Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 45


__ADS_3

Saat terbangun dari tidurku yang tidak ku sengaja karena kecapek'an karena menangis semalam, kulihat jam di HP ku sudah menunjukkan pukul 00.15.


Ku palingan wajah ku kesebalah kiri ku, Terdapat Mama yang tidur pulas di sebelah ku.


Entah dari kapan beliau tidur di sana.


Perlahan - lahan aku bangun dari tempat tidur ini.


berharap tidak mengganggu mama yang pulas tidurnya.


Aku melangkah mendekati sofa dalam kamar ini untuk mengambil cardigan ku, kurasakan hawa dingin ini menyeruak kedalam tulang - tukang ku yang membuat ku terasa ngilu.


Ku buka pintu kamar mama dengan sangat hati - hati, meskipun pintu tersebut tidak berbunyi sama sekali.


Aku pun keluar dari kamar tersebut dengan kemudian memakai cardigan ku.


Ku langkahkan kaki ku untuk mencari minum air mineral, setelah ketemu aku pun mengambil segelas penuh dan meminumnya, setelah habis aku pun mengisi gelas kosong ku dengan air mineral itu lagi, lagi dan lagi.


Sampai empat gelas tidak terasa.


Tenggorokan ku kering sekali dan perut ku terasa lapar.


Calon bayi dalam kandungan ku serasa menendang - nendang perut ku untuk meminta makan.


" Sabar ya sayang, sebentar bunda Carikan makan dulu " bisik ku pada perut ku dengan tangan ku mengusap - ngusapnya.

__ADS_1


Setelah beberapa lama mencari, aku pun menemukan nasi, lauk pauk, serta sayuran lengkap masih utuh tersaji di meja kanan.


" Mungkin mama sudah menyiapkannya, tetapi karena kejadian Kakak Tasya yang marah - marah jadi kami semua urung untuk makan malam.


Ku lahap makan tersebut dengan sedikit rakus tanpa sebelumnya aku panaskan dahulu karena aku sudah kelaparan.


Ditengah - tengah ritual makan ku, tiba - tiba terbersit ide


" Bagai mana kalau aku pergi saja dari rumah ini, besok Angga akan membawa ku ke rumah sakit untuk " Membunuh " janin ku ini.


Seketika tangan ku berhenti untuk menyuapkan nasi kedalam mulut ku.


Perasaan takut dan ngeri tiba - tiba datang ke dalam hati dan pikiran ku.


" Jangan kawatir nak, bunda akan melindungi mu. baik Angga atau pun kak Tasya tidak akan bunda izinkan untuk mengusik mu sayang " ucapku lirih dan pasti.


Ku seka air mata ku, dan aku pun mulai bangkit dari tempat duduk ku, kulangkah kan kaki ku perlahan - lahan masuk kedalam kamar Angga, ternyata kososng di sana.


" Apa mungkin mereka berdua pergi keluar ??? " tanya ku dalam hari.


" Aakh apa urusan ku, aku sudah tidak perduli lagi pada mereka " sahut ku kemudian menghibur diriku sendiri.


Ku kemasi baju serta barang - barang ku yang lainnya yang sengaja ku bawa dari rumah Angga untuk menginap di rumah mama ini beberapa hari yang lalu.


Tidak lupa ku bawa dompet serta HP ku.

__ADS_1


sebelumnya ku buang kartu perdana dalam hp ku ini, supaya tidak ada yang bisa menghubungi ku.


Dengan mantap, ku langkahkan kaki untuk pergi meninggalkan rumah ini, meninggalkan semua kenangan pahit dan juga kenangan indah yang aku alami selama ini.


Setelah berada di luar rumah ini, ku pandangi sejenak rumah indah penuh kenangan tersebut.


" Mama maafkan saya, saya pergi tanpa pamit. Semoga mama selalu sehat dan bahagia " ucapku lirih dengan mata ku yang mulai berkaca - kaca.


Ku langkahkan kaki ku untuk pergi menjauh dari rumah dan takdirku dengan Angga, mama, kak Tasya dan kedua orang tuaku.


Aku sangat yakin sekali, mereka tidak ada satu pun yang akan membela ku, tidak ada satu pun dari mereka yang akan melindungi anak ku dari pada membunuhnya.


Biarlah ku buka lebaran baru hidup ku untuk hidup berdua saja dengan anak ku kelak dia sudah lahir.


Aku sudah bersumpah untuk membesarkannya apa pun yang terjadi, Aku yakin, hanya Tuhan saja yang akan memihak ku , melindungi ku dan menyayangi kami berdua.


Sepanjang perjalanan, air mata ku tidak henti - hentinya keluar dengan derasnya.


Tuhan lindungi aku, lindungi calon bayi ku ini, berikan aku rezeki mu, limpahkan dengan deras dan hallal untuk kami makan dan kebutuhan aku lahiran kelak.


Ya meski pun sebenarnya aku masih punya sedikit tabungan, yang selalu di kirimkan Angga pada ku setiap bulannya sebagai upah untuk menyewa rahimku ini.


"


Semoga uang ini cukup untuk hidup kami kedepannya, Tuhan. " ratapku dalan hati dengan menggenggam erat tas yang ku bawa.

__ADS_1


__ADS_2