
Hampir tiga hari ini kami menginap di rumah mama Angga, Kaki James juga tidak ada kemajuan kesehatannya. Memang dokter sudah menyatakan bahwa infeksi di kaki James sudah menjalar.
Dan juga kondisi jantung James masih sama dengan pemeriksaan lalu.
Kami di wanti - wanti oleh dokter agar James tidak mendapatkan berita atau kejadian - kejadian yang memicu kondisi jantungnya memburuk lebih lanjut.
Aku jadi teringat kejadian - kejadian saat kami di rumah kontrakan kami dulu.
Tidak jarang James sering memegangi dadanya dengan wajah yang pucat. Sering juga aku memergokinya. Tetapi saat aku bertanya " Mengapa " dia selalu mengatakan tidak apa - apa hanya terasa sedikit nyeri saja.
Aku pun langsung percaya dengan ucapannya tersebut.
Aaaah . . . bodohnya aku.
Melihat suamiku yang kesakitan waktu itu pun aku tidaklah peka.
Semakin hari tubuh James terlihat semakin kurus saja.
Tapi dia masih terlihat ceria sekali dan masih sering menggodaku dan kadang mama Angga juga menjadi korban dari kejahilannya.
__ADS_1
" Sayang, kamu kerasan tinggal di dini kah ??? " tanya James suatu pagi saat kami baru sada bangun dari tidur kami semalam.
" Aku kerasan kok Boy, asalkan ada kamu di sisi ku aku akan merasa kerasan " sahut ku dengan bersandar di bahunya.
" Maaf ya sayang, mungkin kamu tidak bisa leluasa tinggal di sini, tidak seperti di rumah kontrakan kita sendiri " sahut James lagi dengan membelai lembut rambutku.
" Aku merasa nyaman kok, mama juga sayang padaku seperti anak sendiri. aku kira rasa sayang mama padaku akan berubah saat aku sudah tidak menikah dengan Angga lagi " sahutku lagi dengan masih bersandar di pelukan James.
" Itulah yang aku takutkan. Ak . . . aku takut kamu masih mencintai Bang Angga seperi dulu " ujar James dengan suara lesu.
" Apa . . . apa maksudmu Boy, aku tidak ada maksud begitu kepada Angga. perasaan itu sudah hancur pada saat dia membuang kami dulu " sahutku dengan sedikit emosi dan langsung duduk menghindar dari James.
" Dengar ya sayang, hanya kamu yang aku cintai saat ini dan sampai kapan pun juga. hanya kamu suamiku di dunia ini.
Aku tidak suka kamu bilang begitu padaku ya Boy. " sahut ku dengan masih memendam emosi karena ucapan James itu.
" Iya . . . baik . . . aku tidak akan membahasnya lagi, maafkan aku ya My Princes, aku percaya hanya aku lelaki dalam hidup kamu, ya . .. " ucap James dengan berusaha merengkuh ku.
Ahirnya aku pun luluh mendapatkan perlakuan romantis tersebut, dan juga aku tidak tega terlalu lama merajuk terlalu lama, karena aku tidak sanggup lagi memikirkan sakit yang di derita oleh James.
__ADS_1
" Sayang . . . Ayo kita sarapan dulu ya, kalian sudah puas kan peluk - pelukannya di pagi ini " terdengar suara mama dari balik pintu dengan mengetuk pelan daun pintu tersebut.
" Ya Tuhan . . . semoga mama tidak mendengar ucapan kita tadi ya boy ??? aku tidak mau menyakiti perasaan beliau." ujar ku dengan berlari untuk membukakan mama pintu kamar yang kami tempati.
" Pasti tidak akan dengar, kita juga ngobrolnya tidak keras kok " sahut James pelan
" Selamat pagi mam " sambut ku pada mama setelah membukakan beliau pintu kamar ini.
" Pagi juga sayang. " sahut mama dengan memeluk tubuhku dan kemudian mengecup keningku.
Mama pun berjalan menuju tempat James yang masih duduk bersandar pada sandaran dipan di kamar ini.
kemudian mama juga mengecup kening James dengan hangat.
" Ayo segera kita sarapan, hari ini kamu Cak Up kan sayang ku " ujar mama seakan mengingat kan aku dan James,
" Ya ampun sampai lupa aku mam, untung mama ngingetin. Terimakasih ya mam " ujar ku dengan memeluk mama sebagai tanda terimakasih.
" Iya sayangku " sahut mama dengan kembali mengecup keningku.
__ADS_1