Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 87


__ADS_3

" Maaf Pak, Bu kami sudah berusaha semampu kami. Tapi ini semua tergantung kepada sang pencipta. Kalau boleh saya mengatakan ini suatu keajaiban, sebenarnya tanda Vital Bapak James sudah berhenti, seharusnya kami sudah mengabarkan kematian Bapak James. Tapi kenyataannya Bapak James masih bisa berinteraksi sampai saat ini. Ini suatu mukjizat dari Tuhan " ujar seorang dokter yang memeriksa James barusan.


Lemas rasanya tubuh ini mendengar penjelasan dokter barusan.


" Secepat ini kah kamu harus pergi Boy ??? " ucapku nelangsa dalam hati


" Sayang kasihan James, ikhlaskan dia supaya dia sudah tidak merasakan kesakitan seperti ini lagi. Mama yakin dia akan mencintaimu selamanya. Tapi untuk saat ini dia benar - benar membutuhkan keikhlasan mu untuk melepasnya pergi. ' bisik mama yang baru saya sah menjadi mertuaku ini dengan berbisik lembut dan mengusap - usap punggungku.


Sejenak Aku Ter sadar dengan ucapan mama barusan. Benar apa kata mama, James sudah lama menderita. Bahkan dia memaksakan bahagia meski sebenarnya dia menahan sakit yang amat sangat. Semuanya demi membahagiakan aku selama ini. Ya Tuhan, ternyata aku sangat egois sekali.


Ternyata aku tidak membalas cinta, perhatian dan kasih sayang dari James sepenuh hati.


Aku hanya memanfaatkan dia untuk kesenanganku dan pelampiasan ku untuk pergi jauh dari Angga dan kehilangan bayi kami.


" Tuhan maafkan aku . . ." arintihku sekali lagi dalam hati


" Benar kata mama kamu Putri, tolong ikhlaskan James, antar kepergiannya dengan rasa cinta dan ikhlas kamu ya sayang " bisik mami James dengan penuh harap kepadaku.


Kemudian dengan mencoba untuk ikhlas aku pun menggenggam tangan James dengan erat, ku dekatkan bibirku untuk mencium kening suamiku tersebut, kemudian bibirku berpindah di telinganya.

__ADS_1


' Sayang aku ikhlas melepas mu, pergilah dengan tenang, jangan kamu merisaukan ku. Di sini banyak orang - orang yang mencintaiku. Kamu jangan kawatir ya sayang. aku akan selalu mencintaimu ' bisik ku lembut di telinganya.


Kurasakan tangan James menggenggam erat jemari tanganku, dan juga terdengar erangan yang terdengar pelan tapi sungguh menyayat hati yang mendengarnya.


Ku lihat James mulai meregang nyawa.


Dengan perlahan ku tuntun dia melafalkan syahadat.


dengan sekali tarikan nafas yang ringan sekali ahirnya James sudah meninggalkan kami semuanya.


Tidak kudengar raungan suara tangis melepas kepergian James sore ini.


Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri yang pasti saat aku terbangun aku sudah di sebuah ruangan yang tidak asing meskipun hanya semalam aku pernah tidur di sini.


Ini kamar James yang berada di rumah orang tuanya.


Kulihat Angga masuk kedalam kamar ini, dan mendekatiku yang masih belum mampu bangkit dari tidurku. Kurasakan tubuh dan sendi - sendiku sangat lemas sekali.


" Kamu sudah sadar putri ??? apa kamu minum ??? " tanya Angga dengan suara yang pelan dan terdengar parau sekali

__ADS_1


" Di mana James ??? " tanyaku dengan suara parau tanpa berniat menjawab pertanyaan Angga barusan.


" Kami sudah memandikan jenasahnya, tapi kami menunggumu sadar untuk pemakamannya. " sahut Angga masih dengan suara pelannya.


Aku mencoba bangkit untuk segera melihat wajah james untuk terahir kalinya,


Tapi tubuhku ini benar - benar tidak bisa di ajak kompromi.


Tiba - tiba tubuhku ambruk kembali tapi tidak pada tempatnya dan hampir terjatuh dari tempat tidur yang agak tinggi ini.


Untung saja Angga dengan sigap menopang tubuhku dan tidak sampai jatuh ke lantai.


" Aku gendong kamu untuk melihat James ya ??? " ujar Angga meminta izin padaku untuk menggendongku menuju tempat James di semayamkan.


Sekujur tubuhku amat sangat lemas sekali, sampai - sampai untuk menjawab pertanyaan Angga barusan saja aku tidak sanggup, aku hanya memberi isyarat kepada Angga dengan menganggukkan kepalaku sekali, dan angga pun mulai menggendongku untuk menuju tempat jazad James di semayamkan.


Di luar kamar sudah ada mama, mami dan melisa yang menunggu kami.


mereka bertiga tersenyum lembut melihatku, seakan mereka memberiku kekuatan dengan senyuman tersebut.

__ADS_1


__ADS_2