
Adrian, Basil dan Squalo langsung pergi meninggalkan kediaman Luca setelah urusan mereka selesai.
Hari itu, Luca Salamanca sudah tak ada hubungan apa-apa lagi dengan Adrian.
Sambil berjalan ke dalam mobil, tiba-tiba saja hp Adrian berdering dan panggilan dari nomor tak di kenal terlihat di layar hp miliknya.
Karna penasaran Adrian langsung menjawab panggilan itu.
“Halo...”
Sesaat di jawab, tak ada suara yang terdengar sama sekali.
Seperti hanya orang iseng atau kurang kerjaan yang menghubunginya saat itu membuat Adrian sedikti kesal dan langsung mematikan panggilan.
Saat panggilan di matikan, hpnya lagi lagi berbunyi dan nomor yang sama menghubunginya kembali.
Sambil tetap berjalan ke arah mobilnya, Adrian menjawab kembali panggilan itu.
“Haloo...siapa ini?”
“Haloo...jika kau tak berbicara maka akan ku tutup kembali.”
Setelah berkata seperti itu, akhirnya suara seorang pria mulai terdengar dari hp miliknya.
“Kau pikir kau sudah hebat?...”
“Huh, siapa ini?”
“Siapa aku itu tidak penting, saat ini ibumu sedang berbelanja di Street -21 Valentine, ayahmu sedang duduk dan mengumpul bersama teman nelayannya.”
Mendengar ucapan pria misterius itu, Adrian langsung berhenti berjalan dan sedikit berpikir.
Siapa dia, bagaimana dia mengetahui kalau ibu Adrian sedang berbelanja dan ayahnya sedang berkumpul dengan teman temannya.
Setelah semua kepingan di satukan, hanya ada satu nama yang terlintas di benak Adrian.
Theodoric Martin Sebastian, orang yang sempat di singgung Luca saat itu. Jika ada orang yang berani mengancamnya itu pastilah dia.
“Dasar bajingan, ada urusan apa kau denganku?”
“Hahaha, bocah yang menarik...seperti kabar yang beredar, kau sama sekali tak kenal takut ya.”
“Mau apa kau?...jangan coba-coba mendekati keluargaku atau...”
“Atau apa?...jika aku mau aku bisa membunuh kedua orangtuamu saat ini, apa kau mau aku melakukannya sekarang?”
“Cukup bajingan, jika sampai ibu dan ayahku lecet sedikti saja akan ku habisi kau dan seluruh keluarga Sebastianmu itu.”
Sesaat Adrian berkata seperti itu, suara dari pria misterius tak terdengar untuk sesaat.
Saat ini Adrian yang di ancam dan keluarganya dalam bahaya benar benar marah.
Jika ada urusan denganya kenapa harus mengintai keluarganya. Baginya itu tindakan seorang pengecut dan Adrian benar-benar marah.
“Besok malam di Sebastian Tower, jika kau tak ingin keluargamu terlibat datang ke sana sendirian.”
Sesaat suara itu selesai berbicara, panggilan langsung di matikan.
Adrian yang di ancam hanya termenung dan mulai menatap kedua bawahannya yang saat ini melihatnya seperti predator yang haus akan mangsa.
Terlebih lagi Squalo yang sejak kelahirannya sudah menahan diri dan hampir gila.
“Bos...apa ini saatnya beraksi?”
Bukannya menjawab harapan besar Squalo, Adrian melihat ke layar hp dan menelepon seseorang.
Baru beberapa detik Adrian menelepon orang itu, panggilannya langsung di jawab.
“Haloo Bos, ada perlu apa menelepon saya?”
“Arcier, apa kau ada melihat orang yang mencurigakan sedang mengintai ibuku di sana?”
“Lapor bos, sejak ibu Judy keluar dari rumah bersama teman temanya memang sudah ada dua pria yang mengikutinya, tapi kedua orang itu hanya mengawasi dari jauh.”
__ADS_1
“Apa ibuku baik baik saja?”
“Ya...ibu Judy sedang berbelanja bersama teman temannya, apa perlu ku bereskan dua orang ini?”
Sambil berfikir sejenak, Adrian yang di suruh datang besok malam sendirian ke Sebastian Tower mulai memikirkan rencana.
Bisa saja ia membunuh orang yang mengawasi ibunya, tapi setelah itu apa. Jika ia melakukan itu jelas tangkapan utamanya akan lari dan lebih sulit lagi untuk di tangkap.
Karna sadar akan hal itu Adrian mencoba menahan amarahnya dan mulai mengambil nafas seara teratur.
“Jangan...belum sekarang, tetap jaga ibuku dan hubungi Polpo yang menjaga ayahku dan katakan apa yang ku sampaikan padamu.”
“Baik Bos, perintah di terima.”
Setelah memastikan keadaan ibunya aman, Adrian mulai berjalan kembali ke mobilnya.
Squalo dan Basil yang mendengar apa yang Bos mereka katakan di panggilan juga terlihat bersemangat.
“Baiklah...karna ada orang bodoh yang mencoba bermain main dengan kita, maka kita akan ikut bermain."
"Basil, Squalo...besok malam mungkin kalian bisa beraksi.”
Mendengar ucapan Adrian, Basil langsung tersenyum tipis sedangkan Squalo melompat lompat kegirangan seperti orang bodoh psikopat.
Setelah meninggalkan kediaman luca, Adrian Basil dan Squalo langsung menuju kantor.
Di kantor kecil itu mereka masuk ke tempat rahasia alias di mana Ocean Link di simpan.
Sesaat masuk, seorang pria misterius yang baru saja di lahirkan dari Ocean Link dengan tubuh penuh otot langsung muncul dan menundukkan badanya di hadapan Adrian.
Adrian yang melihat itu mulai memperhatikan pria muda itu. Aura yang ia keluarkan sangat kuat dan jelas tubuh penuh otot itu terlihat sepert baja yang teramat kuat.
Di tambah lagi bagian tangan miliknya yang berwarna sedikit putih mengkilap dan mengeluarkan aura aneh mengerikan seperti menjadi ciri khas dari kehebatannya.
“Seperti yang di harapkan dari Udang Mantis.”
“Berdirilah...”
Di beri perintah, pria muda itu langsung tegak dan kini berdiri sejajar dengan Adrian.
Tubuh mereka sama besarnya, jika ada perbedaan, itu jelas Otot milik pria aneh itu yang jauh lebih besar dan terlihat kuat seperti baja.
Karna penasaran dengan kekuatan anggota barunya, Adrian langsung memberi perintah.
“Coba tahan tinjuku ini dengan tinju milikmu.”
__ADS_1
Di beri perintah, pria itu mengangguk dan mengambil ancang ancang aneh.
Adrian yang melepaskan jas miliknya juga langsung mengambil posisi dan bersiap siap.
Lalu dalam kecepatan yang gila, dua pria itu langsung beradu pukulan.
Pukulan super kuat saling beradu dan menghasilkan bunyi yang mengerikan.
Suara dua tangan kuat yang saling bertabrakan itu hampir seperti suara bazoka yang saling beradu.
“Booommmb...”
Sangking hebatnya pukulan yang beradu itu, dinding menjadi sedikit bergetar.
Basil dan Squalo yang ada di sana hanya tersenyum saat malihat kehebatan dua pria yang ada di hadapan mereka.
Adrian yang beradu pukulan dengan petinju terkuat dari seluruh lautan itu merasakan tangan kanannya sedikit bergeser.
Otot dan tulang pergelangan tangannya serasa mau pecah dan remuk.
Sambil berusaha tetap sok kuat, ia mengangguk dan memberi pujian pada anggota barunya itu.
“Hebat...seperti yang di harapkan dari petinju terhebat dari lautan.”
“Mulai sekarang kau akan menjadi bawahanku dan aku akan memberimu nama...”
“Cano, bagaimana apa kau setuju?”
“Semua perintah tuan adalah mutlak.” Ucap Cano sambil menundukkan badannya di hadapan Adrian.
“Oke...sisanya akan di urus oleh dua orang yang ada di sana, karna hari sudah malam aku ijin pamit."
“Basil, sisanya ku serahkan padamu.”
“Siap tuan...”
Sambil berjalan dengan santai, Adrian yang menahan rasa nyeri di tangannya berjalan dengan lebih cepat.
Saat sampai di mobil, ia sedikit merintih karna tangan kanannya seperti hancur dari dalam ketika beradu pukulan dengan Cano.
“Sialan...betapa bodohnya aku yang mencoba kekuatan tinjunya.”
Sambil menahan sakit, Adrian membasuh tangan kanannya dengan air.
Sesaat terkena air, seperti biasa, luka di tangannya langsung sembuh lalu Adrian menyalakan mobil dan pulang ke rumahnya.
__ADS_1