
Melihat kondisi ayah dan ibu aku pun tidak kuasa membendung tangisku.
Tidak ada pelukan hangat dan jabat tangan hangat pula untuk mengawali pertemuan kami.
Kupandangi dengan nanar kedua sosok yang ada di hadapan kami ini.
Ayah dan ibu terlihat renta sekali.
Ya Tuhan . . .
Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka berdua ???
Begitu keluh lidahku untuk mengucap kata dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka.
mengapa hidup mereka seperti ini ???
Tuhan begitu teganya aku dulu mendo'akan keburukan untuk kedua orang tuaku, sehingga mereka mengalami penderitaan seperri ini.
Kami sama - sama terdiam seribu bahasa.
Hanya hati kami yang saling menyapa dan berbicara dalam keheningan.
Nanar pandanganku melihat keadaan kedua orang tuaku.
Sengaja ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan di dalam rumah ini.
Ya tuhaaaaan . . .
Barang - barang yang kami miliki dahulu pada kemana.
__ADS_1
hanya tersisa beberapa saja dan rumah ini terlihat kosong dan hampa.
meja kursi pun tidak ada di sini.
Hanya sebuah karpet lusuh dan tua saja yang Terpasang di bekas meja kursi dulu.
" Silahkan duduk " ujar ayah mempersilahkan kami untuk duduk.
Kami pun Gamper bersamaan bergerak untuk duduk di bamparan karpet lusuh tersebut.
" Maaf ayah, ibu. Kami datang terlambat untuk menjenguk kalian " ucap Angga memecah keheningan ini.
Tangan Angga masih saja menggenggam tanganku dengan erat dan membawanya di pangkuannya yang tengah duduk bersila.
Sehingga membuatku duduk merapat dengannya.
" Tidak apa - apa, kami juga kehilangan kontak dengan kalian selama ini. " sahut ayah yang terdengar suaranya sedikit bergetar.
Perkenalkan Nama saya Angga Bara, dan sekarang saya adalah suami dari putri kalian, yaitu Putri Samuel. " sahut Angga dengan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan ayah.
Lama sekali ayah tidak membalas jabatan tangan Angga, sedikit pun aku tidak berani melihat wajah ayah dan ibu.
" Iya Angga, terimakasih kamu sudah mau menikahi Putri lagi " sahut ayah dengan membalas jabatan tangan Angga.
Sontak aku pun mulai berani menatap wajah ayah dan ibu.
Kulihat juga ibu tersenyum kepadaku. terlihat jelas meski wajah keriput itu jelas terlihat menghalangi wajah ibu.
" Ibu bersyukur nak, kamu masih mau mengingat ibu. Ibu kira kamu sudah tidak mau lagi mengakui kami orang tuamu.
__ADS_1
Dengan kaki gemetar aku pun datang ke pelikan ibu dengan berjalan jongkok.
" ibu . . . Ayah . . . aku kangen " jeritku tertahan dengan memeluk kedua orang tuaku.
Ayah dan ibu membalas hangat pelukanku. Meraka pun tidak dapat membendung tangis haru bercampur bahagianya bertemu denganku lagi.
" Maaf kan ayah dan ibu ya nak " pinta ayah dengan suara tercekiknya menahan haru.
' Tidak ada yang perlu di maafkan ayah, ibu kalian tidak bersalah kepadaku. Akulah sebagai anak yang kurang peka akan kasih sayang kalian berdua " sahutku dengan menciumi ayah ibu bergantian.
Lama kami saling melepas kangen sampai - sampai Angga terlupakan.
Saat sadar aku melihat kebelakang untuk mencari suamiku. Ku temukan Angga dengan kepala menunduk dan ikut menitikkan air matanya.
Kemudian kami saling pandang untuk melempar senyum bahagia.
" Kamu tahu kondisi kakakmu sekarang put ??? " tanya ibu kemudian
' Maaf Bu, aku tidak pernah mendengar kabat dari kakak atau pun bertemu dengannya " sahutku dengan merasa bersalah.
" Mari ikut ibu nak " ajak ibu dengan menggandeng tanganku kami pun berdiri dan berjalan menuju kamar kak Tasya.
Ya Tuhan . . .
Aku melihat sosok kurus kering sedang tertidur dalam ruangan yang tertutup dengan kaca penuh tersebut.
Di dalam sana ada kak Tasya.
Walau pun terlihat seperri mayat hidup dan tanpa daya, aku masih mengenalinya.
__ADS_1
Yaaaa . . . dia kak Tasya kakak ku satu satunya.
" Sakit apakah dia sehingga harus di isolasi dalam ruangan seperri ini ??? " pikirku keras dalam hati.