System Of Sea

System Of Sea
Hidup Damai


__ADS_3

Setelah pertemuan dan kerjasamanya dengan Luca Salamanca, Adrian yang bisa bernafas lega langsung berniat pulang ke rumahnya.


“Apa kau yakin tak ingin bersenang senang dulu di sini?”


“Terimakasih atas tawarannya pak, tapi besok saya harus masuk sekolah dan hari juga sudah larut malam.”


“Baiklah jika itu maumu, hasil penjualan berlian dan bagianmu akan ku berikan setelah acara pelelangan, jadi bersabarlah sebentar.”


“Iya, sekali lagi terima kasih dan sisanya ku serahkan pada anda pak.” Ucap Adrian yang berjalan keluar dari kamar Luca di ikuti oleh kakek Adam.


Di dalam Luca dan dua orang anggotanya juga sebenarnya sedang sibuk dan membahas hal penting tentang bisnis mereka yang akhir akhir ini semakin merosot.


Tapi ntah karna kebetulan semata atau memang sudah takdir, bocah kecil bernama Adrian yang tiba tiba saja muncul malam itu langsung menjawab inti masalah dari bisnis yang di jalankan Luca.


“Apa perlu kita kirim orang untuk mengawasi anak itu bos?...aku yakin dia masih menyembunyikan sesuatu.”


“Tidak perlu, aku sudah mengenalnya sejak dia masih ingusan dan sepertinya ada sesuatu yang membuat bocah itu tak mungkin untuk di awasi.”


“Benar, aku merasa ada yang aneh dengannya, di umurnya yang masih muda dia bisa tetap tenang dan santai ketika berbicara di hadapan kita...itu seperti dia sama sekali tak takut dengan kita semua yang ada di sini.”


“Pokoknya jangan sampai dia merasa terganggu dan bisnis kita berakhir hanya dengan satu buah berlian ini, aku yakin di masa depan nanti dia akan menjadi sumber uang bagi kelompok kita.”


Sambil berjalan pelan, Adrian yang di temani kakek Adam mulai melihat lihat foto keluarga Salamanca yang memenuhi seisi ruangan.


Di foto itu ia juga melihat beberapa fotonya pas masih kecil yang berfoto dengan anak Luca yaitu Mica Salamanca.


“Kek, si Mica gimana kabarnya?”


“Saat ini tuan putri baik baik saja dan sedang bersekolah di Amerika, nyonya besar juga tinggal di sana bersamanya.”


“Begitu ya, sudah hampir tujuh tahun saya tak bertemu dengannya...bagaimana ya dia yang sekarang.”


“Hohoho, sebaiknya kamu tak bertemu denganya, apa kamu lupa kalau dia suka menyiksa dirimu ketika kecil dulu.”


“Heeee, jadi kakek masih ingat ya...benar juga, sebaiknya aku tak berurusan denganya.” Ucap Adrian sambil menyipitkan matanya karna teringat kenangan buruk masa kecilnya dengan Mica.


Adrian masih ingat sekali dulu Mica sering menjadikannya objek eksperimen.


Adrian kecil sering menangis karna di jadikan bahan uji coba Mica yang memang sedikit aneh dan psikopat.


Sejak kecil Adrian sering menjadi asisten Mika di kala gadis mungil itu sedang membedah hewan hewan laut dan melakukan hal gila pada mereka.


Bahkan sangking gilanya Adrian juga di jadikan salah satu korbannya dan ia masih sedikit trauma.


Dalam hatinya ia sedikit penasaran seperti apa teman masa kecilnya itu sekarang.


Apakah ia masih menyeramkan seperti dulu atau berubah lebih baik lagi atau bahkan menjadi lebih mengerikan.


Sambil berjalan dan memikirkan itu, akhirnya Adrian sampai ke pintu keluar.


“Terima kasih kek, kalo gitu saya mohon pamit.”

__ADS_1


“Apa kau yakin tak ingin menginap di sini?”


“Makasih kek, tapi saya tak mau merepotkan lebih dari ini.”


“Hemmm, kamu ini sama persis seperti ayahmu, yasudah karna rumahmu jauh, jadi biarkan Roy mengantarmu pulang.”


“Baik kek, sekali lagi terima kasih.”


Adrian yang berjalan keluar juga sudah di tunggu oleh Roy yang memang sudah di siapakan untuk mengantar kepulangannya malam itu.


Setelah menaiki mobil, di perjalanan Adrian sedikit bercerita dengan Roy tentang kenangan masa lalunya sampai mereka tiba di depan rumah.


“Makasih pak Roy dah nganterin.”


“Sama sama, kalo ada apa apa taukan harus nelpon ke mana?”


“Iya pak aman.”


Adrian yang sudah sampai di rumah juga langsung bertemu dengan David yang juga sudah menunggu kepulangannya di sana.


Karna memang sudah kenal dekat, David juga tau di mana biasanya Adrian menyimpan kunci rumah dan sudah di suruh Adrian untuk membantunya sedikit.


“Akhirnya pulang juga, kamu gak kenapa napa kan?”


“Aman, motor sama barang barangku udah di bawa kan?”


“Udah...semuanya dah ku simpen di dalam rumah.”


Setelah masuk, Adrian mulai menceritakan semuanya pada David yang memang sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Walaupun tak semuanya benar, tapi itu cukuplah untuk menutup mulut sahabatnya itu yang selalu bertanya karna penasaran.


“Jadi gitu, hebat juga kamu bisa di bekingin sama keluarga Salamanca.”


“Hehehe, santai aja...si Wijaya kampret juga udah gak bakalan berani macam macam lagi.”


Malam itu Adrian akhirnya tidur dan beristirahat dengan tenang.


Tanpa terasa pagi hari telah tiba, Adrian yang terbangun karna suara alarm seperti biasa langsung mandi dan memberi makan ikan ikannya.


Tak lupa juga ia mengerjakan misi Check In dan melakukan aktifitas hariannya.


Sambil mengumpulkan poin yang terpakai karna membeli batu permata, Adrian mulai fokus kembali pada tujuan utamanya yaitu Mata Air Kehidupan.


~~ ~~


Sudah lima hari semenjak kejadian itu dan seperti yang di harapkan dari pak Luca, Wijaya sama sekali tak mengganggu Adrian.


Karna pengaruh besar keluarga Konglomerat itu hidup Adrian menjadi tenang dan santai.


Walaupun dalam hatinya ia masih sedikit kasihan dengan Tri yang bahkan sudah lima hari di rawat belum juga sadar dari komanya.

__ADS_1


Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur dan anak itu menerima perbuatan dari kesalahannya sendiri.


Hari sabtu itu setelah pulang sekolah, Adrian yang memiliki jadwal padat langsung datang ke kantor utama nelayan. Di sana Speed Boad barunya akhirnya sampai dan siap di gunakan.


“Akhirnya sampai juga, kalo sempet hari nih gak datang terpaksa nyewa kapal deh aku.” Ucap Adrian sambil melihat kapal Speed Boad memancing barunya.


Mungkin kapal itu tak terlalu besar dan lebih kecil dari kapal menangkap ikan yang biasanya.


Tapi karna desainya yang unik dan keren, itu membuat Adrian sangat puas dengan hadiah yang ia dapatkan itu.


Sambil menyiapkan semua keperluan, Adrian yang sudah bersiap memancing di tengah laut pulang dahulu karna tak enak menggunakan pakain sekolahnya untuk memancing.


Setelah berganti pakaian, Adrian yang berjalan dapat melihat seorang wanita cantik yang sedang duduk sendirian di tepi pantai Bluesky.


Karna penasaran, Adrian mendatangi wanita itu yang tak lain adalah teman sekolahnya yaitu Hiromi Yuki.


“Hallo, kenapa melamun sendirian di sini?”


“Adrian...gak kenapa napa kok, aku cuman lagi berantem aja sama mamaku.”


“Heeee, jadi orang kaya juga bisa berantem sama keluarganya ya?”


“Hahaha, tentu saja...kami juga manusia biasa tau, terus kamu mau ngapain pake pakaian rapi begitu?”


“Aku mau mancing.”


“Mancing ya...apasih enaknya?...bagiku itu sangat membosankan.”


“Susah jelasinya, intinya hobi orang itukan beda beda.”


“Yaudah aku pergi dulu ya...jangan lama lama berantemnya, kasihan mamamu.”


Sambil berjalan meninggalkan Yuki, wanita cantik itu mulai melirik Adrian yang terlihat sangat senang padahal ia hanya ingin pergi memancing.


Karna memang di rumahnya sedang ada masalah, Yuki berdiri dan berjalan mendekati Adrian.


“Boleh ikut gak?”


“Waduh, yakin kamu mau ikut...di sana sangat membosankan.”


“Gpp, aku juga lagi males pulang ke rumah.”


“Plisss, boleh ya aku ikut...ya...boleh ya...”


Sambil memohon dengan ekspresi imut, Yuki mulai menggoda Adrian.


Tapi babang tampan yang kuat iman tak langsung menyetujuinya karna memang tujuan utamanya hari ini adalah mengerjakan misi tingkat tinggi dan ia akan sangat lama di laut nanti.


“Yaudah, tapi aku di sana bakalan lama, jadi kalo mau tetep ikut jangan minta cepet cepet pulang.”


“Malah bagus dong, kalo bisa sampe malem sekalian biar panik dia nyariin aku, hehehe.”

__ADS_1


Akhirnya dua remaja itu pergi berjalan bersama ke dermaga.


 


__ADS_2