
Melihat jam di tangan kanannya masih pukul empat, Adrian yang masih ada satu jam waktu senggang pergi ke dermaga.
Sambil memancing, ia mempersiapkan diri dan juga mentalnya.
Tambak pak Wijaya, itu artinya ia akan masuk ke tempat musuh. Walaupun di temani oleh pak Luca, tetap saja masih ada rasa ketegangan dan kekhawatiran di dalam hati anak muda yang baru berusia delapan belas tahun itu.
Sambil memancing, Adrian mulai mencari sesuatu yang berguna di toko sistem. Sambil melihat layar hologram, kini matanya tertuju pada sebuah gulungan aneh di bagian toko keterampilan.
Meskipun harganya sangat mahal, tapi itu lebih baik dari pada tidak membawa persiapan apa apa.
“Sea, berikan satu gulungan seni beladiri Enki ini padaku.”
[Perintah di terima]
[Apa tuan bersedia membayar 20.000 Contribution Poin untuk membeli satu gulungan Seni Beladiri Dewa Laut Enki]
“Ya, belikan untukku.”
[Jawaban di terima, membeli gulungan Seni Beladiri Dewa Laut Enki]
[Selamat tuan mendapatkan satu gulungan Seni Beladiri Dewa Laut Enki]
[Apakah tuan ingin mengaplikasikan seni beladiri Dewa Laut Enki ke dalam tubuh tuan]
“Ya lakukan.”
[Jawaban di terima, memulai proses penyatuan teknik Seni Beladiri Dewa Laut Enki]
[10%]
[20%]
[40%]
[60%]
[80%]
[100%]
[Selamat Seni Beladiri Dewa Laut Enki berhasil tuan kuasai]
Adrian yang baru saja menghabiskan sisa poinya membeli sebuah gulungan misterius langsung dari Sea merasakan ada sesuatu yang berbeda dari dirinya.
Mungkin kini ia sudah tak memiliki poin lagi dan hanya menyisakan 1.321 PS dan 130CP. Tapi yang jelas sesuatu yang hebat dapat ia rasakan dari hanya membeli gulungan aneh itu.
__ADS_1
Bahkan ketika Adrian melihat orang orang yang bekerja di dermaga, ia dapat melihat Aura aneh yang mengelilingi mereka dan tentu ia seakan dapat melihat langsung apa yang menjadi kehebatan dan kekurangan dari tiap orang yang ia lihat.
Tepat saat ia berhasil menguasai Seni Beladiri Dewa Laut Enki, saat itu juga sebuah mobil sedan hitam berhenti di belakangnya.
Karna sadar, Adrian langsung menyimpan alat pancingnya ke tas penyimpanan dan berjalan mendekati mobil itu.
“Adrian, silahkan masuk.”
Karna pintu sudah di bukakan, Adrian pun masuk dan kini di dalam mobil itu ada empat orang.
Dua orang di depan adalah kaki tangan pak Luca. Di belakang ada pak Luca sendiri dan Adrian.
Sambil mobil melaju pelan, Luca mulai menenangkan Adrian.
“Kamu tak perlu kuatir, saat ini beberapa anggotaku sudah menjaga keluargamu.”
“Seperti yang di harapkan dari anda pak, terima kasih.”
“Lalu soal masalah utama kita, di sana saya akan menjamin keluarga Wijaya tak menyakitimu, jadi biarkan saya yang berbicara dengan mereka dan kamu diam saja.”
“Baik pak.”
Kini mobil sedan hitam yang mereka kendarai pergi ke bagian selatan kota Bluesky. Di sana terlihat memang ada banyak tambak ikan milik para nelayan dan tentunya yang terbesar adalah milik keluarga Wijaya.
Saat baru sampai saja Adrian dapat melihat sudah ada banyak orang yang berkumpul di sana. Ada kepala polisi dan beberapa anggota kepolisian yang memang menjadi salah satu antek Luca Salamanca.
Saat Luca dan Adrian keluar, saat itu juga Thomas yang merupakan kepala kepolisian kota Bluesky mendatangi mereka.
“Sore pak Luca, sepertinya Eka benar benar dendam dengan anak ini.”
“Bagaimana keadaannya?”
“Ada lebih dari seratus orang dan beberapa bejaga di masing masing tempat.”
“Begitu ya, sepertinya ini akan sedikit memakan waktu.”
“Baiklah Adrian, ayo kita temui para berandalan itu dan selesaikan semua ini dengan cepat karna aku tak ingin waktu makan malamku terganggu.”
Di temani Luca dan kepala kepolisian kota Bluesky serta beberapa antek anteknya, Adrian langsung menemui Eka yang memang sedang menunggu di tengah laut.
Sambil berjalan di tambak besar keluarga Wiajaya, dapat di lihat dari pihak Eka ada banyak orang yang bergerombol dan menunggu kedatangan mereka.
Jika di total mungkin ada ratusan orang belum lagi yang berjaga di tempat lain.
Kini mereka semua tiba di tengah tengah tambak ikan terbesar dan terluas yang ada di kota Bluesky. Sangking besarnya, bahkan tempat itu sudah hampir sampai ke tengah laut.
__ADS_1
“Tuan Luca...akhirnya anda datang juga.” Ucap Eka yang terlihat duduk di kursi dan di belakangnya ada banyak antek anteknya.
Di sebelah kanannya ada adik kedua yaitu Dwi dan di sebelah kirinya ada sang ayah yaitu Wijaya.
Luca yang sampai di sana juga langsung membicarakan masalah utama mereka dan inti dari berkumpulnya semua orang.
“Eka...kenapa harus pakai cara seperti ini, apa perintahku tak sampai padamu?”
“Hahahaha, tentu saja perintah anda adalah hal yang mutlak di kota kecil ini tuan Luca.”
“Tapi aku...Eka Wijaya Kusuma bukan orang yang bisa kau perintahkan.” Ucap Eka di hadapan mereka semua.
Kepala kepolisian Bluesky yang mendengar itu sedikti marah dan langsung mengancam Eka yang ada di hadapannya.
Banyaknya orang di pihak musuh seperti tak membuat pria bertubuh gemuk seperti babi itu takut.
“Jaga bicaramu bajingan, sekali lagi kau menghina bosku akan ku bunuh kau dan keluargamu itu.” Ucap Thomas dengan lantang di depan semua orang.
Luca yang melihat salah satu bawahannya marah ketika Eka tak mengikuti perintahnya menoba menenangkan.
Saat ini keadaan menjadi panas padahal mereka baru saja bertemu.
“Huh, masalah kecil seperti ini tak perlu di besar besarkan.”
“Jaya, aku tak ingin lama lama di tempat bau ini...jadi apa maumu?”
Mendengar ucapan Luca, Wijaya tersenyum dan menatap Adrian. Sambil memelototi Adrian ia mulai berbicara di depan semua orang.
“Anak itu...dia membuat anak bungsuku sekarat dan tak sadarkan diri di rumah sakit, kemauanku hanya satu...aku ingin dia menerima hal yang sama seperti yang dia lakukan pada anakku.”
Mendengar perkataan Wijaya, Luca tersenyum dan mulai tertawa. Tawaan pria paruh baya itu bahkan membuat sebagian orang merinding dan ketakutan.
“Hahahaha.”
“Hahahahaha...sepetinya kau tidak paham dengan posisimu ya dasar orang kampung.”
“Kau taukan apa yang akan terjadi jika ada orang yang melawan perintahku?...apa aku harus mengatakan lagi perintahku di depan kau dan semua orangmu itu?”
Mendengar Luca yang tak bergeming melindungi Adrian. Eka langsung tersenyum dan balik mengancam.
“Sudahi basa basi ini...jika kau tetap melindungi anak itu maka kau akan berhadapan dengan Big Dady...jadi berhentilah melindunginya.”
Mendengar nama Big Dady, Luca tersenyum tipis. Ia yang sudah lama berseluncur di dunia gelap jelas tau nama besar Big Dady.
Tapi di Bluesky, di kota kecil itu, ia adalah sang penguasa dan perintahnya itu mutlak dan harus di turuti oleh semua orang.
__ADS_1