
Adrian yang di giring akhirnya tiba di sebuah tempat yang cukup luas. Tempat itu sendiri seperti ruangan bawah tanah rahasia.
Tempat itu sangat hebat seperti memang di persiapkan jauh hari. Bahkan lampunya menyala terang lalu lantai dan juga dindingnya dari beton yang sangat kokoh.
Setelah matanya di buka, Adrian bisa melihat di hadapannya ada seorang pria muda, mungkin hanya selisih beberapa tahun dengannya.
Rambut hitam pekat, bola mata hitam dengan kulit putih dan bersih. Jika di lihat sekilas, jelas orang yang melihatnya akan tau kalau dia berasal dari kalangan atas.
Lalu di samping kiri dan kanan pria itu ada wajah yang sudah Adrian kenal. Ya, itu adalah Satria Sebastian dan Tri Wijaya Kusuma.
“Selamat datang di markas rahasia bocah besar.” Ucap pria muda dengan setelan hitam yang ada di hadapannya.
Melihat pria itu dan mendengar suaranya yang sama dengan yang di telfon, Adrian sepeti biasa, tanpa basa basi langsung bertanya apa mau orang itu.
Seperti tak kenal takut dan tak terintimidasi, Adrian langsung bertanya dengan lantang.
“Apa yang kamu mau dariku?”
“Apa ya...sebenarnya aku tak terlalu peduli masalahmu, aku juga membawamu ke sini karna beberapa urusan yang berbeda, tapi orang di sebelahku ini sepertinya sangat dendam kepadamu.”
“Hehehe, senang melihatmu lagi bajingan, hari ini kau akan ku buat mengerti dengan siapa kau bermain api, hahaha.” Ucap Satria sambil tertawa jahat sedangkan Tri hanya diam dan menatap Adrian dengan tajam.
Dari wajah Tri, Adrian masih bisa melihat bekas pukulan kuatnya yang masih berbekas di wajah pria itu.
Mungkin bekas pukulan itu tak akan hilang seumur hidupnya. Tapi apa boleh buat, itu semua juga karna mulutnya yang tak bisa di jaga.
Adrian yang saat ini di kelilingi oleh total 12 pria terlihat sangat santai dan tenang. Satria yang melihat itu menjadi makin kesal karna ucapannya seperti tak di dengar dan Adrian dengan santainya justru tersenyum.
“Apa yang kau tertawakan bajingan?...kau pikir kau bisa lepas dari masalah ini?”
“Tenang dulu adik kecil, sebelum kau beraksi biarkan aku bertaya beberapa pertanyaan pada pria ini.”
Mendengar ucapan pria yang ada di hadapannya, Adrian langsung bertanya hal yang paling ia ingin tau saat ini.
“Apa kau pria yang bernama Martin?”
Sesaat mendengar ucapan Adrian, orang yang ada di hadapannya tersenyum dan dua pria berbadan besar langsung datang dan mendekat ke arah Adrian.
Di kelilingi dua pria besar, Adrian tak takut dan menatap mereka berdua.
“Bocah, sepertinya kau harus di beritahu posisimu terlebih dahulu sebelum kita berbicara lebih lanjut.”
Dengan cepat, kedua pria berbadan besar itu mengarahkan tinju besarnya ke arah Adrian.
__ADS_1
Sebenarnya bisa saja Adrian menerima pukulan mereka dan berpura pura kesakitan. Tapi itu bukan gaya Adrian.
Karna di serang, Adrian yang tak punya pilihan balik menyerang. Dengan mudah ia menghindari pukulan dua orang itu dan dengan gaya bertarung Dewa Laut Enki, Adrian menyerang perut kedua pria itu dengan cepat bagai kilat.
Kecepatan serangan tangan Adrian yang tak bisa di ikuti gerakan mata manusia biasa tepat bersarang di perut dua pria itu.
“Brughh.”
“Brughh.”
Dua pukuan super cepat dan tajam bagai tombak langsung menumbangkan dua pria berbada besar yang ada di sisi kiri dan kanan Adrian. Kedua pria itu kini merintih kesakitan.
“Ahhhggg....perutku.”
“Sialan...apa yang kau lakukan?”
Melihat dua anak buahnya merengek seperti wanita, pria yang duduk di hadapan Adrian langsung tersenyum dan menepuk dua tangannya.
Seperti memberi pujian pada Adrian, ia tertawa dan mulai berbicara.
“Hahaha, mengagumkan...jadi kabar Dwi yang di kalahkan seperti pecundang olehmu itu benar benar nyata.”
“Hebat...ku akui kau hebat.” Ucap pria itu sambil terus bertepuk tangan.
Satria yang melihat Adrian masih berani sombong di depan semua orang menjadi taruma dan sedikit ketakutan.
Sedangkan Tri, ia hanya diam saja dan menatap Adrian dengan tajam. Tatapan matanya sangat dalam dan di penuhi dendam.
Tentu saja ia sangat dendam, karna masalahnya dan Adrian, keluarganya di paksa meninggalkan kota kelahirannya itu, bahkan sang ayah juga mati dan menjadi korban.
Sesaat dua orang itu terjatuh dan kesakitan, sembilan penjaga lainnya langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkannya tepat ke arah Adrian.
Di todong sembilan pria dengan pistol, Adrian bukannya takut tapi malah tersenyum.
“Apa ini yang kau mau?...”
“Kau mengundangku ke sini untuk hal bodoh ini?...”
Melihat Adrian yang sama sekali tak takut, pria yang bahkan namanya belum di ketahui Adrian itu menenangkan anggotanya dan saat di beri perintah, sembilan orang itu menurunkan pistol mereka.
“Karna sepertinya kau tak suka basa basi, maka langsung saja ku katakan keinginanku.”
“Saat ini beberapa anggotaku sudah mengintai ayah dan ibumu, jadi jika kau tak menjawab pertanyaan ku ini kau taukan apa yang akan terjadi?”
__ADS_1
Mendengar ocehan pria di hadapannya, Adrian menjadi makin kesal. Ia yang sudah jauh-jauh datang ke sana dan sendirian seperti tak di hargai dan terus di intimidasi.
Sambil tetap menahan emosinya yang hampir tak terkendali, Adrian mencoba tenang dan berniat menyelesaikan masalah ini dengan rencana awal yaitu damai.
Ia yang datang ke sana karna tak suka keluarganya di ikut sertakan mencoba menyelesaikan itu secara baik-baik dahulu.
“Jadi apa maumu?.”
“Kemauanku hanya satu, aku ingin tau rahasia di balik usaha anehmu itu.”
“Huh...”
Mendengar topik pembicaraan yang jauh melenceng, Adrian akhirnya tau kalau percuma saja berbicara dengan orang yang ada di hadapannya.
Ia jadi sadar kenapa dirinya di bawa ke sana dan di perlakukan seperti itu. Bahkan janji untuk tak mengikutsertakan keluarganya sudah di ingkari sejak awal.
“Jadi kau mengundangku ke sini karna ingin tau rahasia dapur orang lain dan menjadikan kedua orangtuaku sandra?"
“Ya, benar sekali...dan setelah masalah kita selesai, dua pemuda yang sepertinya sangat dendam kepadamu ini akan mengambil alih.”
“Hahahaha...Hahahaha...Hahahaha.”
Adrian yang awalnya mencoba bersikap baik dan tetap menjunjung tinggi rasa keadilan dalam dirinya langsung tertawa terbahak bahak.
Semua orang yang mendengarya juga tersenyum seakan mereka tau akhir dari semua itu.
Ia yang bodoh karna sudah datang ke sana sendirian atau memang musuhnya itu yang sangat kejam dan tak berniat melepaskannya sejak awal.
Jelas sekali setelah mengetahui rahasia kantornya, dua pria yang ada dendam padanya itu akan menyiksanya habis habisan.
Jika Adrian hanya manusia biasa, mungkin dirinya hanya bisa pasrah dan menyesali tindakan bodohnya.
Tapi Adrian yang ada di hadapan mereka berbeda, saat ini semua kekesalan dan amarahnya sudah tak terkontrol lagi.
Sambil berusaha tetap tenang, Adrian bertanya untuk terakhir kalinya.
Mungkin pertanyaannya ini akan menjadi pertanyaan terakhir sebelum ia akhirnya memutuskan pilihannya.
“Jika aku menolak memberitahumu, apa yang akan kau lakukan?”
“Menolak?...kau tak memiliki hak untuk itu bocah bodoh!"
“Begitu ya...jika begitu, maka matilah kalian semua.”
__ADS_1