
Tanpa terasa malam telah tiba, Adrian yang sudah berpakaian rapi langsung pamit dan pergi dari rumahnya.
Di depan rumah, Basil dan seorang pria dengan pakaian hitam telah menunggu Adrian keluar dari rumahnya.
Saat Adrian keluar, saat itu juga mereka mengikuti dengan mobil lainnya.
Dengan pelan dan santai mereka pergi menuju puncak bukit yang tak lain adalah daerah kekuasaan Luca Salamanca.
Setelah beberapa menit perjalanan, tibalah mereka di gerbang besar kediaman Luca.
Saat melihat kehadiran Adrian, penjaga gerbang langsung membuka gerbang besar itu dan mereka pun masuk.
Rumah besar kediaman Luca Salamanca seperti biasanya, di tiap sisi ada tower tinggi di mana di tiap towernya ada sniper handal yang berjaga.
lalu jelas di dalam kediaman mewah itu, hampir setiap sudut rumah ada pria bersenjata lengkap yang menjaga.
Saat keluar dari mobil, Basil dan seorang pria dengan rambut spec panjang langsung mendatangi Adrian.
“Selamat malam tuan.”
“Malam boss...”
“Basil, di dalam nanti jangan berbicara jika tak kuberi perintah.”
“Baik tuan.”
“Squalo...aku membawamu saat ini untuk jaga-jaga, jadi jaga sikapmu dan tutup rapat mulutmu.”
“Asiyap boss, apakah malam ini akan ada darah dan daging segar?”
Mendengar ucapan Squalo, Adrian langsung menghela nafas dan menatap bawahannya itu dengan tajam.
“Jangan berbuat hal aneh sebelum ku beri perintah, apa kau mengerti?”
“Asiyappp.”
Akhirnya mereka bertiga berjalan dan masuk ke rumah super mewah tersebut. Di pandu kakek Adam, Adrian, Basil dan Squalo langsung menuju ruangan rahasia di mana Luca menunggu mereka.
Sambil berjalan, kakek Adam yang melihat perubahan besar pada Adrian hanya tersenyum dan tak mengucapkan sepatah katapun.
Sesampainya di depan pintu, kakek Adam langsung mengetok dan mulai berbicara.
“Tuan Luca, Adrian sudah datang.”
“Silahkan masuk.”
Saat pintu di buka, Adrian bisa melihat Luca dan beberapa anteknya ada di sana. Lalu di sebelahnya ada seorang gadis dengan penutup mata yang matanya di tutup rapat dengan kain aneh.
Saat melihat Adrian, Luca langsung berdiri dan menyambutnya.
“Adrian...lama tidak bertemu.”
“Tuan Luca...apa kabar?”
“Baik...semuanya baik-baik saja...duduklah.”
Setelah bersalaman, Adrian, Basil dan Squalo yang duduk tepat di hadapan Luca langsung di tatap tajam oleh seluruh antek Luca yang ada di sana.
Total ada empat anak buah Luca di ruangan tersebut dan satu gadis aneh dengan penutup mata yang duduk di samping Luca.
Tanpa basa basi, Adrian langsung bertanya perihal apa ia di undang atau lebih tepatnya di perintahkan untuk datang ke kediaman Luca malam itu.
__ADS_1
“Ada urusan apa anda mengundang saya ke sini pak?”
“Hemmm, kau ini tak suka basa basi ya...sebelum kita masuk ke inti masalah ada hal yang ingin ku sampaikan padamu.”
“Apa itu?”
“Theodoric Martin Sebastian, pria merepotkan itu menghubungiku beberapa waktu yang lalu...apa kau memiliki masalah dengan keluarganya?”
Mendengar nama Sebastian, Adrian langsung teringat dengan Satria Sebastian.
Memang waktu itu ia menampar pemuda sok hebat itu dengan kuat. Tapi sudah tiga bulan berlalu dan tak ada kabar darinya.
Bahkan pria arogan dan sok jagoan yang mengancamnya untuk dekat-dekat dengan Yuki juga seperti hilang padahal Adrian juga sudah siap jika ia berani macam-macam lagi.
“Iya pak, ada pria bernama Satria Sebastian yang berselisih denganku waktu itu, tapi itu tiga bulan yang lalu.”
“Begitu ya...asal kau tau saja, selama tiga bulan ini juga kau masih dapat hidup berbahagia berkat perlindungan dariku.”
“Mungkin kau tidak mengenalnya, tapi satu hal yang harus kau tau, Theodoric Martin Sebastian...jika orang itu sudah bergerak maka nyawamu bisa dalam bahaya.”
“Jadi...apa hubungannya pria itu denganku?”
“Ku peringatkan sekali lagi, di dunia ini ada hal yang tak bisa di selesaikan hanya dengan uang atau bahkan dengan perlindunganku.”
“Aku tau itu...tapi anda sendiri yang bilang kalau aku berada di bawah pelindunganmu...jadi apa lagi masalahnya?”
“Itu dia masalah utama yang akan kita bahas malam ini.”
Sambil menyalakan rokok cerutu miliknya, Luca mulai tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Empat orang anteknya juga mulai tersenyum saat itu. Ketika mereka semua tersenyum, Adrian, Basil dan Squalo hanya diam dan tak bergerak sedikit pun.
Basil tetap diam dan duduk dengan anggun, Squalo dengan gaya arogannya duduk sambil melipatkan kaki kanannya. Lalu Adrian dengan santai duduk sambil melipatkan kedua tangannya.
Melihat Adrian dan anak buahnya sangat santai, Luca menaruh respec pada mereka.
Entah mereka yang bodoh atau nyali mereka terlalu besar sampai mereka bisa santai seperti itu di hadapan seorang pria bernama Luca Salamanca.
“Hahaha, bocah yang menarik...kau dan cecungukmu ini membuatku sedikit kagum.”
Di bilang cecunguk, Squalo yang gampang marah langsung menatap Luca dengan tajam.
__ADS_1
Jika tak di perintahkan untuk diam mungkin ia sudah memakan pria yang menyebutnya cecunguk itu sampai ke tulang tulangnya.
Tapi di hadapan sang "Raja" alias Adrian. Ia mencoba menahan emosinya.
“Dari pandangan mata kalian tak terlihat rasa takut sedikitpun, bahkan yang satu ini seperti ingin memangsaku...hahahaha.”
“Jadi apa mau anda sekarang pak?”
“Mauku?...kemauanku hanya satu, aku menginginkan permata seperti yang waktu itu.”
Mendengar ucapan Luca, Adrian yang sudah menebak itu semua sejak awal hanya bisa duduk diam.
Bisa saja ia memberikan satu atau bahkan dua permata kepada tua bangka yang coba memerasnya itu.
Tapi karna itu bukan batu sembarangan dan Adrian berniat mengumpulkan semuanya nanti agar ia bisa membuka gerbang Istana Laut Selatan sama sekali tak memiliki niatan untuk menyerahkan sisa batu itu kepada Luca.
Anggap saja ia memberikan Luca satu saat ini, maka itu akan menjadi masalah utama yang akan berdampak berkepanjangan.
Jika ia memberikan lagi maka jelas tua bangka itu akan meminta lagi dan Adrian yang tak bodoh tak ingin di jadikan sapi perah.
Memang benar waktu itu ia meminta pertolongannya untuk menjaga keluarganya dari Wijaya.
Tapi saat ini berbeda, Wijaya sudah mati dan meninggalkan kota Bluesky. Jikapun sang anak dendam, jelas ia akan dendam kepada Luca yang telah membunuh ayahnya.
Bahkan saat ini Adrian sudah memiliki cukup kekuatan untuk setidaknya melindungi keluarganya sendiri.
“Aku tak memiliki batu itu lagi pak, batu itu ku dapatkan dari laut dan hanya ada satu.”
“Adrian...aku tau kau bocah pintar, tapi di hadapanku tak ada yang dapat berbohong.”
“Bagaimana cara menjelaskanya pada anda pak, apa yang harus ku lakukan untuk mengatakan kebenaran ini padamu?”
Sambil tersenyum, Luca menatap gadis dengan penutup mata di sebelahnya. Jika di liat gadis itu masih sangat muda, bahkan lebih muda dari Adrian.
Sadar ada yang aneh, Adrian yang memang sejak awal dapat merasakan Aura aneh yang menyelimuti gadis kecil itu menjadi sedikit khawatir.
Dan benar saja, kekhawatirannya benar benar terjadi sesaat Luca memberi perintah.
“Alice...tolong periksa orang ini.”
Di beri perintah, gadis kecil bernama Alice itu langsung berdiri dan berjalan mendatangi Adrian.
__ADS_1