Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 31


__ADS_3

" Ini hasil USG empat dimensi calon anakku, aku akan menunjukannya kepada Tasya nanti saat dia pulang " ujar Angga seperti pada diri sendiri dengan memegang foto Hasil USG ku tadi dengan masuk kedalam mobil.


Ku pandangi wajah penuh kebahagiaan itu dengan perasaat takjub.


Terlihat dia seperti seorang bapak yang sangat merindukan kehadiran buah hatinya.


" Sekarang kita cari makan ya, pasti kamu lapar kan Put ?? " ucap Angga kemudian memecahkan lamunanku.


Yang ku balas dengan anggukan saja.


Tidak berapa lama, kami pun sampai pada sebuah restoran nasi Padang yang lumayan beras di pinggir jalan saat kami perjalanan pulang.


" Kamu pesan apa ?? " tanya Angga padaku saat kami sudah duduk di dalam restoran.


" Eeehm . . . apa saja aku suka " jawabku menyerahkan pilihan kepada Angga untuk memesannya.


" Oke, kita pesan kepala ikan satu porsi, ayam satu porsi, daging rendang satu porsi, udang goreng satu porsi ya Bang, beserta sayurannya yang banyak dan dua Es jeruk manis " pesan Angga pada seorang pelayan yang datang untuk mencatat pesanan kami.


Ya Tuhan Banyak sekali makanan yang di pesan Angga.


Seketika aku terbalalak mendengar pesanan Angga barusan.


Tidak beberapa lama, pesanan kami pun datang, pelayan menatanya di meja.


Penuh sudah meja di depan kami ini dengan seluruh makanan yang dipesannya

__ADS_1


" Apa kamu bisa menghabiskan semua makanan ini ???" tanyaku kepada Angga dengan herannya


" Kamu yang makan, kan kamu yang hamil dan butuh banyak asupan gizi " jawabnya dengan segera menambahkan beberapa lauk di dalam piringku.


" Aku tidak akan sanggup menghabiskannya " sahutku sedikit memprotesnya.


" Harus habis, ingat pesan dokter tadi " mulai sekarang aku akan lebih memperhatikan apa yang kamu butuhkan" sahut Angga kemudian dengan nada semangat sekali.


" Aku tidak hanya butuh makanan yang bergizi, aku juga butuh perhatian suami yang tidak pernah aku dapatkan karena kamu bukan suami betulan buat aku " sahutku dengan nada dingin.


Sejenak Angga memandangku lekat sekali, tanpa sengaja aku pun juga sedang memandangnya.


" Tapi maaf, aku tidak bisa menjadi suami sempurna buat kamu dan ayah dari anak yang ada di rahimmu saat ini, Karena keadaan kita saat ini " jawabnya dengan berpaling ke nasi yang berada di depannya.


Aku masih saja lekat memandang wajah Angga yang duduk tepat di depanku.


Kami pun mulai menyantap makanan yang kami pesan.


Kulahap semua lauk yang di sodorkan Angga kedalam piringku dengan lahap sebagai ungkapan sesaknya dadaku ini.


" Nanti kalau anak ini lahir dan aku tidak ingin memberikannya kepada kalian, apa yang akan kamu lakukan kepadaku ??? " tiba - tiba saja aku menanyakan hal tersebut yang langsung memancing reaksi Angga.


" Apa maksudmu ??? " sahut Angga dengan terkejutnya dan langsung menghentikan ritual makannya


" Aku juga berhah akan anak ini, selain aku yang mengandungnya, ini juga indung telurku yang di buahi. Bukan darah daging kak Tasya " sahutku ketus.

__ADS_1


" Iya . . . Ta . . . tapi . . . " sahut Angga terbata


" Tidak bisakah nanti aku hanya menjadi istri keduamu dan kita hidup bersama ??? Aku sangat menyayangi anak ini, meski dia belum lahir " tegasku lagi


" Tapi Aku hanya ingin mempunyai satu istri, yaitu Tasya " jawab Angga dengan mantapnya


" Aku tahu, bagi kamu aku hanya mesin produksi anak saja, Aku tahu itu. Sejak awal aku juga tahu, tapi saat anak ini tumbuh dari hari ke hari aku semakin sayang kepadanya, rasanya aku tidak sanggup untuk melepasnya kelak " sahutku dengan mantab sekali


" Tapi perjanjian di awal tidak seperti itu Put " sahut Angga


" Perjanjian apa maksudmu, aku tidak pernah melakukan perjanjian apapun dengan kalian agar aku bisa hamil dengan cara Inseminasi ini " sahutku dengan sedikit emosi.


" Ibu mu bilang kamu setuju dengan Inseminasi ini, bahkan beliau juga memberikan surat penyataan kepadaku yang sudah kamu tandatangani." sahut Angga yang membuatku sangat terkejut.


" Apa . . . Aku tidak pernah membuat surat pernyataan seperti itu. Bahkan kalau aku akan menjadi Objek seperti ini, aku akan sangat menentangnya, " sahutku benar - benar emosi


Tiba - tiba Angga mendekat di tempatku duduk dan memeluk aku dengan erat, dan mengecup keningku, sesaat aku sangat terkejut sekali.


" Kamu jangan emosi ya Put, tidak baik untuk bayi dalam kandunganmu " pesannya dengan masih memelukku erat


Tuhan . . .


Luluh lantak rasanya hati ini, Sekian lama aku mengharapkan perlakuan lembut Angga seperti ini, tapi ini semuanya hanya demi anak yang aku kandung bukan untuk diriku saja.


Menetes deras air mataku tanpa bisa ku bendung lagi. Sakit rasanya hatiku ini.

__ADS_1


Tuhan . . .


sungguh kejam takdi ini


__ADS_2