
Papi, mami, mama dan Melisa mengajak ku dengan paksa untuk pulang ke rumah.
Mami memaksaku untuk pulang ke rumah beliau. Aku pun tidak kuasa menolaknya karena aku sudah tidak dapat berfikir terlalu berat lagi dan tidak dapat memikirkan apa - apa lagi.
Di dalam benak dan pikiran ku hanya ada James saja saat ini, tentang kondisinya, tentang derita yang di rasakan nya . . .
Terpaksa aku mengikuti mereka pulang karena aku juga memikirkan kondisiku yang seperti ini.
Aku tidak mau juga menjadi beban mereka semuanya, apa bila nanti aku sampai pingsan atau terjadi apa - apa pada diriku yang sudah tidak bisa menguasai diriku sendiri ini.
" Kami istirahat saja dulu sayang, besok pagi kita menjenguk suamimu.
syukur - syukur besok suamimu sudah sadar ya sayang " bujuk mama kepadaku saat kami tiba di rumah James dan mami mengajakku untuk tidur di kamar James. Aku pun hanya menurut saja.
" Biar putri tidur denganku saja di kamar James. Biar dia tidak melamun dan segera tidur " usul mama kepada mami dan papi James.
teman putri tidur di sini. " sahut mama james
__ADS_1
" Iya kak, tidak apa - apa. " sahut mami James.
Pagi sekali aku sudah terbangun, karena semalaman aku benar - benar tidak bisa memejamkan mataku sedikit pun.
Bersamaan dengan itu hanphone mama beebunyi, kulihat mama masih terlelap dalam tidurnya.
Kulihat nama penelpon tersebut, tertuliskan nama anak lelakiku.
" Hallo selamat pagi, bagai mana kondisi James ???? " berondong ku pada penelpon di seberang yang pastinya Angga.
" Kamu sudah bangun putri ??? " balas suara di seberang dengan lembut dan balik bertanya kepadaku.
" James sudah sadar semalam sekitar jam 3 dini hari. Dia mencari mu putri. " ujar Angga lembut tidak terpancing dengan ucapan ku yang kasar Barusa.
" Aku akan segera kesana, aku ingin segera melihat keadaan James saat ini " ucapku kemudian dengan akan mematikan sambungan telepon di seberang.
" Jangan dulu put, setelah James siuman dinihari tadi dia lama tidak tidur lagi. Sebaiknya nanti saya kalian datang, sebab barusan James tidur lagi dan kasihan kalau kita membangunkan dia " sahut Angga setengah berteriak karena aku akan memutuskan sambungan telepon barusan.
__ADS_1
" Bagai mana kondisinya, apa kah nafasnya sudah stabil dan apakah dia sudah tidak mengeluh kesakitan lagi " ujar ku mengalihkan pembicaraan.
" Nafasnya sudah mulai mendingan tapi juga masih belum stabil. Tadi pas siuman aku juga sudah memanggil dokter jaga, dan dokter tersebut bilang kalau James sudah siuman bukan berarti kondisi James sudah di fase aman. " terang Angga panjang lebar untuk memberikan informasi kondisi James terkini.
" Ya sudah, aku akan menutup teleponnya. Nanti setelah ini kami akan datang ke rumah sakit bersama dengan mami papi " sahutku singkat untuk segera mengakhiri panggilan ini.
" Baik lah, jaga kesehatanmu ya Putri. sampai jumpa di rumah sakit " sahut Angga sebelum aku benar - benar mengakhiri panggilan ini.
Sedikit pun aku tidak memperdulikan pesan yang di sampaikan Angga itu padaku.
Aku langsung saja menutup panggilan tersebut dan mengembalikan telepon selular tersebut pada tempatnya semula.
" Aaaaaakh . . . " sedikit terkejut aku saat akan meletakkan telepon selular milik mama, kulihat mama sudah duduk di pinggir ranjang yang kami tempati untuk tidur semalam
" Ada kabar baik kah tentang James, sayangku " tanya mama dengan berdiri dan meraih pundak ku untuk mengajakku duduk tepat di tempat beliau duduk tadi.
" Iya mam, syukurlah James sudah siuman. Tapi kondisinya masih belum stabil. Itu tadi telepon dari bang Angga " sahutku dengan menceritakan apa yang aku dengar barusan dari Angga kepada mamanya.
__ADS_1
" Syukurlah sayangku, mama bersyukur sekali atas perkembangan James. Pesan mam, kamu jangan banyak berfikir lagi ya.
Kita semuanya harus banyak berDo'a untuk kebaikan dan kesembuhan suami kamu tercinta. Iya kan sayang ku " ucap mami dengan memeluk tubuhku dan beberapa kali mengecup keningku.