
Di suatu tempat yang megah dan agung. Di istana Suci Dewa Laut Enki.
Seorang pria muda dengan setelan serba putih yang di lapisi emas sedang memasuki istana besar tersebut yang terlihat sangat sepi.
Pria muda itu tak lain adalah Atlas Ark Atlantica Sang Raja ke IV dari Kerajaan Agung Atlantis.
Matanya bersinar dan berwarna seperti emas. Rambutnya berwarna hitam berbeda dengan ras Atlantis kebanyakan.
Kulitnya putih bersih dan tubuhnya tak terlalu besar, lalu telinga ras ikannya yang hampir mirip dengan ras Manusia terlihat keren dan serasi dengan pakaian mewahnya.
Atlas masuk dan berjalan sendirian ke istana Dewa Laut pertama Enki dan kini berdiri di hadapan seorang petapa kura-kura yang terlihat sudah sangat tua.
“Kakek Pi, mau berapa lama lagi aku harus menunggu?”
Kakek Pi yang merupakan penjaga Istana Laut Dewa Enki terlihat hanya termenung sesaat dan mulai berjalan mendekati Atlas.
Ia dengan pelan berjalan menuruni anak tangga dan kini berdiri berhadap-hadapan dengan Atlas.
“Atlas...Laut belum menunjuk siapa yang pantas menempati posisi Dewa selanjutnya, keluar dari sini dan ketika waktunya tiba kau akan di panggil.” Kata kakek petapa di hadapan Atlas.
Kakek petapa kura-kura bernama Pi itu sudah sangat tua dan terlihat tak berdaya.
Ia yang berdiri di topang tongkat kayu tuanya bahkan sudah tak membuka matanya sanking tuanya dia.
Atlas yang di suruh menunggu kembali karna Laut masih belum memberikan keputusan siapa yang pantas menggantikan Enki terlihat sedikti marah dan jengkel.
“Sudahi saja kebodohan ini, aku sudah menyingkirkan semua kandidat dan tak akan ada lagi yang mampu bersaing denganku untuk menempati posisi Dewa!”
Kakek kura-kura yang mendengar ucapan Atlas terlihat kalem dan mulai berkotbah.
“Atlas...saat waktunya tiba nanti Laut sendiri yang akan memanggilmu ke sini, jadi kau hanya harus menunggu.”
Atlas yang lagi-lagi di suruh menunggu langsung menjawab dengan nada sedikit keras.
“Tapi mau sampai kapan kakek Pi, aku dapat memastikan tak akan ada satupun dari mereka yang dapat memasuki istana ini jadi kenapa Laut masih menunggu?”
Kakek Pi yang mendengar ucapan Atlas terlihat sangat marah.
“Lancang sekali, kau tak bisa menentang keputusan Lautan...keluar sekarang dan renungkan perbuatanmu...”
Atlas yang di usir terlihat makin marah. Jika saja ia bisa langsung mendapatkan berkah dan kekuatan dari Dewa Laut Enki dengan kekerasan mungkin ia sudah mengobrak-abrik istana megah tersebut.
__ADS_1
Tapi di hadapan kakek petapa kura-kura yang kekuatannya setara dengan Dewa jika berada di istana, Atlas yang belum bisa mengalahkannya masih menahan diri.
Di tambah kakek Pi adalah penghubung satu-satunya untuk menerima berkah terkuat dari seluruh Lautan membuat Atlas hanya bisa menahan emosinya.
Ia sudah menyingkirkan semua kandidat kuat yang dapat bersaing dengannya dan memastikan mereka tak akan bisa memasuki Istana Suci.
Tapi Laut bahkan belum menentukan hari pemilihan dan siapa yang pantas menggantikan Enki.
“Aku harap kau segera berbicara dengan Laut dan menentukan hari pemilihan dengan cepat.”
“Aku juga akan memastikan tak akan ada kandidat lain yang bisa menginjakkan kaki mereka ke sini, semua yang nekat ingin bersaing denganku menempati posisi Dewa Laut Selanjutnya akan ku penggal sebelum mereka sampai ke Istana Suci!”
Kakek petapa kura-kura yang mendengar ocehan Atlas hanya diam dan dengan sentakan tongkatnya ke lantai, Atlas langsung di keluarkan dengan paksa dari Istana Suci.
Dengan kekuatan ajaib miliknya, Sang Raja Atlantis di usir dan di lemparkan keluar Istana.
Setelah mengeluarkan Atlas dengan paksa, kakek kura-kura mulai melihat ke sebuah bola air besar yang ada di hadapanya.
Di sana ia melihat seluruh Supremacy alias kandidat terpilih untuk menempati posisi Dewa di masing-masing tempat.
Ada banyak sekali kandidat yang memenuhi syarat. Tapi dari semua orang hebat itu mata kakek kura-kura tertuju pada seorang Manusia.
Manusia itu tak lain adalah Adrian yang saat ini sedang berada di penjara Dark Reef.
Kembali ke Dark Reef...
Adrian yang sudah bertahan selama dua tahun lamanya terlihat sudah terbiasa dengan kesehariannya di Dark Reef.
Jika ada yang membuatmu mati di neraka itu, maka itu adalah kelemahan dirimu sendiri dan mentalmu yang mulai hancur.
Kebanyakan narapidana yang ada di Dark Reef akan mati bukan karna di siksa atau di serap energinya.
Mereka akan mati karna kehilangan semangat hidup dan menjadi makanan dari tahanan lainnya.
Di Dark Reef yang kuatlah yang bertahan.
Adrian saat ini sedang berlatih dengan Slarken di dalam sel tahanan 212.
Setelah dua tahun mempelajari dan mengendalikan Aura Supremacy, Adrian terlihat makin hebat.
Ia yang awalnya menggunakan Aura Raja atau yang biasa di Sebut Supremacy di Underworld sudah menguasai ke tingkatan yang bahkan melampaui Slarken.
“Teng...ting...tong...”
__ADS_1
“Teng...ting...tong...”
“Teng...ting...tong...”
Serangan dari tombak Adrian dan belati Slarken menggema di lantai empat Dark Reef. Dua Supremacy itu memang sering latihan bersama.
Slarken yang mengajarkan banyak hal pada Adrian di kala bosan dan senggang juga mulai di buat kewalahan.
Sampai saat ada kesempatan, Adrian menyerang dengan telak dan membuat Slarken terjatuh.
Para tahanan lain di sel 212 yang melihat Slarken dapat diserang dalam kegelapan mulai takjub dan bertepuk tangan.
“Hebat...teknik tombakmu makin hebat saja Adrian.” Kata Garaga yaitu monster setengah ular dan setengah Kuda Laut.
“Benar...baru kali ini ada orang yang dapat bergerak secepat Slarken di kegelapan.” Lanjut Elliot.
“Hahaha, aku masih jauh jika di bandingan Slarken, dia hanya sedang mengalah.” Kata Adrian sambil tersipu malu di hadapan para monster yang memujinya.
“Tidak...tidak...tidak...Slarken tak mungkin mengalah, bahkan dalam latihan.” Sambung Ebira yang sudah mengenal Slarken sejak katak hitam itu bergabung dengan pasukan Leviathan.
Slarken yang di serang telak oleh Adrian juga langsung berdiri. Sambil tersenyum katak hitam menyeramkan itu ikut memuji Adrian.
“Tak perlu sungkan Adrian, yang di katakan mereka semua memang benar....kau belajar dengan sangat cepat...”
Adrian yang punya banyak waktu luang juga sering latihan. Ia yang sadar masih naif dan lemah mulai berubah dan menyiapkan dirinya sampai saat waktu eksekusi rencana pelarian di laksanakan.
Sudah dua tahun ia hidup di penjara bengis Dark Reef. Sudah banyak darah serta penyesalan yang ia rasakan.
Sudah banyak juga monster yang ia bunuh dan makan untuk tetap bertahan. Di sana juga ia akhirnya sadar apa itu Aura Supremacy yang sebenarnya.
Adrian yang awalnya menggunakan kekuatan besar dari lautan itu dengan sembarangan alias asal-asalan mulai dapat mengontrol kekuatannya.
Meskipun kekuatannya tersegel dan mungkin hanya dapat menggunakan 1% kekuatannya, Adrian yang di beritahu Slarken kalau segel Karma Laut hanya menyegel berkah dan tidak dengan seluruh kekuatan fisik mulai melatih dirinya.
1%, dari angkat kecil itu Adrian memaksimalkannya dan kini bertambah kuat lagi.
Mungkin jika segelnya terlepas Adrian yang sekarang akan jauh lebih hebat dari dirinya yang dulu.
Ia yang tau di Dark Reef yang kuatlah yang bertahan selalu latihan teratur setiap hari.
Karna itu juga dirinya yang awalnya lemah dan naif mulai dapat bersaing dengan monster-monster kuat dan mengerikan yang ada di sana.
*****
__ADS_1