System Of Sea

System Of Sea
Konsekuensi


__ADS_3

Degan brutal Adrian menghajar Tri yang terkapar di tanah. Ketiga temannya juga hanya melihat dan tak ada yang berani memisahkan.


Untungnya saat itu ada beberapa orang dewasa yang menghentikan aksi gila Adrian.


“Hentikan.”


“Woi, pengangin  nih anak...kuat banget tenaganya.”


“Sudah dek, jangan di terusin bisa mati tuh orang.”


Akhirnya empat orang pria dewasa bersama sama menarik Adrian yang menduduki Tri dan memisahkan mereka.


Hanya dalam waku kurang dari lima menit, Tri langsung terkapar tak berdaya.


Wajahnya hancur lebur, gigi bagian depan rontok, pipi lebam dan jejak pukulan berwarna biru keunguan memenuhi seisi wajahnya yang di penuhi darah.


Adrian yang akhirnya di pisahkan juga langsung menyadari perbuatannya. Dalam hatinya ia juga tak tau apa yang merasuki dirinya sampai bisa melakukan hal sekejam itu.


Entah kenapa ketika Tri menyinggung soal ibunya yang sakit, darah Adrian seperti terbakar dan ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam dirinya.


Setelah di tenangkan dan di pegang erat oleh empat pria dewasa, Adrian akhirnya di amankan oleh beberapa security yang sudah di panggil oleh pengunjung lain.


Setelah di bawa ke pos security, Adrian hanya bisa menyesali perbuatannya. Tapi di waktu bersamaan, sesuatu yang menyenangkan juga ia rasakan, itu seperti sensasi luar biasa yang memenuhi tubuhnya.


Di tempat lain, Tri yang pingsan langsung di bawa ke rumah sakit.


Pak Wijaya dan istrinya yang mendengar anak bungsu kesayangan mereka sedang koma karna di hajar orang juga langsung datang ke rumah sakit memeriksa kondisi sang anak.


Setelah sampai di rumah sakit, pak Wijaya langsung bertanya pada dokter yang sudah merawat anaknya.


“Dok, kenapa anak saya...apa yang sebenarnya terjadi?”


“Bapak tenang dulu, kondisi anak bapak emang tadi kritis, cuman setelah di obati kondisinya jadi lebih baik dan sekarang sedang tak sadarkan diri.”


Setelah masuk dan melihat kondisi sang anak yang sangat parah, pak Wijaya langsung murka sedangkan sang istri hanya bisa menangis melihat anak bungsu kesayangannya terbaring dengan wajah hancur lebur.


“Bajingan, siapa yang berani melukai anak saya sampai seperti ini, gak tau dia dengan keluarga Wijaya.”


“Coba bapak tanya sama orang yang bawa anak bapak ke sini, itu mereka masih ada di depan rumah sakit.”


Dengan cepat pak Wijaya langsung menemui beberapa pria yang memang membawa Tri ke rumah sakit sedangkan sang ibu hanya termenung dan menangis melihat kondisi anaknya yang sangat parah.

__ADS_1


Di sana juga ada Dion yang merupakan teman Tri. Pak Wijaya yang melihat Dion langsung bertanya padanya.


“Dion, siapa yang berani berbuat seperti itu pada Tri?”


“Pak, itu pak...si Adrian.”


“Adrian?”


“Iya pak, dia udah gila mukulin Tri sampe sekarat.”


“Bajingan...emang mau mati tuh anak.”


“Ayo ikut om, di mana dia sekarang?”


“Dia mungkin masih di Mal pak, securty sana emang sengaja nahan dia.”


Dengan cepat pak Wijaya langsung masuk ke dalam mobil bersama Dion dan mulai menelepon seseorang.


Sambil mengendarai mobil dengan cepat, Pak Wijaya akhirnya tiba di Mal dan langsung masuk.


Tak lupa juga beberapa kaki tangannya juga ikut hadir dan sampai lebih dulu ke sana dan mulai mengikuti bos mereka dari belakang.


“Kumpulin semua orang, tuh anak harus di beri pelajaran.”


Dengan gagah dan beringas, pak Wijaya bersama beberapa orangnya langsung menuju lokasi kejadian.


“Di mana Yon...di mana bajingan kecil itu?”


“Di pos securty pak, di sebelah sana.”


Setelah sampai, terlihat tempat itu sudah kosong dan Adrian memang sudah tak ada di sana. Pak Wijaya yang hanya melihat beberapa securty langsung bertanya pada mereka.


“Di mana bajingan yang mukulin anak saya?”


“Lapor pak, itu anak udah di bawa sama pak Yuda.”


“Yuda...oke, semuanya...ayo kita ke pengkalan nelayan.”


“Joko, langsung sebarin berita dan kumpulin semua orang, aku mau anak itu malam ini juga di habisi.”


“Siap bos.”

__ADS_1


Kemudian pak Wijaya yang sadar kalau Yuda yang merupakan kepala nelayan kota Bluesky berniat melindungi Adrian langsung bergegas ke pengkalan utama nelayan bersama semua orang orangnya.


Tak memakan waktu lama, sekitar lima puluh orang berpenampilan preman langsung memenuhi kantor utama nelayan.


Setelah pak Wijaya sampai, di sana ternyata sudah ramai dan memang beberapa nelayan seperti berjaga dan menghalangi orang orang yang ingin masuk.


Keributan dan adu mulut juga terjadi di sana sampai pak Wijaya datang dan semua orang terdiam.


“Di mana bajingan itu?”


“Yuda...keluar kau, jangan coba lindungi anak itu...malam ini aku akan menghabisinya.”


Lalu pak Yuda keluar dan Pak Wijaya yang tak melihat Adrian langsung bertanya padanya.


“Dimana dia, jagan coba coba melindunginya...kau sudah taukan apa yang dia perbuat pada anakku?”


“Iya, aku tau...memang tujuan awalku membawanya ke sini adalah untuk melindunginya, tapi itu anak malah pergi dan sekarang entah di mana.”


“Apa maksudmu, jangan coba coba menipuku...kalian semua...kalian sadarkan sedang berhadapan dengan siapa, jika ada yang berani melawan, aku akan mengeluarkannya dari Wijaya Grub dan memastikan kalian tak akan bisa menjual hasil tangkapan kalian lagi di seluruh kota Bluesky ini.” Ucap tua bangka Wijaya sambil melotot dan mengancam semua nelayan.


Tapi mau apapun yang Wijaya katakan itu semua percuma karna Adrian memang sudah tak ada di sana.


Pak Yuda yang awalnya membawa Adrian dan berniat mengamankannya ke luar kota juga tak tau anak itu pergi ke mana.


Sesaat sebelum kepergiannya, Adrian hanya mengatakan pada pak Yuda dan seluruh nelayan yang mencoba melindunginya kalau itu semua percuma dan Adrian tak ingin melibatkan mereka.


Wijaya Kusuma, orang kaya baru yang memang mulai mendominasi kota Bluesky berkat sang anak sulung Eka Wijaya Kusuma yang kabarnya bergabung dengan sindikat mafia dunia bawah juga tak akan membiarkan musuhnya lepas.


Adrian juga masih ingat dulu ada kabar seorang nelayan lokal bernama Galih yang mencoba menentang keluarga Wijaya.


Tapi anehnya orang itu hilang di laut dan sampai sekarang tak pernah di temukan.


Kabar yang beredar mengatakan kalau anak sulung Eka dan bawahannya membunuh Galih itu di tengah laut dan mayatnya di berikan untuk makan ikan.


Meskipun hanya kabarnya dan katanya, Adrian yang tak bodoh bisa menyimpulkan memang orang itu telah di bunuh.


Itu karna saat itu Adrian kecil yang memang sedang di dermaga sempat melihat Eka dan Galih sedang bersama dan menaiki sebuah kapal.


Tapi karna tak ada bukti lebih lanjut dan seakan kabar itu juga di tutup tutupi, Adrian yang tak ingin mencari masalah dan hanya ingin hidup tenang mencoba melupakan hal itu.


Sampai akhirnya setelah sekian lama, malam ini ia teringat kembali dengan kejadian yang menimpah Galih.

__ADS_1


 


__ADS_2