Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 80


__ADS_3

" Kamu sudah siap berangkat untuk Cak Up James??? maaf ya aku terlambat " Angga tiba - tiba datang setelah kami selesai sarapan pagi ini.


" Tidak kok Bang, Abang tidak terlambat. kami baru saja selesai sarapan " sahut James.


" Kamu sudah selesai sarapan bang ??? " tanya mama kepada Angga.


" Belum sih mam, aku tadi buru - buru ke sini " sahut Angga dengan menggaruk - garuk kepalanya, sepertinya dia malu mengatakan hal tersebut.


" Sarapan dulu bang, ayo ini putri juga belum selesai kok " sahut James dengan menunjuk kepadaku.


Ya memang aku belum selesai sarapan pagi ini. Aku terlebih dahulu menyiapkan keperluan James untuk di Rumah Sakit nanti.


Jadi aku pun sarapan tertinggal.


Kulihat Angga langsung duduk di sebelah mamanya dan mama mulai mengambilkan nasi serta lauk untuk sarapan Angga pagi ini.


" Cukup mam, segitu saja. nanti kalau kebanyakan perutku sakit " ujar Angga memberi kan isyarat kepada mamanya.


" Kan sudah mama bilang bang, kamu harus sarapan di pagi hari. Bagaimana pun juga sarapan itu umpamanya batrai buat tubuh kamu " ujar mama dengan menceramahi Angga pagi ini.


" Iya mama ku sayang. " sahut Angga dengan manjanya dan mamanya pun merengkuhnya dan mengecup kening anak semata wayangnya itu.


" Oh iya James. Kamu tidak memberi tahu Lisa kalau kamu tinggal di sini ??? " tanya Angga di sela - sela sarapannya.

__ADS_1


" Belum bang, aku belum sempat menelpon Lisa. Aku selalu saja tidur sepanjang hari nya " sahut James dengan menggaruk - garuk kepalanya juga seperti Angga tadi.


" Ya sudah, kalau belum sempat juga tidak apa - apa. Toh Minggu besok kailan juga akan bertemu kan di sini. " sahut Angga kemudian dengan melahap suapan nasi terakhirnya.


" Iya bang, begitu juga baik " sahut James kemudian.


Setelah Angga dan aku selesai sarapan, kami pun ahirnya berangkat ke rumah sakit untuk mengantar James mengecek kesehatannya lebih lanjut.


Yaaa . . . karena sakit James yang tidak kunjung membaik dokter menyarankan agar James mengontrol kan nya ke rumah sakit dalam seminggu dua kali kunjungan.


Itu juga di sebabkan James menolak untuk rawat inap dan memilih untuk rawat jalan saja.


Aku sebagai wali James pun tidak bisa menolaknya.


Sesampainya di rumah sakit kami pun tidak menunggu lama untuk segera masuk ke ruangan dokter spesialis yang menjadi dokter langganan James sekeluarga, itu tak lain karena James adalah pasien VVIP di Rumah Sakit ini.


Dokter memeriksa James di temani dua orang suster dengan intensif, hampir setengah jam waktu pemeriksaan James di dalam ruangan tersebut, sedangkan kami, mama, aku dan Angga menunggu di ruang tunggu yang berada di luar.


Sampai kemudian seorang suster memanggil ku untuk masuk mendengarkan penjelasan dari dokter, mama mengikuti ku dari belakang dan menggandeng jemari tanganku.


Seakan - akan memberikan ku kekuatan atas apa yang akan di sampaikan dokter kali ini.


Suster membantu James untuk duduk kembali di kursi roda. Dan mendorong kursi roda tersebut keluar ruangan ini.

__ADS_1


" Aku tunggu di luar ya sayang, bude " pamit James padaku dan mama Angga saat kami bertemu di dalam ruangan dokter ini.


" Tetap Semangat untuk sehat ya pak James " pesan dokter tersebut saat James keluar dari pintu ruangannya .


Dan James pun hanya membalasnya dengan mengacungkan ke dua jempolnya .


Setelah seorang suster yang masih tinggal di ruangan ini menutup pintu dan juga setelah aku dan mama duduk menghadap dokter yang akan menjelaskan tentang kondisi James lebih lanjut, dokter tersebut pun mulai menyampaikan kondisi James hingga saat ini.


Dokter tersebut mengatakan kondisi James masih sama seperti kemaren dia baru datang ke rumah sakit ini.


Yang lebih membuatku terhenyak adalah kedua kaki James benar - benar lumpuh hingga hari ini di karenakan infeksi nya yang semakin menjalar.


Obat yang setiap hari di konsumsi James hanya bisa menghambat rasa sakitnya saja bukan untuk menghambat menjalarnya infeksinya.


Sedangkan jantung James juga sama, tidak ada perkembangan sedikit pun.


Dokter selalu mengingat kan aku untuk selalu waspada supaya aku selalu tanggap apa bila nantinya James tiba - tiba mendapatkan serangan jantung.


Ya Tuhan, lemas rasanya seluruh persendian yang ada dalam tubuh ku ini.


Aku harus kuat . . .


Aku harus kuat . . .

__ADS_1


__ADS_2