terlebih dahulu Bu " jawab Angga dengan meminta izin kepada wanita tua di depan pintu rumahku ini.
" Ayaaaaaah . . . ayaaaah lihat siapa yang datang . . . " teriak perempuan tua tersebut dan seketika aku tersadar mendengar teriakkan tersebut.
Itu seperri suara ibuku, tetapi wajah yang dimilikinya bukan wajah ibuku.
Apakah enam tahun terlalu lama sehingga membuat ibu menjadi setua itu ???
wajahnya dan tubuhnya yang kurus dan rambut terlihat tidak ada satupun yang berwarna hitam.
" Benarkah itu ibu ??? Lalu bagaimana dengan Ayah kalau ibu saja berubah tanpa bisa aku mengenalinya ??? " Tanyaku dalam hati dengan tubuhku mulai bergetar hebat.
" Tidak apa sayang, ada aku di sini. aku akan selalu menemanimu. " ujar Angga dengan membelai - belai lembut lenganku .
Tanpa sadar aku mencengkeram kuat jemari tangan Angga, saat kulirik wajah Angga terlihat meringis menahan sakit.
" Maaf mas " ucapku
" Tidak apa - apa sayang " sahutnya dengan tersenyum kepadaku.
Saat ibu berlari kedalam untuk memanggil ayah, seketika ayah datang memenuhi panggilan ibu dengan setengah berlari dan terlihat ayah terseok - Seok saat berjalan mendekati ku dan Angga.
__ADS_1
Ayaaaaaah . . .
Ya Tuhan inikah ayahku saat ini . . .