
" Sayang, kamu sudah sadar ??? aku kangen sekali, apa kamu tidak kangen padaku ??? " sapa ku pada suami tercintaku yang sedang terbaring tidak berdaya di kamar VVIP rumah sakit ini.
Terlihat selang infus, dan beberapa selang - selang yang lain yang berfungsi untuk membuat suamiku tetap hidup sampai saat ini.
Suara alat rekam jantung yang nyaring bunyinya membuat bulu kudukku merinding, belum lagi terdengar suara ngorok dari mulut James yang terdengar samar meski dia sudah sadar sepenuhnya.
Suara tersebut membuat nyaliku ciut.
Ya Tuhan . . . semenderita ini kah dirimu James???
Semakin aku merasa bersalah dan takut akan kehilangan James dari sisiku.
" Aku mencintaimu Putri " ujarnya dengan suara parau dan lirih sekali, terasa menyayat hatiku.
Kemudian ku genggam jemari tangannya yang terasa dingin itu.
__ADS_1
ku tahan tangis ku dengan amat sangat penuh perjuangan untuk menahannya sekuat tenagaku.
Aku teringat pesan mami, papi dan mama untuk senantiasa tegar di depan James.
" TUHAN AKU MOHON LINDUNGI SUAMIKU, AKU TIDAK INGIN KEHILANGAN DIA. AKU INGIN HIDUP DENGANNYA SAMPAI KAMI TUA NANTI.
TUHAN . . .
KABULKAN DO'AKU KALI INI SAJA, AKU MOHON TUHAN "
Rintih ku dalam hari ini
" Sayang, kamu jangan banyak bergerak dulu. Tolong kamu hemat tenaga kamu, aku yakin kamu pasti sembuh dan kita akan bersama lagi ya " ucapku kepada James dengan ku belai lembut dadanya yang selalu di pegang nya stiap saat dia berbicara atau setiap saat dia bergerak.
" Sudah tidak ada waktu lagi istriku, aku harus menyelesaikan tugasku sebagai suami dan kepala keluarga kita " sahut James lirih dengan masih menahan sakit.
__ADS_1
" Tidak apa putri, biarkan James menyampaikan sesuatu pada kita, di saat di masih bisa menyampaikannya. James, coba katakan kepada kami apa dari keinginanmu yang belum terwujud nak " ujar Papi berusaha menenangkan aku.
Aku pun tidak bisa mengelak lagi, Benar kata Papi. Akan aku lakukan sebisaku apa yang akan di minta James untuk yang terahir kalinya, mungkin ini bentuk cinta dan pengabdian ku untuk yang terahir kalinya untuk suamiku tercinta.
" Sebenarnya aku sudah cukup bersyukur Pi, semua keinginan ku sudah tercapai sebelum aku menutup mata. Bahkan keinginan terbesarku untuk menikah dengan wanita yang amat sangat aku cintai sudah tercapai. Aku hanya ingin putri dan bang Angga menikah saat ini juga sebelum aku ahirnya harus meninggalkannya sendiri di dunia ini.
Aku harap kamu putri mau menerima permintaanku yang terahir ini " ujar James panjang lebar
" Gila kamu Boy, aku tidak Sudi. " ujarku dengan dadaku yang tiba - tiba sesak mendengar permintaan suamiku yang tidak masuk akal tersebut.
" Sayang, dengarkan penjelasan suami mu dulu " sahut mami James dengan memegangi jemariku dan kemudian meremasnya dengan lembut.
" Aku ingin kamu ada yang menemani nanti kalau aku sudah tidak di sisimu lagi sayang. Sengaja aku memilih Bang Angga, karena aku sudah mengenalnya luar dalam dan tentang dulu dia menelantarkan mu aku juga sudah tahu alasannya dan aku juga bisa menerimanya. Tolong lah sayang, aku mohon. Aku hanya ingin kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Terimakasih atas cinta, perhatian dan kebersamaan kita selama ini. Aku akan menyimpannya di dalam sini sampai aku mati nanti. Aaaaaaaakh . . . " ucap jamea dengan menunjuk dadanya dan tiba - tiba dia memegangi dadanya menekannya dengan kuat serta mata nya terpejam dan mulutnya mengerang menahan sakit.
Spontan kami yang masih berada di kamar VVIP ini pun kalang kabut di buatnya.
__ADS_1
Tangan kanan James masih memegang erat tanganku saat aku ikut beranjak panik untuk meminta pertolongan.
Seakan James tidak mau aku pergi dari sisinya