
Kak Tasya tidak mampu bertahan lagi untuk melawat penyakitnya itu.
Tepat satu Minggu di rumah sakit dia pun menghembuskan nafas terakhirnya.
" Pergilah dengan tenang kak, peecayakan ayah dan ibu kepadaku. Aku akan menjaga dan menyayangi ayah dan ibu. Jangan kawatir kak " bisikku pada saat kakak akan di sucika di rumah sakit ini
" Kulihat ayah dan ibu tidak dapat membendung rasa haru harus kehilangan putri tercintanya.
Untuk saat ini aku sama sekali tidak merasa iri tentang kasih sayang yang berlebihan yang di berikan ayah dan ibu kepada kak Tasya.
Saat ini aku sangat bisa memahaminya.
Prosesi pemakaman kakak sangat mengharukan, tidak ada teman atau kenalan kakak yang hadir. Bahakan tetangga pun tidak ada satu pun terlihat datang untuk mengantarkan kepergian kakak.
Selain karena penyakit yang di derita kakak, keluarga kami juga terkenal dengan keluarga yang sombong dan suka berburuk sangka serta menghina orang.
Ya Tuhan . . .
Lengakap sudah penderitaan yang dialami keluargaku.
Ya sudah, biarlah waktu saja yang akan menjawab semuanya ini nanti.
__ADS_1
Rumah Kami hampir lima puluh persen dalam masa pembongkaran.
Ibu dan ayah ku minta untuk bersabar menunggu rumah jadi seratus persen.
Ibu dan ayah juga merasa nyaman menempati rumah kontrakan yang di pilihkan Angga.
Meraka mencoba berkebun dengan media poli bag, agar nantinya bisa di pindahkan ke rumah mereka saat jadi nantinya.
Angga dan aku sepakat agar aku saja yang menyebut sertifikat rumah yang orang tuaku gadaikan untuk pengobatan kakak dulu.
Aku merasa tidak enak hati, sebab untuk merobohkan bangunan rumah dan membangunnya lagi Angga pasti mengeluarkan banyak uang untuk itu.
Tidak tanggung - tanggung, Angga pun menyerahkan pembangunan rumah kepada arisitek kenalannya dan pemborong yang juga menjadi kenalannya juga.
Mama pun memaksa untuk kami tinggal di sana menemani beliau.
Sehingga ahirnya kami putuskan untuk mengkontrak kan apartemen milik Angga dari pada di biarkan kosong.
" Oooh . . . Jelas kamu yang harus membayar mahal untuk pembangunan rumah itu. Kamu kan anak satu - satunya sekarang " sahut Angga dengan menggodaku.
" Apa maksudmu mas, aku harus bayar " tanyaku terkejut sekali dengan ucapap Angga barusan.
__ADS_1
" Jadi ini semua ada balasannya.
Aku kira kamu tulus membantu orang tuaku ??? " ujarku dalam hati, sedikit kecewa aku mendengarnya.
" kamu tahu, kamu harus bayar pakai apa untuk kerja kerasku membangun kembali rumah orang tuamu ??? " ucap Angga lagi dengan nada sinisnya.
" Ya Tuhan . . . " rintihku dalam hari mendengar ucapan Angga barusan.
hampir saja aku meneteskan air mataku saat mendengar ucapan Angga barusa .
" Kamu cukup membayar ku dengan tubuh mu dan mau melahirkan anak - anakku saja. Mudah kan??? Aku sudah tidak sabar menunggu janji mu yang selalu kamu tunda - tunda itu sayangku " ucap Angga dengan menyerang ku sampai membuatku kewalahan menerima cuman, belaian dan . . .
Ahirnya kami pun menunaikan tugas kami yang tertunda sebagai suami istri.
Pelan tapi pasti Angga membimbingku untuk mencapai apa yang menjadi tujuan kami.
Meski di awal sangat menyakitkan tetapi ahirnya aku sangat menikmatinya.
Sampai kami pun mengulanginya lagi dan lagi.
CT
__ADS_1