
" Angga, kapan kamu menikah lagi. Tuh lihat James, punya istri setia sekali. Kamu apa tidak ingin punya istri seperti putri??? " seorang ibu yang sudah cukup umur tiba - tiba bertanya kepada Angga yang kebetulan mereka duduk saling bersebelahan.
" Nanti Nek, kalau Angga sudah bertemu dengan jodoh Angga " sahut Angga singkat dengan nada suara perlahan.
" Kapan nantinya ??? kamu sudah lama Lo menjadi Duren Duda keren, sudah hampir empat tahunan ya " wanita sebelah Angga pun ikut menimpalinya.
" Annga sudah bercerai dengan kak Tasya ??? " sedikit terkejut aku mendengarnya.
Bahkan sudah 4 tahun ini. Mereka bercerai.
" Put, sayang . . . " tiba - tiba James menepuk lenganku dan sontak aku terkejut
" I . . . iya . . . ada apa sayang ?? " sahutku dengan nada terbata.
" Tolong bawa aku ke kamar ya. Dadaku tiba - tiba terasa sesak " bisik James kemudian yang membuatku terkejut akan kondisinya.
Dengan sigap aku pun mendorong kursi roda yang di duduki James ke kamar dengan sebelumnya kami berpamitan terlebih dahulu kepada mama Angga, papi dan mami James dan juga para saudara yang lainnya.
" Aku akan membantu James untuk naik ke ranjang dulu " Angga pun ikut berpamitan untuk menolong James.
Setelah tiba di kamar Angga pun langsung membopong James untuk tidur di kasur.
__ADS_1
kulihat nafas James sedikit memburu.
" Kamu kenapa sih saya, bukannya hari ini harusnya kamu bahagia karena seluruh keluargamu berkumpul dan menerima mu kembali ??? Apa yang menjadi pikiranmu sayang, katakan jangan kau simpan sendiri. " tanyaku panik melihat kondisi James malam ini.
sedikit gemetar tubuhku ini, tapi aku harus kuat untuk orang yang ku cintai.
" Ada apa James, kamu jangan membuat istri kamu cemas, oke . . . aku akan keluar agar kalian lebih bebas untuk ngobrol berdua ya " pamit Angga kemudian memberikan waktu dan tempat untuk kami saling berbicara.
" B . . . bang, ak . . . aku mau ngomong sesuatu pada mu sekarang juga. sayang kamu bisa kan keluar dulu sebentar ??? " ahirnya James pun membuka suara yang tadinya hanya memegangi dada sebelah kirinya.
Aku ahirnya memberikan waktu untuk mereka berbicara dan aku pun kembali berkumpul dengan keluarga James yang lainnya.
Hampir satu jam mereka ngobrol di kamar, dengan cemas aku selalu melayangkan pandanganku pada pintu kamar tempat kami menginap.
Dan tiba - tiba setelah sekian lama ahirnya Angga pun keluar dari dalam kamar tersebut.
Aku pun langsung setengah berlari menghampiri James yang masih berbaring di dalam kamar.
Tidak ku perduli kan teguran Angga yang terlihat setengah kebingungan melihatku.
" Sayang . . . kamu tidak apa - apa kan ??? kamu mau apa ?? akan aku ambilkan. " langsung saja aku memberondong pertanyaan kepada James yang sedang tidur dengan nafas tersengal dan kedua tangannya memegangi dada kirinya.
__ADS_1
James tidak menjawab pertanyaan ku.
Dia terlihat akan berbicara tetapi dia terlihat terlalu sulit untuk berbicara.
Ku lihat Angga sudah memakaikan selang oksigen kepada James.
Tapi kenapa nafas James masih memburu seperti ini.
Kulihat Angga mengikuti aku untuk masuk kedalam kamar.
" Kau apakan James sampai dia sepeti ini ??? hardik ku pada Angga saat dia akan membantu ku menolong James.
" Aku . . . aku tidak . . . " sahut Angga yang terlihat ketakutan sekali melihat kondisi James
" Kamu tahu sendiri kan, kondisi dia ??? dia tidak boleh terkejut dan tidak boleh terlalu banyak beban pikiran !!!. Apa kamu mau membunuh James hah . . . " teriakku semakin menjadi melihat kondisi James yang semakin parah saja.
Sontak para tamu dalam acara keluarga ini berhamburan untuk melihat ke kamar kami, apa yang sedang terjadi.
" Cepat bawa James segera ke rumah sakit. jangan malah saling menyalahkan " perintah papi James dengan langsung membopong tubuh ringkih putranya tersebut, Reflex Angga pun membantu papi James untuk membopong James.
Sedangkan yang lainnya pun bergerak cepat untuk segera menyiapkan mobil dan keperluan James yang lain.
__ADS_1
Tubuhku terasa lemas dan bergetar hebat melihat kondisi James malam ini. Beberapa kali tangan James mencengkeram tanganku dengan kuat saat aku berkata dengan berteriak kepada Angga tadi, sepertinya dia melarangku untuk berbuat itu.
Tetapi aku sama sekali tidak perduli.