Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 58


__ADS_3

Sudah berhari - hari ini aku masih tinggal di rumah sakit ini. James terlihat paling sedih ketimbang aku. Saat melihat atau ngobrol dengan ku dia selalu menahan tangisnya dan selalu meminta maaf kepada ku.


Berkali - kali juga aku selalu bilang bahwa ini bukan lah salah dia.


Ini sudah menjadi takdir kami, yang tidak bisa di hindari.


Kupeluk dengan hangat tubuh yang sedang rapuh tersebut, sekedar memberinya ketegaran akan kejadian yang aku alami.


Entah . . . seharusnya aku lah yang terpukul dengan kejadian ini, tapi malah James yang menjadi rapuh karena kejadian ini.


Bisa aku bayangkan, Bagaimana perasaan james saat ini, Dia yang di vonis tidak akan bisa punya anak lagi, dan dengan keadaanya yang juga lumpuh tersebut. Bayi dalam kandungan ku yang sangat diharapkannya untuk menjadi penerusnya kelak, ternyata tidak akan pernah lagi lahir ke dunia ini.


" Maafkan aku put, maafkan aku . . . " selalu saja rintihan itu yang aku dengar dari James hampir setiap detiknya.


Sungguh lara hati ku mendengar rintihannya dan kata - kata menyesalnya.


" Sayang, cukup . . . cukup jangan kamu mengucap kata - kata itu lagi. Ini sudah menjadi takdir kita dan anak kita. Sudah, jangan kamu sesali biar dia tenang di sana " pinta ku dengan air mata ku sudah tidak dapat ku bendung lagi melihat kesedihan yang tampak pada sekujur tubuh suami ku ini.


Di tatapnya wajah ku dengan sendunya, seakan dia mencari sesuatu kepastian di mata ku.


" Maaf kan aku ya, Tidak akan aku ulangi lagi kesalahan ku ini sayang " ucapnya kemudian dengan suara parau.


" Iya, aku tahu. untuk kedepannya aku juga akan berhati - hati. Sudah ya, sekarang kita tata kembali masa depan kita, jangan karena kejadian ini, hidup kita berhenti di sini. iya kan sayang " sahut ku dengan menggenggam jemari tangannya.

__ADS_1


James pun membalas dengan mengecup kedua tangan ku dan ku balas dengan senyum tulus ku untuk membuatnya semakin kuat untuk bangkit.


Pintu Kamar inapku ada yang mengetuknya, dan masuklah seorang suster dengan membawa sebuah bungkusan kain berwarna putih.


" Bapak dan ibu, ini jenazah bayinya mohon segera di ambil dan di makamkan, tidak baik kalau berlama - lama di simpan di kamar mayat. Kasihan si bayinya " ujar perawat tersebut dengan menyerahkan bungkusan kain berwarna putih tersebut kepada James.


James dan aku saling berpandangan sejenak.


" Ini sudah di sucikan kan suster ?? " tanya ku dengan suara bergetar melihat bungkusan tersebut.


Tidak ku sangka, bungkusan kain berwarna putih dan terasa dingin saat ku pegang di karenakan sudah tersimpan beberapa hari dalam lemari pendingin pada kamar mayat Rumah Sakit ini.


" Iya Bu, kami sudah mensucikan nya " sahut perawat itu singkat.


" Iya Bu sama - sama, saya permisi dulu " jawab suster tersebut dan kemudian berpamitan untuk undur diri.


" Jangan di cium James, nanti air matamu menetes di kain kafan anak kita " ucap ku saat kulihat James berusaha akan menciumi jazad bayi kami dalam genggaman tangannya tersebut, jangan menghambat perjalannannya untuk menemui penciptanya. kamu harus yakin dia sudah bahagia karena bertemu Tuhannya yang sangat mencintainya dari pada kita orang tuanya. " sahut ku terenyuh melihat tingkah laku James yang masih belum merelakan kepergian bayi kami.


" Akan aku tahan tangis ku, biar aku bisa menciumnya untuk pertama dan terakhir kalinya " sahutnya dengan suara yang tertahan di tenggorokan dan terdengar sangat menyayat hati.


Dengan sekuat tenaga dia pun menahan tangisnya, dan mulai mengecup kain kafan berwarna putih tersebut dengan perlahan dan lama sekali.


" Apa kamu juga ingin menciumnya, bunda ??? ucap James kemudian dengan memberi ku panggilan untuk anak pertama kami yang tidak pernah lahir ke dunia ini.

__ADS_1


Ku raih dengan tangan ku bergetar hebat bungkusan kain kafan yang besarnya tidak lebih dari pada botol minum air mineral ukuran 350ml tersebut, kupandangi dengan mata berkaca - kaca dan kemudian aku teringat kejadian awal mula aku mengandung janin yang sudah tidak bernyawa ini.


Dengan tanpa persetujuan ku mereka melakukan Ensiminasi buatan kepada ku hingga kemudian mereka memaksa ku dan Angga untuk menikah secara sirih. sampai dengan beberapa kejadian yang membuat ku berharap ini bukan mimpi semata karena Angga ternyata memperlakukanku dengan penuh kasih sayang, hingga ahirnya mereka mau membunuh janin yang tidak beedosa dan menjadi jazat ini.


Ya Tuhan, ternyata engkau lebih menyayangi bayi tanpa dosa ini, bayi yang Ahirnya diciptakan untuk tidak pernah terlahir dari rahim ku.


Belum sempat aku memeluk dan mengucapkan kata perpisahan, dua buah tangan sudah merampas dengan lembut dari tangan ku.


" Sudah sebaiknya segera di makamkan saja kasihan bayi ini " sebuah suara yang terdengar tidak asing di telinga ku.


Ternyata benar di kamar rawat inapku ini sudah ada Beberapa tetangga ku yang datang untuk membesuk ku.


" Tapi aku ingin memeluknya " sahut ku memelas.


" Sudah sayang, kita jangan menunda untuk memakamkan nya kasihan dia " sahut James dengan menghibur ku.


Ahirnya aku harus mengikhlaskan nya.


karena aku tidak sanggup menahan haru dan perasaan hancurku berkecamuk menjadi satu di hatiku yang terasa sesak ini.


" Kamu jaga istri kamu saja James, biar kami yang akan memakam kan anak ini " tawar pak krisna suami Bu Krisna pada kami.


Kami sungguh bersyukur, para tetangga kami sangat baik dan mau membantu kesusahan kami saat ini.

__ADS_1


__ADS_2