Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 54


__ADS_3

Sesuai dengan rencana aku pun ahirnya sudah terdaftar sebagai mahasiswa dalam sebuah perguruan tinggi swasta di kota ini.


James tidak berhenti di situ, dia juga mengantar jemput aku untuk pergi dan pulang kuliah, dengan menaiki motor milikanya yang sudah di modifikasi khusus untuk pengendara yang cacat.


Sebegitu besarnya James padaku.


" Sebelum pualang kamu mau makan apa ??? Atau kita jalan - jalan dulu ??? dedek bayinya apa tidak pengen beli baju, atau perlengkapan yang lain ?? " tanya James hampir setiap hari dia menjemput ku pulang kuliah.


" Tidak boy, aku hanya ingin pulang dan rebahan di rumah. Aku capek sekali ' sahut ku dengan ku sandarkan tubuh ku punggungnya yang gagah tersebut.


" Bener nih tidak mau kemana - mana ??? " tanyanya lagi untuk sekedar meyakin kan ku.


Aku pun membalasnya dengan gelengan kepalaku.


" Aku tidak menyangka kamu akan kecapek'an sejak kuliah. Apa kamu mau ambil cuti saja, tunggu sampai kamu lahiran baru Julian lagi " sahut James dengan nada kawatir.


" Tidak apa - apa boy, mungkin juga masih adap tadi kan " sahut ku lirih masih dengan ku sandarkan tubuh ku di punggungnya dan ku peluk erat pinggang yang ramping tapi berotot tersebut.


" Ya sudah, kalau nanti kamu tidak sanggup kamu bilang ya, aku akan menguruskan surat cutimu " sahutnya dengan menggenggam tangan ku sekilas.

__ADS_1


Aku membalasnya dengan anggukan lagi.


Terasa nyaman punggung gagah James ini, hangat dan . . . aku suka sekali berada di sana untuk waktu lama.


Kenapa dulu bukan kamu saja yang jadi cinta pertama ku James.


Kenapa juga aku tidak menyadari rasa cinta mu yang besar dan tulus kepada


ku selama ini.


semakin ku eratkan pelukan ku pada perutnya yang berotot ini, meskipun dia kehilangan kedua kakinya sebatas lutut, James tidak pernah absen untuk berolah raga.


seperti mengangkat barbel, dan yang ringan - ringan yang lainnya.


" Kenapa sayang ??? " tanyanya saat aku memeluknya erat.


" Tidak . . . tidak apa - apa kok. apa kamu tidak bisa bernafas, karena aku terlalu erat ya ??? " tanyaku sekian aku sadar telah menyakitinya.


" Tidak, aku malah suka " sahutnya dengan menggenggam erat jariku dengan tangan kirinya.

__ADS_1


Ahirnya aku pun mengencangkan pelukan ku sekali lagi di perut berotot tersebut dengan senyum bahagia.


Mungkin ini ya yang di namakan mengarungi bahtera rumah tangga yang sesungguhnya.


Setiap harinya aku hanya merasakan bahagia, apakah ini karena aku baru saja menikah.


Aaakh . . . semoga saja tidak, semoga saja James akan selalu menyayangi dan mencintai ku sampai aku tua nanti.


semoga saja dia akan seperti ini pada ku dan anak dalam kandungan ku yang seperti janjinya bahwa ini akan menjadi anak kandungnya.


" Tuhan Tolong izinkan aku untuk memiliki James sepanjang waktu ku " Do'a ku dalam hati ini.


" Boy, sepertinya aku lapar deh " celetuk ku saat kami melewati warung penjual sate di pinggir jalan yang kami lewati ini.


" Yang lapar ibu atau anaknya nih " sahutnya dengan tiba - tiba menghentikan motornya yang memang tidak di pacunya kencang tadi.


" Eeeem . . . aku rasa dua - duanya sih " sahut ku dengan nada manja ku


" Ok kalau begitu kita pesan porsi triple ya " sahutnya dengan mulai turun dari motor nya dengan menggunakan tongkat untuk menggantikan menyangga kakinya.

__ADS_1


Ku bantu dia untuk menggunakan tongkat tersebut dengan penuh cinta


__ADS_2