Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 73


__ADS_3

" Tadi bang Angga datang, kamu tahu kan ??? waktu kita di toko tadi pagi " ucap James saat kami selesai makan malam.


" Aku tahu " sahutku singkat dengan mencoba untuk tetap tenang dan tidak penasaran juga tentang ke datangan Angga tadi siang.


" Bang Angga datang setelah Lisa bercerita pada nya saat Lisa datang kemari tempo hari " sahutnya kemudian .


Aku hanya manggut - manggut saja tanda memahami ucapannya tersebut.


" Bang Angga meminta aku untuk pulang ke rumah, sekedar bersilahturahim kepada keluarga ku dan memperkenalkan mu kepada keluarga besar kami. " lanjut nya lagi dengan nada yang pelan sekali, seakan - akan dia berhati - hati sekali membicarakannya dengan aku.


" Kapan kamu akan kesana boy ??? " tanyaku seakan akan aku penasaran, tapi sebenarnya Sam sekali aku tidak lah penasaran. Malas sekali aku bertemu lagi dengan orang - orang dari masa laluku itu.


" Entah lah . . . nanti Bang Angga akan mengabari lagi, sebab ada acara tiga bulanan sekali yang mengharuskan semua keluarga besar untuk berkumpul "


Sahut James kemudian dengan meneruskan makan makanan penutup yang di pesannya.


" Baik lha . . . " sahutku singkat dengan tidak sengaja aku membuang nafas beratku.


" Kamu boleh tidak ikut, sayang . . . Aku tahu perasaanmu kok " ucap James kemudian. Mungkin juga dia menangkap isyarat tidak sukaku pada pertemuannya dengan Angga hari ini.


" Aneh kan sayang kali aku tidak ikut nanti, apa coba kata mereka. Ini kan acara keluarga kamu. Semoga saja aku tidak ada acara lain di kampus pada hari kita datang ke acara keluarga kamu. " sahutku dengan merasa bersalah sekali dengan ucapan James itu.

__ADS_1


" Baik lah, kalau itu keputusanmu " sahutnya dengan nada Sendu.


" sekarang cepat habiskan makanan ini, kemudian aku masih ingin bersepeda motor berkeliling melihat suasana malam ini, bagai mana ??? apa kamu masih punya tenaga untuk itu ??? " tanyaku pada James untuk mencairkan kembali suasana yang kaku akibat membicarakan pertemuan yang tidak sengaja kami dengan Angga tadi siang.


Tidak begitu lama, ahirnya kami pun telah meninggalkan caffe tersebut dan mulai memecah keramaian suasana di malam yang tampak cerah ini.


Kami melewati dan memecah keramaian, dengan menaiki motor dan berjalan dengan kecepatan standar.


Angin malam terasa Sepoi - Sepoi dan sejuk meski bercampur asap kendaraan.


setelah puas kami berputar - putar tepat jam 23.00 kami pun putar arah untuk menuju pulang ke rumah kontrakan kami.


" Tapi senang kan sudah di ajak jalan - jalan pakai motor " sahut James yang berjalan di belakangku dengan melingkarkan tangan kirinya ke bahuku.


" senang dong, apa lagi jalan - jalannya sama suamiku tercinta " sahutku dengan nada manja dan mengecup pipi kirinya dengan lembut.


James pun membalasnya dengan tertawa bangga.


" Ayo segera kita tidur, tadi kamu bilang akan menemui dosen jurusan untuk membicarakan tentang wisuda kamu " ucap James mengingat kan ku pada janji yang telah aku dan teman - teman yang lain untuk membicarakan tentang prosesi wisuda kami nanti.


setelah mencuci tangan, kaki dan menggosok gigi aku pun masuk ke kamar untuk mengganti baju dan kemudian tidur.

__ADS_1


James pun ikut tidur di sisiku setelah dia melepas kaki palsunya.


Beberapa hari ini aku melihat kaki palsu James terlihat bengkak dan saat dia melepasnya dia selalu perlahan dan kadang terdengar dia mengerang tapi di tahannya tanpa keluar suara yang keras.


Saat aku menghampiri nya dan bertanya dia selalu menutupinya dengan selimut dan berucap bahwa tidak ada apa - apa dan baik baik saja.


Selau saja James menghindar saat aku menanyakan akan kesehatan kakinya yang tak jarang aku melihatnya bengkak kemerahan dan kadang dia mengerang tertahan kesakitan saat melepaskannya.


Ada apa dengannya, Aku jadi takut kalau menanyakan terlalu sering.


Aku takut dia nantinya tersinggung.


Sengaja malam ini aku akan memeriksanya.


Ada apa gerangan dengan kaki James sampai dia harus menutupinya dariku selama ini.


Huuuuf James lama sekali dia tidak memejamkan matanya malah masih saja memainkan telepon selularnya.


Mataku sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi, kantukku tidak bisa ku tahan.


Ahirnya aku pun terlelap, dan tidak bisa melaksanakan niatku untuk memeriksa kaki James.

__ADS_1


__ADS_2