
" Saya terima nikah dan kawinnya Putri . . . " ucap Angga yang tidak ingin aku dengar lagi sampai Ahir kalimatnya.
Begitu banyak umpatan ketidak puasan ku menerima pernikahan ini.
Aku yang masih berstatus istri James harus menikah dengan mantan suami yang telah menceraikan ku dengan sangat buruk sekali dikala aku sedang mengandung anaknya.
Tidak salahkan kamu James, untuk menyerahkan masa depanku pada laki - laki pengecut seperti Angga Bara ini.
Sungguh muak aku melihat dan menjalani pernikahan ini.
Kalau saja ini tidak ada hubungannya dengan permintaan James yang sudah tidak dapat tertolong lagi nyawanya, aku tidak akan Sudi mewujudkan permintaan konyol ini.
" Putri jangan melamun saja, cepat cium tangan suamimu. " ucap mama yang terlihat senang sekali aku menjadi menantunya kembali.
Huuuuuh tidak habis pikir aku melihat tingkah Ibu yang selama ini aku hormati.
Aku benar - benar muak melihat wajah - wajah penuh dengan kebohongan yang hadir di dalam kamar ini.
Ya . . .
Aku menikah kembali dengan Angga dengan statusku yang masih menjadi istri sah James, Kami menikah di hadapan James suamiku, dan juga mami papi James, Melisa, mama Angga dan dua orang petugas catatan sipil.
__ADS_1
Benar - benar acara yang langka, bahkan mungkin orang tidak akan pernah mengalaminya.
Tidak ku lakukan perintah mama untuk mencium tangan Angga yang kemudian sah menjadi suamiku lagi.
Dengan acuhnya aku melangkah mendekati bad tempat di mana James terbaring dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Alat pacu jantung lengkap dengan beberapa kabel yang terhubung dan melekat di dada James yang menimbulkan suara nyaring mengiringi pernikahan aku dan Angga, sungguh ironis sekali.
Disaat suamiku tercinta meregang nyawa melawan penyakitnya yang semakin kronis aku istrinya malah menikah di depan matanya dengan tanpa berdosa.
Ya Tuhan . . .
Tidak ada sorak sorai atas berahir nya acara ijab qobul kali ini seperti pada pernikahan pada umumnya.
juga tidak ada ucapan selamat " Menempuh Hidup Baru " kepada kami dari orang - orang yang hadir.
Lucu sekali, mereka semuanya pada bubar dan sibuk dengan urusan masing - masing.
Tidak ada acara makan atau sekedar tumpeng untuk menandakan bahwa pernikahan ini sah dan mendapat ridho dari keluarga yang hadir.
" Terimakasih putri, kamu mau mengabulkan permintaan terakhirku.
__ADS_1
Aku akan pergi dengan tenang, Aku berharap kamu bahagia dengan Bang Angga, semoga kalian segera mendapatkan anak - anak yang lucu seperti dambaan ku selama ini.
Maafkan aku, karena jodoh kita hanya sampai disini saja " ucap James dengan suara lirih dan terbata - bata.
Aku tidak kuasa mendengar Do'a yang dilantunkan James untukku dan Angga. Meskipun Do'a yang tulus ikhlas ini terdengar konyol di telingaku, tapi mulut dan hariku berucap Aamiin untuk membalasnya.
" Sayang . . . kamu . . . " ucapku terpotong dan aku tidak sanggup meneruskan kata - kata ku lagi.
James menggenggam jari tanganku dengan erat dan dia pun dengan susah payah memanggil Angga untuk mendekat kepadanya
" Bang, aku titip putri ya Bang, tolong jaga dan lindungi dia dan cintai dia seperti janjimu padaku. Aku berDo'a kalian menjadi suami istri sampai ajal menjemput kalian berdua. Janji ya bang " ucap James saat Angga mendekat dan mengatupkan tangan kami berdua dengan suaranya tang sangat lirih hampir tidak terdengar.
Tiba - tiba alat pacu jantung James berbunyi sangat keras dan suaranya pun mulai cepat.
Sontak kami pun panik.
Kulihat di sekeliling hany ada kami bertiga saja.
Kemana semuanya orang - orang tadi yang berada di kamar ini???
" Kamu tunggu di sini saja ya, cukup temani dan support James, buat dia tenang. aku akan memanggil dokter " pesan Angga padaku dan dia pun berlari secepat kilat keluar kamar VVIP ini
__ADS_1