Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 33


__ADS_3

Kriiiiiing . . .


Kriiiiiing . . .


Terdengar suara Handphone Angga berdering, untung saja dia meletakkan Handphone tersebut di meja depan sofa yang kami duduki.


Aku mencoba meraihnya dan menyerahkan kepada Angga untuk segera menjawab panggilan dari seberang, sekilas ku lihat tertulis nama Mama di layar telepon selular tersebut.


" Iya mam " sahut Angga membuka obrolan pada seseorang yang menelfonya.


" Aku lagi di rumah, sama Putri. Dia lagi bolos kuliah " sahutnya dengan memberikan isyarat padaku bahwa mamanya yang sedang menelfon.


Aku balas dengan anggukan kepala tanda aku tahu maksud isyarat darinya.


Sengaja aku tidak bangun dari rebahanku di pahanya, sambil aku menguping pembicaraannya dengan Ibu nya di seberang.


Kulanjutkan rebahanku dengan masih setia memainkan Handphone ku, memeriksa pesan masuk atau melihat setatus teman - temanku.


Tidak beberapa lama Angga pun mengakhiri pembicaraannya.

__ADS_1


" Kamu di suruh mama untuk datang ke rumah " sahutnya setelah mengakhiri sambungan telepon.


" Kenapa ??? " tanyaku terkejut dan langsung bangun dari rebahan dari paha Angga.


" Entah lhaa, mama cuma bilang kangen sama kamu " sahutnya dengan bangkit dari duduknya untuk menuju kamarnya.


" Apakah Aku harus datang " sahutku setengah berlari mengejarnya masuk ke dalam kamarnya. kulihat dia mengganti baju yang di pakainya tadi, aku tetap di dalam kamarnya untuk menunggu jawaban darinya.


" Harus, mama orangnya harus. Begitulah sifat buruk dan sifat baik mama " sahut Angga dan sekarang dia mulai melepas celana pendeknya untuk menggantinya dengan celana jean's panjang.


Seketika aku memalingkan tubuhku melihat Angga mengganti celananya.


" Aku telefon Tasya dulu, mengabarkan kalau kita akan menginap di rumah mama untuk beberapa hari " izin Angga saat kami sudah masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah Ibu Angga di kota lain.


Sekilas nada suara Angga sedikit kecewa, entah apa yang mereka bicarakan lewat telepon tersebut.


Saat mengakhiri sambungan telepon terdengar Angga mendengus dengan kasar, spontan aku pun berpaling untuk melihatnya.


Terlihat wajahnya nampak kesal sekali.

__ADS_1


" Kenapa ??? " tanyaku dengan masih mencari jawaban dengan memandang wajah tampan di hadapanku ini.


" Acara pemotretan dan syutingnya Tasya di perpanjang sekitar satu Minggu lagi katanya " jawab Angga dengan suara kesal.


" kenapa memangnya kalau di undur lagi satu Minggu ??? " tanyaku dengan nada sedikit sinis


" Dia hampir tidak ada waktu untuk aku, dia selalu saja sibuk dengan dunianya. Aku bosan di tinggal sendiri terus." ujar Angga dengan mata menerawang jauh ke depan dengan masih mengemudi.


" Maaf ya Putri, aku membicarakan kakakmu " sahut Angga kemudian dengan memandangku sekilas


" Tidak apa, kak Tasya memang sibuk mengejar kariernya. Bukankah itu juga syarat yang pernah di ajukan kak Tasya sebelum kalian menikah dulu." balas ku dengan mengingatkan Angga akan perjanjian yang sebelumnya mereka buat sebelum menikah dulu.


" Iya aku tahu, tapi Tasya . . . " sahut Angga kemudian tapi tidak di teruskan


Ku pandangi lekat wajah Angga yang sedang mengemudi tersebut.


Dalam hati aku berbisik


" Kamu masih punya aku, yang juga istrimu, Angga Bara. "

__ADS_1


Dan ahirnya ku buang pandanganku pada kaca jendela di sebelahku.


Sudahlah, toh hingga ahirnya aku hanyalah sebagai selingan saja buat Angga dan kak Tasya. Aku hanya pemilik rahim sewaan saja bagi mereka berdua


__ADS_2