
Lemas sekali tubuh ku ini mendengar penjelasan dokter barusan.
Angga memapahku dan mencarikan aku tempat duduk sebelum aku di ajaknya untuk melihat kondisi James saat ini.
Dia sengaja mengajakku duduk di sebuah taman dalam rumah sakit ini untuk sekedar membuatku tenang dengan berita tersebut.
" Coba kamu minum ini terlebih dahulu put " ujar Angga dengan entah dari mana dia sudah memegang sebuah botol air mineral dan sebuah roti di tangannya.
Ku pandangi wajah Angga untuk beberapa lama sebelum aku menerima air dan roti tersebut.
Entah apa yang aku cari dari wajah tampan dan tubuh yang gagah tersebut.
" Aaaaaaaah . . . " desah ku saat aku tidak menemukan apa pun di sana
Aku pun menerima air mineral dari tangan Angga, ku buka tutupnya dan segera aku minum beberapa teguk sampi ahirnya tidak terasa air mineral dalam botol tersebut habis ku minum.
Tetapi tenggorokanku ini masih saja terasa kering dan seperti tercekik saja rasanya.
__ADS_1
" Roti ini kamu makan dulu, aku melihat tubuh mu bergetar dari tadi. pasti kamu lapar dan juga tidak nafsu makan.
Tapi kami harus kuat putri, agak James juga bisa kuat demi penyakitnya " terang Angga panjang lebar.
Tidak terasa air mataku mulai berjatuhan satu persatu, sampai kemudian menjadi deras dan aku pun merasa sangat sesak di dadaku ini.
Angga dengan kakunya menepuk - nepuk bahuku dengan lembut, seakan memberiku kekuatan padaku lewat telapak tangannya yang menepuk lembut bahuku.
Kemudian terdengar suara telepon milik Angga.
Dia berjalan sedikit menjauh dari tempat dudukku, sekedar menerima teleponnya.
" Mamaku akan datang kemari untuk menemanimu. Aku tidak berani untuk menelpon ibu mu. Jadi aku berinisiatif untuk memanggil mama kemari dan mama sudah tiba. Aku akan menjemput mama dulu di parkiran. Aku harap kmu tetap duduk di sini ya " ujar Angga dengan menjelaskannya padaku.
Aku pun hanya mengangguk saja, aku bingung harus bagaimana ??
Harus berbuat apa ???
__ADS_1
Mungkin Angga benar, aku membutuhkan seorang teman untuk berbagi kesedihan.
" Sayang . . . " tiba - tiba sebuath suara menyapaku, suara wanita yang terdengar lembut dan memenangkan jiwaku.
Ya, itu suara mama ibu Angga.
Beliau langsung memelukku dan menciumi wajahku dengan kasih sayang, seketika air mataku semakin deras saja berjatuhan di pipiku.
"Menangis lah sayang, kalau itu bisa meringankan beban di hatimu. mama akan menemanimu di sini " ujar mama lembut sekali.
Aku pun menangis sejadi - jadinya di pelukan mama untuk beberapa saat.
" Naah sudah puas kan, sekarang saatnya kamu menemui suamimu, dia pasti mencari mu kan ??? kamu tata hatimu sebelum menemuinya, kamu harus kuat untuknya ya sayang. nanti setelah kamu keluar dari kamar James, kamu boleh menangis di bahu mama mu ini lagi " pesan mama dengan kemudian mengecup keningku dan menghapus air mataku dengan telapak tangannya.
" Ayo sayang, jangan buat suamimu kawatir, kamu sudah lama meninggal kan nya kan " pesan mama kemudian kepadaku dengan tangan mama menggandeng tanganku agar aku segera bangkit dari duduk ku untuk menuju kamar rawat inap James.
Kucoba untuk tersenyum dan memendam rasa yang campur aduk di dalam hatiku ini.
__ADS_1
Mama dan Angga membantu memapah aku untuk berjalan menuju kamar inap untuk James.
" Tadi James sudah di pindah ke kamar rawat inap, jadi dia sudah tidak di ICU lagi " ucap Angga menjelaskan kepadaku