
Hampir satu Minggu sudah, aku tinggal di salah satu kamar kos milik Bu Rika.
Keseharian ku cuma makan, tidur dan kemudian makan lagi selama hampir satu Minggu ini.
Entahlah, aku juga bingung harus berbuat apa dan mau apa untuk kehidupan ku selanjutnya.
Masih belum bisa move on dengan kejadian yang aku alami selama ini, meskipun aku sudah mantap berjanji untuk bisa melupakannya dan optimis untuk melangkah kedepannya.
Tapi tetap saja, aku yang sedang hamil dan hidup sendiri ini ternyata bingung juga harus memulai keseharian ku kedepannya.
Mau cari kerja??? Kerja apa ya ???? aku kan tidak membawa ijazah atau surat - surat yang mendukung ku untuk mencari kerja.
"Atau aku berdagang saja ya ?? " guman ku dalam hati.
" Jualan apa ya ??? " ucap ku lirih dengan terus berfikir, supaya uang tabungan yang ku bawa tidak habis dan bisa bertambah untuk biaya melahirkan ku kelak serta membiayai kebutuhan kami.
" Sudah lah, lebih baik aku mencari sarapan dulu untuk mengisi perut ku ini. dedek bayinya sudah minta maem nih, iya kan sayang " ucap ku dengan nada mesra sambil ku belai lembut perut ku yang semakin hari semakin membesar ini.
Kulangkah kan kaki ku, untuk mencari penjual nasi, syukur - syukur ada informasi pekerjaan juga nantinya.
" Bu nasi campurnya satu dan teh hangatnya juga satu " pesan ku pada penjual nasi yang sudah satu Minggu ini menjadi langganan ku sejak aku kos di tempat Bu Rika.
" Siap neng, sebentar ya " sahut ibu Lia penjual nasi yang ku ketahui dari para pelanggannya memanggil saat membeli nasi di situ.
Aku pun hanya mengangguk dan tersenyum membalas nya.
Saat Bu Lia masih melayani pembeli lain sebelum ku, aku lihat ada seorang anak kecil yang kira - kira berumur sepuluh tahunan menjajakan koran lokal, dengan berjalan kaki.
Lumayan juga pembelinya, para ibu - ibu ada juga bapak - bapak di kampung ini.
" Aaaah . . . mungkin mereka bersimpati dengan anak kecil tersebut " guman ku dalam hati, kemudian aku pun tersenyum kecil.
" Ada ide nih . . . " pekik ku dalam hati dengan kegirangan.
__ADS_1
Kemudian ku panggil pedagang koran cilik itu.
Tidak butuh waktu lama dia pun datang menghampiri ku.
" Mau beli koran teh . . . ?? sapa anak tersebut dengan logat daerah yang ku tinggali ini dengan sopannya.
" Iya, teteh mau beli. siapa nama kamu dek " jawabku dengan mencoba membuat kami lebih akrab lagi.
" Nama saya Ujang teh " jawabnya singkat dengan tersenyum polos pada ku.
" Oooh Ujang ya, kenalin saya putri " balas ku dengan nenyodorkan tangan untuk kami saling berjabat tangan.
" Ujang sudah.sarapan ???" tanya ku kemudian.
" Eeem . . . belum teh, mamah tadi belum ada uang untuk beli beras. nanti kalau abdi pulang baru bisa beli beras " jawab Ujang dengan nada Sendu dan menundukkan kepalanya
" Ya Tuhan . . . " rintih ku dalam hati.
" Abdi, mamah dan adik saja teh. karena Abah sudah 2 tahun lalu meninggal ' sahutnya dengan nada yang bergetar dan wajahnya semakin di tundukkan.
Seakan - akan dia bercerita dengan menekan kesedihan hatinya.
Ya Tuhan . . .
Rintih ku dalam hati, mendengar cerita dari anak sekecil itu yang di paksa takdir untuk menjadi dewasa dan menjadi kepala keluarga.
Tidak berhenti di situ, Ujang juga bercerita kalau ibunya sekarang sedang sakit, biasanya ibu Ujang bekerja sebagai buruh kebun di sekitar rumahnya.
Ternyata rumah Ujang bukan di sekitar sini tapi selang beberapa desa lagi dari desa ini.
Masih pelosok, sehingga banyak penduduk di sana yang bekerja di perkebunan atau persawahan.
" Ujang, boleh tidak teteh ikut kerja dagang koran seperti kamu ??? " tanya ku di perbincangan kami selanjutnya.
__ADS_1
" Teteh mau jualan koran ??? " tanyanya dengan wajah yang sangat sedih sekali.
" Iya, teteh ingin jualan koran juga. Buat makan teteh sehari - hari. " jawab ku dengan mantapnya, sudah ku putuskan untuk bekerja dagang koran keliling guna menyambung hidup ku kedepannya.
" Kalau teteh ikut jualan koran, abdi jualan koran di mana lagi ??? " ucapnya kemudian dengan sedih dan mulai tumpah air matanya.
Astaga, dengan tidak sengaja aku sudah membuatnya sedih.
Ternyata ini lokasi dagang dan mencari nafkah dia satu - satunya.
Kenapa juga aku tidak kepikiran itu, padahal tidak ada niat ku untuk merebut daerah dia berdagang, nanti kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan itu.
Ya Tuhan . . .
Dengan tidak sengaja aku sudah menyakiti anak kecil ini, Tuhan.
" Ujang tidak perlu kawatir, teteh tidak jualan di tempat Ujang jualan kok. Teteh cari tempat lain nanti, jangan kawatir ya " sahut ku dengan memeluk tubuh kurus tersebut.
Ku hapus air matanya, dan ku ajak dia untuk sarapan bersama ku.
Ku lihat Ujang melahap sarapan paginya itu dengan lahap sekali. Aku pun tersenyum melihat tingkah laku dia.
" Lho . . . Jang, kenapa itu ayamnya tidak di makan ??? " tanyaku penasaran
" Abdi bawa pulang teh, buat si Eneng makan nanti, adik abdi suka sekali sama ayam goreng " jawabnya dengan ceria sekali dan menceritakan makanan kesukaan adiknya.
" Sudah itu ayamnya kamu makan saja, nanti teteh minta ke Bu Lia untuk membungkus kan nasi dan ayamnya untuk adik dan ibu kamu kok " jawab ku
" Jangan teh . . . nanti uang teteh habis " sahut Ujang dengan polos nya.
" Semoga uang teteh tidak habis, karena sebentar lagi teteh akan jualan koran " sahut ku mantap
kami pun tertawa bersama.
__ADS_1