
" Kamu sudah sadar, Putri ??? " tanya Angga padaku dengan nada khawatirnya saat aku membuka mataku yang masih terasa panas ini.
Masih tercium kentalnya bau rumah sakit ini, dan aku tergolek di salah satu ranjang di rumah sakit tempat Angga di rawat.
" Sengaja aku meminta agar kamu juga di rawat di dalam kamar ini bersamaku.
Supaya aku bisa melihat kondisimu dan tidak bolak balik karena aku juga masih seperti ini kondisiku " ujar Angga menjelaskan mengapa kami di rawat dalam satu ruangan ini.
" Tidak apa - apa Mas, aku tidak masalah. Malah aku bersyukur saat tersadar langsung melihatmu " sahutku dengan mencoba untuk bangun dari rebahan ku.
" Kamu jangan bangun dulu, tadi suster berpesan kalau tensi darah kamu rendah. Akan berpengaruh pada penglihatan dan tubuhmu nanti " sahut Angga saat melihatku bangun dari tidurku.
Tak ayal, kepala ku terasa pusing sekali dan penglihatan ku terasa gelap seketika.
Dan dengan terpaksa aku pun kembali merebahkan tubuhku di ranjang tersebut.
" Put . . . putri . . . kamu tidak apa - apa kan ??? aku akan panggil dokter untukmu. " ujar Angga yang ternyata sudah berdiri di sebelahku.
" Mas, kok kamu bangun sih. Apa bekas operasi mu tidak sakit ??? " sahutku terkejut, Aku takut melihatnya mengerang kesakitan lagi.
" Tidak . . . aku tidak apa - apa. Memang seharusnya aku mulai menggerakkan tubuhku supaya tidak kaku nantinya " sahut Angga dengan suar pelan sekali dan tangan kami masih saling menggenggam.
__ADS_1
Aku tahu dia sangat menahan sakit untuk bangun dan mendatangiku. Tadi dia mencengkeram tanganku dengan erat, menandakan dia menahan rasa sakitnya. Tetapi dia tidak mengakuinya.
" Mas, aku janji akan istirahat dan tidak akan kemana - mana, tapi aku mohon kamu segera kembali ke ranjang mu.
Kamu pasti capek " pintaku padanya.
Angga pun menurut untuk kembali ke ranjangnya untuk istirahat.
Aku merasa lega sekali dia sudah tidak menghawatirkan aku.
Lama sekali kami saling terdiam, bagiku tidak ada pertanyaan atau pun kata - kata yang ingin aku ucapkan.
kami sama - sama kehilangan kata - kata untuk bisa mengobrol santai saat ini.
" Belum, aku masih belum mengantuk. Apa kamu sudah mengantuk
putri ??? " ujar Angga balik menanyaiku.
" Belum mas, mungkin tadi aku sudah terlalu lama tidurnya. Aku lapar mas, dari kemarin aku belum makan " sahutku dengan nada merajuk.
" Aaaaakh iya, kenapa aku tidak kepikiran ya. " sahut Angga dengan mencoba untuk bangkit dan mencarikan ku makanan.
__ADS_1
" Tidak usah repot mas, biar aku saja. Aku akan pesan makanan lewat aplikasi pesan antar online saja. " sahutku melarangnya untuk bangun.
" Mama tadi berpesan agar kamu memakan makan
yang di bawa Mama dari rumah tadi pagi. Mama sudah menyiapkan nya untuk kamu juga tadi katanya. " ujar Angga dengan menunjukan penyimpan makana tersebut di dalam nakas sebelah kiri ranjang Angga.
" Iya, biar aku ambil. Sebentar pusingku masih belum hilang mas. " sahutku dengan masih menahan pusing yang amat sangat ini.
Aku berfikir mungkin ini karena aku telat makan dan banyak kejadian di luar dugaan ku yang membuatku terkejut sangat kemarin hingga hari ini.
Dengan sedikit sisa tenagaku aku pun memaksakan diriku untuk bangun dan melangkah ke tempat nakas di sisi ranjang Angga.
Ketemu ahirnya apa yang aku cari.
Nasi beserta lauk dan sayuran di letakkan terpisah di beberapa tempat stainless yang kedap udara sudah ada di meja yang bisa si letakkan di atas ranjang.
Sengaja aku meletakkannya di atas meja ranjang Angga supaya Angga juga bisa memakannya bersamaku.
" Maaf put, aku masih belum boleh makan makana yang kasar " sahut Angga saat aku akan menyuapinya bareng untuk makan bersama ku.
" Jadi bagaimna dengan makanan ini mas " tanyaku manja
__ADS_1
" Aku yakin kamu berani menghabiskannya sendirian " sahut Angga dengan mencolek ujung hidungku.
Aku pun memasang mimik cemberut hingga ahirnya kami pun bisa tertawa bersama.