
Begitu tiba di Rumah Sakit yang biasanya untuk James Cek Up, James langsung di bawa ke ruangan HCU.
Dia mendapatkan beberapa tes hingga memakan waktu hampir satu jam lamanya.
Kami, mami, papi, mama, Melisa, Angga, dan aku sendiri menunggu di ruang tunggu dengan perasaan bercampur aduk.
" Sabar ya sayang, kamu harus kuat dan banyak lantunkan Do'a untuk suamimu. Apa pun hasilnya kamu harus ikhlas. Kamu tidak ingin James lama - lama menderita seperti ini terus kan, sayang ??? " ucap mama Angga yang tiba - tiba datang memberiku suport dengan membisikkan kata - kata dan dengan memelukku serta menciumi keningku.
Aku hanya bisa menundukkan kepalaku, dan tidak terasa air mataku berlinang.
" Kamu harus tegar ya putri. " tiba - tiba mami James pun juga menghampiri dan memelukku.
Dan di susul Melisa yang juga memberikan support pelukan hangatnya kepadaku.
Dengan terisak dan sesak di dada aku pun membalas dukungan dari para perempuan hebat ini, yang berusaha membuatku tegar atas keadaan suamiku ini.
tidak berapa lama beberapa Dokter yang memeriksa James pun keluar dari ruangan HCU tersebut.
" kami ingin berbicara cukup dengan istri atau keluarga terdekatnya saja, misalnya orang tuanya mungkin " ucap seorang dokter yang biasanya memeriksa James, yang ternyata seorang Professor ahli jantung di rumah sakit ini.
Aku, mami, papi dan juga Angga pun ikut masuk kedalam ruangan yang telah di tuju oleh Professor tersebut.
Kami berdua aku dan mama di persilahkan untuk duduk. Sedangkan papi dan Angga hany bisa berdiri dengan dokter yang lain untuk mendengarkan penjelasan dari profesor tersebut.
" Sebelumnya mohon maaf kami menyampaikan ini kepada keluarga pasien, mohon di kuatkan hatinya karena mungkin ini kabar buruk yang akan kami sampaikan. " ucap profesor tersebut yang kemudian membuat aku dan mami saling menggenggam tangan kami.
__ADS_1
Mami sekilas memandangku, mencari kepastian dari ku bahwa pembicaraan dokter tersebut adalah salah.
Aku menepuk - nepuk tangan mami dengan lembut, untuk mengisyaratkan untuk kita tetap tenang mendengar kabar yang akan di sampaikan dokter tersebut.
Padahal yang sesungguhnya tubuh ku bergetar hebat saat dokter tersebut mengatakan ini berita buruk.
" Tolong cepat sampai kan Dok, apa yang terjadi pada putra kami. " papi James pun tidak sabar dengan berita buruk yang akan di dengarnya.
" Baik, akan saya sampaikan langsung bahwa kondisi dari pak James sudah tidak bisa tertolong lagi. Jantung pak James sudah tidak bisa di selamatkan sedangkan kaki nya juga terinfeksi cukup parah. " sahut dokter yang dari papan nama di mejanya bernama Rudi Handoyo tersebut.
Sontak tubuhku terasa lemas dan pandangan mataku sudah tidak fokus lagi.
Sekelilingku terasa berputar - putar.
" Sudah mi, sudah. dokter sudah berusaha untuk kesembuhan James kita " ujar papi memegang pundak mami supaya mami bisa tenang.
" Berusaha apanya sih Pi, dia menyerah dengan keadaan James kok. dokter kok bilangnya begitu " ucap mami kemudian dengan berurai air mata.
Selanjutnya Dokter Rudi menjelaskan lebih lanjut keadaan James dengan lengkapnya.
Setelah papi membawa mami keluar ruangan tersebut dan hanya meninggalkan aku dan Angga saja untuk mendengarkan informasi keadaan James selanjutnya.
" Bapak James sudah di tahap kronis Bu, pak. Selain infeksinya yang sudah menjalar ke seluruh tubuh juga menjalar ke organ vitalnya. Kami sudah tidak bisa lagi menolong bapak James, hanya mukjizat Tuhan saja yang kita butuhkan untuk saat ini.
Kami juga tidak bisa memperkirakan berapa hari atau bulan saja bapak James bisa bertahan. Karena menurut kami bapak James ini tergolong kuat, Andai kata orang selain bapak James mungkin sudah dari kemaren - kemaren meninggal dunia. " ucap dokter yang memperkenalkan dirinya sebagai dokter ortopedi dan bernama Dokter Burhan.
__ADS_1
Aku hanya bisa tertegun dan tidak dapat lagi berbicara sepatah kata pun juga mendengar penjabaran penyakit yang di derita James hingga membuatnya seperi ini.
Yang ku ingat, Angga sudah menuntunku untuk keluar dari ruangan tersebut untuk berkumpul dengan keluarga yang lainnya.
" Setelah ini kamu bisa menjenguk James di ruangan HCU, put. Tapi James masih tidak sadarkan diri. Apa kamu mau keruangan James atau kamu mau menunggu sampai James sadar ??? " ucap Angga berbisik lembut di telingaku saat dia memapahku keluar dari ruangan dokter tersebut.
Sejenak aku menghentikan langkahku, ku pandangi lekat wajah Angga yang berada tepat di sebelahku.
Lekat ku pandangi wajah serta mata laki - laki yang pernah menjadi suami sirih ku ini.
Entahlah apa yang ingin ku cari di sana.
seketika air mataku menetes tanpa permisi terlebih dahulu, yang sontak membuat Angga kelabakan.
Di percepat langkahnya untuk segera mengantarku kepada keluarga yang lainnya.
" Maaf kan aku putri, maafkan aku. " ucap Angga merasa serba salah dengan masih memapahku menuju ruang tunggu
Terimakasih sudah sabar menunggu Up nya novel ini.
Salam sehat selalu buat pembaca setia ke semuanya ya.
Selamat hari raya idul Fitri ya bagi yang merayakan.
Taqobbalahu minnawaminkum taqobbal ya Karim ❤️
__ADS_1