Sorry Bos, I Love U

Sorry Bos, I Love U
SB 88


__ADS_3

prosesi pemakaman James sudah terlaksana dengan khidmat.


Aku tidak bisa ikut melepas untuk memakamkan James, dikarenakan aku selalu pingsan.


Terasa sekujur tubuh ini lemas dan persendian ku loyo untuk sekedar bangkit dan berjalan mengiringi pemakaman suamiku.


" Kamu sudah sadar putri ?? " sapa sebuah suara yang ternyata melisa.


Entah sejak kapan dia menemaniku dengan memainkan telepon genggamnya dan duduk di sisi ranjang ku.


" Acara pemakamannya bagaimna ?? " tanyaku dengan suara parau dan bangun untuk sekedar duduk.


" Jangan bangun dulu kalau masih lemas " ujar Melisa dengan membantuku.


Kulihat Angga tertidur pulas di sofa berwarna hijau tua dalam kamar ini dengan lengannya di letakkan di wajahnya.


Sepertinya dia terlihat lelah sekali.


" Bang Angga memintaku ikut masuk kesini supaya dia bisa tidur di sini.


Sebab di luar banyak sanak saudara yang datang untuk melepas kepergian Abang James. Bang Angga bilang nanti takutnya kalau kamu bangun dan merasa tidak nyaman kalau hanya berdua dalam ruangan ini. " ujar Melisa lagi menjelaskan keberadaan Angga yang juga ikut berada di kamar ini.


Mungkin Melisa takut aku akan salah paham melihat Angga tidur di kamar ini.


" Iya tidak mengapa " sahutku dengan suara masih parau


" Apa aku bangunkan saja, tadi Abang Angga pesan kalau kamu sudah siuman, supaya aku membangunkannya. " ujar Melisa lagi dengan melangkah menuju tempat Angga tidur.

__ADS_1


" Tidak usah Mel, biar saja dia tidur " sahutku sedikit acuh.


" Iya kasihan Bang Angga, dia paling sibuk selama Beberapa hari ini, bahkan hampir tidak pernah ku lihat dia beristirahat.


mengurusi Bang James dari mulai sakit sampai meninggal dan sekarang mengurusi kamu yang sering pingsan. Kasihan aku melihatnya. mungkin saja dia merasa bersalah karena telah menikahi istri adik sepupunya sendiri " sahut Melisa dengan suara datar dan masih dengan memandangi telepon genggamnya.


Aku tahu dia sedang memberikan informasi kepada ku tentang apa yang di alami Angga selama ini, aku pun juga tidak merasa tersinggung dengan perkataan Melisa. Itu sudah menjadi peranggai Melisa Selma aku mengenalnya.


" Terimakasih sudah menjagaku Mel. sekarang kamu boleh meninggalkan kami.


Aku sudah sadar dan aku akan mengurusi diriku sendiri " ujar ku perlahan dan hati - hati agar Melisa tidak tersinggung.


" Beneran kamu sudah baikan?? tapi tolong jangan bangunkan Bang Angga dulu ya, karena dia belum lama tidurnya. " pesan Melisa padaku.


" iya . . . aku janji " sahutku dengan ku paksakan untuk tersenyum.


Kulihat sekilas Angga tertidur lelap sekali. Sedikit terbersit rasa kasihan di dalam hati ini.


Wajahnya terlihat tirus, dan ada sedikit jambang dan kumis yang tumbuh jarang dan terlihat masih baru saja tumbuh.


Bibirnya yang merah dan sedikit terbuka dikarenakan dia terlalu lalap tidurnya.


Terpesona aku melihat laki - laki yang ternyata sudah menjadi suamiku lagi.


Astaga . . .


wow pula yang ada di dalam pikiranku ini ???

__ADS_1


Kenapa juga aku harus memikirkan laki - lagi yang pernah menelantarkan aku dan bayi kami ini.


Segera ku tepis pujian untuk Angga barusan dan kulangkah kan kakiku untuk menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang entah sudah berapa hari ini tidak terjamah air sama sekali. Hanya sempat buang air kecil saja dan itu pun bisa dihitung dengan jari beberapa hari ini.


" Putri, apa kamu di dalam kamar mandi ??? " tiba - tiba suara Angga terdengar mencari ku.


Lama aku tidak menjawabnya karena tubuhku kembali lemas dan aku sekarang terkulai di dalam Bathtup di dalam kamar mandi James yang terletak menjadi satu dengan kamar tidurnya yang megah ini.


" Put, Putri, kamu didalam kah ??? " kali ini suara Angga terdengar sangat khawatir sekali.


" Iya . . . " jawabku singkat dengan terpaksa dan suara yang lemas.


" Sedang apa kamu?? kamu tidak jatuh kan?? aku khawatir sekali. " tanyanya lagi dengan nada masih khawatir sekali


Sekali lagi aku tidak menjawabnya. sekali lagi aku menjawab pertanyaan Angga aku tidak tau lagi bagai mana keadaanku selanjutnya.


Terdengar Angga mencoba untuk mendobrak pintu kamar mandi ini, tapi ku dengar pula usahanya sia - sia. karena pintu kamar mandi ini terlihat sekilas tadi tebalnya lebih dari 5 cm.


" Put, usahakan untuk tetap sadar ya, aku akan minta bantuan dan mengambil kunci serep nya.


Tunggu ya put, tunggu aku " pesan Angga sebelum meninggal kan aku untuk mencari bantuan untuk membuka pintu kamar mandi ini


Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku mencengkeram Bathtup supaya aku tidak tenggelam di dalamnya


" Sayang . . . putri . . . Kamu tidak apa - apa kan di dalam. Put . . . putri . . . " teriak mama dengan suara panik.


Kemudian terdengar suara kunci yang di buka dan bersamaan dengan itu aku pun sudah tidak kuat lagi untuk menahan tubuhku untuk tidak tenggelam.

__ADS_1


" Putriiiiiiii . . . " jerit mama saat beliau bisa masuk kedalam kamar mandi tersebut.


Terdengar samar - sama meski aku sudah masuk kedalam air


__ADS_2