Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 97


__ADS_3

Siang ini Angga mengantarku untuk pergi ke caffe dan memperkenalkan aku kepada para karyawan di sana bahwa aku adalah pemilik baru dan mulai sekarang akan mengelola caffe tersebut.


Aku juga mengatakan kepada Angga untuk tinggal di caffe tersebut seperti dulu saat Angga juga pernah tinggal di sana.


Mulanya Angga tidak mengizinkannya, tapi aku terus saja memaksanya untuk tinggal di sana.


Dulu aku pernah jatuh cinta pada tempat tinggal sementara Angga di sana.


Tempatnya sangat nyaman dan di kelilingi suasana yang sangat asri.


Aku jadi membayangkan untuk menggunakan waktu luang ku berkebun di sana.


Duuuuh . . . tidak sabarnya aku mewujudkan angan - angan ku itu menjadi nyata.


Setelah tiba di sana Angga pun mengumpulkan para pegawai di caffe ini sejenak untuk memperkenalkan aku kepada mereka.


Ternyata para pegawai di sini seluruhnya adalah wajah - wajah baru dan masih muda - muda.


Memang di sini adalah daerah kampus, jadi kebanyakan para pekerja di sini juga mahasiswa dan mahasiswi dari kampus sekitar sini saja.


Setelah perkenalan semuanya pun di minta Angga untuk kembali ke posisinya masing - masing. Hanya tinggal dua orang saja yang menjadi orang kepercayaan Angga untuk mengelola caffe ini saat Angga beberapa bulan ini tidak bisa menghandle nya


" Put, perkenalkan ini Mirza dan Adela, mereka yang membantuku mengelola tempat ini. " Angga memperkenalkan dua orang tersebut kepadaku.

__ADS_1


Kami pun berjabat tangan untuk memperkenalkan diri masing - masing.


Kulihat meraka seumuran denganku, dan mereka terlihat jujur dan orang - orang yang baik.


" Oh iya Bang, kami sudah membersihkan ruangan kerja Abang seperti yang Abang minta ' ucap Mirza dengan melaporkan hasil kerjanya kepada Angga.


" Oh iya . . . ??? Terimakasih kalau begitu. Tempat itu akan di tempati Ibu putri kedepannya " sahut Angga dengan sumringah


" Tidak, jangan panggil aku ibu. cukup panggil nama saja. kita kan seumuran " sahutku melepaskan kekakuan ini.


" Jangan lhaa . . . masak pimpinan panggilnya begitu. meski kita seumuran tidak pantas. Bagaiman kalau kita - kita panggil mbak saja ??? " usul Adela


" Masuk akal juga, baik lah aku terima usul kalian " sahutku dengan girangnya.


Masalah penjualan,


Masalah belanja,


dan lain lainnya.


Sampai tidak terasa ahirnya sampai juga pada jam tutup caffe.


Para karyawan pun berpamitan untuk pulang, tidak terkecuali Mirza dan Adela.

__ADS_1


Ahirnya tinggal kami berdua saja di dalam caffe ini. suasana caffe tampak sepi sekali.


Tidak hingar bingar seperti tadi sebelum tutup.


" Masih ramai seperti dulu ya caffe ini " gumanku


" Iya, tapi masih ramai sekarang. Anak - anak pegawai kita menciptakan beberapa menu yang membuat para pelanggan pada berdatangan " sahut Angga membanggakan caffe dan para pekerjanya yang sangat kompeten.


" Oh iya . . . Benarkah. Hebat ya mereka " sahutku ikut merasa bangga juga.


" Nanti juga kamu bisa berkreasi makan dan minuman di sini. Aku dengar dari mama dan James kamu juga hobi masak " ucap Angga yang membuatku tersipu malu.


" Tidak juga, hanya saat lagi ingin saja aku ke dapur untuk masaknya " sahutku masih dengan malu - malu


" Tapi suatu saat aku ingin sekali merasakan masakan buatan mu " ucap Angga dengan seriusnya.


Dia menatapku lekat sekali saat usai mengatakan itu.


Mata kami saling bertatapan bertemu pandang.


Lama kami saling bertatapan hingga wajah Angga mendekat perlahan ke wajahku.


Kemudian kurasakan nafas hangat Angga menyapu wajahku dengan basah.

__ADS_1


" Aaaaaaakh . . . sebaiknya kita cari makan, perutku lapar sekali. " sahutku dengan beranjak bangkit dari dudukku dan pergi meninggalkan Angga yang mematung duduk di dalam caffe ini.


__ADS_2