
Aku dan Ujang berjalan beriringan dengan kadang kami bersenda gurau atau hanya berbicara ringan tentang keluarga anak lelaki penuh semangat ini.
Sungguh salut aku di buatnya.
Ujang, anak pertama dari satu saudara perempuan lainnya, berjuang menggantikan sosok seorang ayah bekerja mencari nafkah untuk hidup ibu dan adik perempuannya yang masih berumur 7 tahun.
Setelah berdagang koran siangnya Ujang baru pergi ke sekolah. Dia sungguh bersyukur sekali di karenakan sekolahnya masuk siang, sehingga paginya dia bisa berdagang koran keliling dulu.
Cerita Ujang, mengapa dia berdagang koran di pagi hari selain karena sekolahnya yang masih siang hari dia juga bisa mencari uang dahulu untuk makan anggota keluarganya hari itu juga.
Duuuuh sungguh lara hati ini mendengar kisah Ujang kecil penjual Korang yang sedang berjalan riang di sebelahku.
Akan kah aku beralasan lagi untuk putus asa dalam hidupku???? Sedangkan Ujang, dia masih berumur 10 tahunan sudah memikul beban kepala rumah tangga.
" Aaaah Ujang kecil, kami adalah inspirasiku. tidak ada kata - kata lemah, malas dan putus asa sekarang dalam hatiku. kamu yang sekecil itu punya semangat yang membara dan aku tidak boleh kalah dari kamu dek " jajniku dengan teguh dalam hati. Kemudian ku usap kepala mungil itu dengan lembut.
" Nah . . . Teh, kita sudah sampai nih. itu tempat teteh bisa minta dagangan korannya " ucap Ujang kemudian saat kami sudah hampir setengah jam berjalan dan menunjuk di sebuah perempatan besar ada seorang dengan duduk di kursi roda dan menurut Ujang dia lah pemilik koran yang di jajakan Ujang.
Tidak itu saja, dia memiliki beberapa anak buah seperti Ujang juga yang ikut membantunya menjajakan korannya, dari pagi sampai malam.
dengan tidak sabarnya aku pun menggandeng tangan Ujang untuk segera menuju tempat bos koran tersebut.
__ADS_1
" Maaf pak, bolehkah saya ikut berdagang koran " sapaku pada laki - laki yang duduk di kursi roda tersebut dengan sopan.
Ku teliti dengan diam - diam, laki - laki yang duduk di kursi roda ini.
Kedua kakinya di amputasi, " Ya Tuhan . . . " pekikku dalam hati.
Saat kulihat wajahnya, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena dia tengah memakai masker kain dan memakai topi di kepalanya.
Lama sekali laki - laki tersebut melihatku, memandangiku dan kemudian bertanya ???
" Kamu mau jualan di mana " tanyanya kemudian dengan acuh dan pandangannya tertuju pada koran -koran yang ada di pangkuannya.
" Nelu tahu sih pak, mungkin saya jajakan keliling kampung Sam seperti Ujang " sahutku dengan percaya diri sekali.
Sedikit jengkel aku dibuatnya, tapi aku berusaha untuk tetap sabar guna mendapkan pekerjaan ini.
Sebenarnya bingung juga sih, mau berjualan di mana??
Lama sekali dia mengacuhkan aku, Aku sendiri pun juga bingung untuk mencari tempat yang pas dan belum ada yang berdagang keliling di sana, supaya tidak mematikan mata pencaharian sesama pedagang koran.
cukup lama aku berdiri di tempat Bos koran tersebut, sedangkan pemiliknya menyibukkan diri untuk bergelud dengan koran - koran sorenya yang siap di distribusikan oleh para anak buahnya.
__ADS_1
" Apa sudah ketemu tempat yang akan kamu buat berdagangnya. Oh iya siapa nama kamu ??? " tanya nya kemudian dengan masih dengan nada sinisnya.
Aaaah . . . sudah lemas aku di buatnya, sudah jelas aku tidak akan mendapatkan pekerjaan ini dengan mudah, kalau bos nya seperti ini.
" Putri pak " jawabku singkat dengan nada kecewa.
" Masak sih istri bos pemilik caffe dan belum lagi bisnis yang lainnya harus susah susah berdagang koran keliling sih " jawabnya lagi yang saat ini dengan nada mengejek.
" Hah . . . kok dia bisa tahu kalau aku sudah punya suami, siapa dia sebenarnya??? apa kah dia orang suruhan Angga ??? '" tanyaku dalam hati.
Sejenak aku jadi ketakutan dan . . .
sejurus kemudian Laki - laki yang duduk di kursi roda itu pun melepas masker dan topinya dengan tersenyum yang menampakkan ketampanannya.
Laki - laki yang ternyata berusia muda, mungkin di atasku 4 sampai 5 tahun dengan kulit kuning Langsat dan terdapat jambang yang tumbuh tipis dan berwarna hitam dengan kulit kebiruan.
Matanya yang sedikit sipit itu pun mulai mengering kepadaku, seakan menggodaku.
Kurang Ajar sekali sih laki - laki ini, siapa ya ??? sepertinya tidak asing???
" Lupa ya, atau kamu sudah melupakan aku yang tampan ini karena sudah mendapatkan yang lebih tampn dan kaya ?? " godanya lagi dengan matanya masih di kerlingan - kerlingkannya padaku.
__ADS_1
" Aaaaaakh Ternyata kamu yaaaa " sahutku dengan melonjak kaget setelah tahu siapa laki - laki di hadapanku itu