
" Boy . . . benar kah ini kamu ??? " tanya ku sambil berteriak seakan kegirangan dengan menghampiri laki - laki yang duduk di kursi roda tersebut.
Hampir tidak percaya aku di buatnya, bahwa Dia benar James sahabat ku saat SMU dulu.
" Yes it's me princes " jawab James masih dengan logat khasnya saat kami masih SMU dulu.
Ku pandangi lekat wajah James sampai pada kedua kakinya yang hanya tinggal selutut saja, Aku benar - benar tidak percaya.
" Apa yang terjadi pada mu Boy ??? " tanya ku dengan suara parau dan air mata ku pun jatuh dengan sendirinya.
" Sudah . . . sudah . . . nanti saja di bahasnya, masak kita baru ketemu setelah sekian lama harus berharu biru begini sih " sahutnya lagi dengan menghibur ku.
" Lalu bagai mana, apa kah aku di terima untuk jadi loper koran di tempat mu ini ??? " tanya ku juga ingin mengalihkan pembicaraan kami yang membawa kesedihan ini.
" Kamu serius ingin menjadi loper koran di sini??? " tanya James dengan rasa penasarannya.
" Aku serius Boy, aku butuh makan dan butuh biaya untuk kelahiran anak ku ini " sahut ku dengan mengelus - elus perut buncit ku yang sengaja ku pamerkan dengan bangga pada James.
Ku lihat James meneliti perut ku dengan seksama, dan kemudian dia menatap wajah ku dengan mencari jawaban pasti di sana.
" Iya, aku seribu kali serius Boy " jawab ku dengan mata ku sedikit melotot pada James agar dia percaya.
__ADS_1
" Oke, baiklah . . . sebelumnya kita cari tempat yang syahdu dulu untuk membicarakannya lebih lanjut ya.aku masih penasaran nih dengan cerita kamu. " sahut James dengan mengajak ku kesebuah caffe yang tidak jauh dari perempatan tempat James mengais rezeki.
" Jadi begitu ya cerita mu, sehingga kamu bisa sampai di sini " ucap James pada ahirnya setelah panjang lebar mendengarkan kisah yang aku alami selama ini.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan kepala ku dan tidak bisa membendung air mata ku ini.
Seakan kembali aku flasback pada kejadian yang lalu saat aku masih bersama Angga.
" Aku minta maaf ya put, sudah memaksa kamu untuk mengingat kejadian yang membuat hati mu hancur itu, kembali. " sahut James kemudian dengan menggenggam kedua jari jemariku.
Terasa hangat jati jemari James kurasakan.
" Ti . . . tidak apa boy " sahutku dengan sesenggukan.
tanya James kemudian.
" Aku akan menjadi orang tua tunggal, Aku akan mempertahankan bayi ini James, Aku harus bisa, aku harus kuat untuk membesarkan anak ini, meski harus sendirian " sahut ku dengan mantap.
" Bolehkah aku membantu mu untuk membesarkan anak dalam kandungan mu itu?? " tanya James kemudian dengan suara yang lembut sekali dan tangannya semakin erat menggenggam tangan ku.
" Mak . . . maksud kamu Boy ??? tanyaku dengan benar - benar tidak mengerti apa yang sebenarnya dia katakan.
__ADS_1
" Aku kecelakaan saat kamu menikah dengan Bang Angga, niat ku untuk datang ke pernikahan kalian dulu. Aku berharap bisa membatalkan pernikahan kalian waktu itu, karena terus terang aku tidak rela kamu menikah dengan Bang Angga. Aku suka kamu putri, aku ingin aku saja yang bisa menikah dengan mu saat itu.
Ternyata aku kecelakaan tunggal dengan menabrak trotoar dekat rumah kamu sehingga aku harus kehilangan kedua kaki ku ini. " cerita James panjang lebar yang membuat aku sangat tercengang hampir tidak percaya dengan ceritanya tersebut.
" Bukan hanya kehilangan kedua kaki ku ini, orang tua ku membuang ku, ternyata mereka bukan orang tua kandung ku. Aku di ambil oleh mereka dari panti asuhan, di karenakan mereka belum juga mempunyai anak, sedangkan orang tua bang Angga yang menikahnya belakangan sudah di karunia'i anak yaitu bang Angga. Mereka malu mempunyai anak yang cacat seperti ku. " lanjut James bercerita yang membuat ku kembali tercengang untuk kedua kalinya.
" Aku di buang di pusat rehabilitasi, mulanya aku sempat putus asa dan ingin mengakhiri hidup ku saat itu juga, tapi kemudian aku sadar. Akan aku buktikan pada mereka bahwa anak yang di buang ini bisa hidup sejahtera " sahut James lagi dengan matanya yang sembab dan wajahnya yang di tundukkan dalam - dalam.
" James . . . " sahut ku dengan tak sanggup lagi meneruskan kalimat, seakan - akan leherku tercekik.
ku genggam erat jari jemarinya yang mualai terasa dingin itu.
" Ada hal lain yang belum aku ceritakan kepadamu, put " ucap James kemudian yang membuat ku penasaran.
" Ceritakan semuanya pada ku Boy, agar sesak didada mu jadi hilang " hibur ku pada James yang sangat aku kenal, dia tidak akan dengan mudah menceritakan masalah pribadinya.
" Aku sudah tidak memiliki harta apa pun saat ini dan juga . . . dan juga . . . " sahutnya dengan terbata dan air matanya sudah deras membasahi pipi dengan jambang yang jarang tersebut.
" Ceritakan boy " sahut ku dengan masih menggam erat jari jemarinya.
" Aku . . . aku sudah tidak sempurna lagi sebagai laki - laki, selain lumpuh aku juga impoten akibat kecelakaan itu. Aku sudah tidak bisa lagi untuk punya keturunan put " sahut James lagi dengan terisak dan menciumi tangan ku kemudian.
__ADS_1
Aku pun tak sanggup mendengar ceritanya, dengan beranjak bangkit dari duduk ku untuk menghampirinya dan ku peluk James dari belakang, air mata ku pun juga sudah tidak dapat ku bendung lagi