
" Aku juga mau menabahkan Om, Semua aset dari caffe adalah milik kami berdua dan juga atas nama kami berdua, di kesempatan kali ini aku juga mau bilang kalau aku menyerahkan semua aset dan kepemilikan caffe atas nama Putri saja. Biar dia yang mengelolanya mulai hari ini. Karena aku juga kesulitan untuk memantaunya karena kesibukanku " ujar Angga ikut memberikan caffe yang sebenarnya milik mereka Angga dan James.
" Nah putri, kamu sekarang punya kesibukan baru. supaya kamu tidak memikirkan mendiang James terus ya. Supaya kamu juga tidak jenuh selalu berada di rumah " ujar mama ikut duduk di sebelahku dan memelukku untuk memberikan support untukku.
Tuhan sangat beruntung sekali aku, aku di kelilingi orang - orang yang sangat mencintai dan menyayangi aku sebanyak ini.
Memiliki dua orang ibu dan seorang ayah yang luar biasa sayang nya kepadaku, sebagai ganti ayah dan ibu ku yang telah menelantarkan dan tidak perduli sama sekali kepadaku selama ini.
Tuhan dan kamu James aku ucapkan banyak syukur dan terimakasih ku yang tidak ada putusnya aku ucapkan atas semuanya ini kepada kalian.
Aamiin.
Samsudin pun undur diri setelah merasa faham dengan apa yang di instruksikan kepadanya dari papi dan Angga.
Dengan sebelumnya kami memaksanya untuk ikut acara makan malam keluarga kami.
Papi dan Angga mengantarkan Samsudin keluar sampai pintu depan rumah yang megah berarsitektur Gaya bangunan Inggris ini.
" Sekar aku ingin ngobrol dulu denganmu berdua saja. Apakah kamu mau ??? " ujar Angga mencegahku saat aku akan melangkahkan kaki ku masuk kedalam kamar tidurku.
__ADS_1
" Ada apa . . . " sahutku singkat dengan sedikit penasaran apa yang akan di bicarakan ya denganku.
" Ayo kita bicara di tempat lain. Itu pun kalau kamu mau juga sih " sahut Angga dengan celingukan dan sesekali menggaruk - garuk kepalanya yang aku yakin tidak lah gatal.
Lucu sekali pose yang dia perlihatkan padaku
seperti hari - hari yang lalu.
" boleh, tapi aku mau ambil jaket ku dulu. Sudah malam aku takut nanti di luar dingin " sahutku dengan melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengambil jaket ku.
Ahirnya kami pun membelah keheningan malam ini dengan menaiki mobil sport milik Angga untuk menuju sebuah caffe.
Angga memilih tempat yang agak pojok dan tidak banyak pengunjung di sana.
Kami pun duduk berhadapan dan saling memesan Snack dan minuman yang menjadi favorit kami.
" Enak juga suasana di sini. tidak terlalu ramai juga " ujar Angga dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling caffe ini.
Aku pun menjawabnya dengan mengangguk saja dengan meminum minuman pesananku Es lemon tea.
__ADS_1
" Begini putri, aku akan bicara denganmu tentang hubungan kita ke depannya.
Aku sebenarnya tidak bekerja di sini. pekerjaanku ada di kota S, aku harus bolak balik kesini untuk membantu kalian dulu semenjak James sakit. Aku mau tanya apakah kamu mau ikut denganku di kota S atau kami mau tetap di sini atau kami mau mengelola caffe yang lokasinya lebih dekat dengan kota S ?? " Ujar James menjelaskan maksud dan tujuannya untuk mengajakku berbicara di luar rumah.
" Aku masih belum kepikiran untuk itu. Aku masih mau menyelesaikan kuliahku yang tinggal sedikit lagi untuk melakukan wisuda. Setelah itu aku akan memutuskan untuk tinggal di mana ?? " sahutku sedikit cuek dengan pernyataan Angga tersebut.
" Kapan kamu akan wisuda, aku akan meluangkan waktuku untuk mengantarmu " sahut Angga dengan serius.
" Minggu depan aku akan di wisuda. Baik aku akan berangkat kesana denganmu " sahutku.
" Ya sudah, aku akan menunggu jawaban darimu. Tapi kalau aku boleh tanya, apa kamu akan tinggal di rumah orang tua James selama ini ??? " tanyanya padaku.
" Aku juga bingung, semua orang sangat baik dengan ku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka semuanya, aku juga merasa nyaman untuk tinggal dengan mereka semuanya di sini. " jawabku bimbang.
" Ya sudah terserah kamu, aku juga tidak bisa memaksamu untuk tinggal di mana.
Aku juga minta maaf, dulu . . . dulu aku sudah mengecewakanmu, dulu aku juga tidak perduli kepadamu, padahal kamu telah mengandung anak ku darah daging ku. Aku sangat minta maaf sekali atas semuanya di masa lalu. " ujar Angga dengan suara yang parau.
Ku pandangi wajah Angga dengan lekat sekali. kucari kejujuran di matanya yang terlihat jernih itu.
__ADS_1
Mata itu penuh dengan kejujuran. Tetapi hatiku sudah terlanjur membatu untuk sekedar memaafkannya atas apa yang dia lakukan dulu kepadaku.