
Dokter Antony yang melihat pasienya sudah sadar langsung mendekat. Selain mengucapkan selamat pada Adrian karna ibunya sudah sadar, untuk kepentingan keluarga itu juga dokter Antony akhirnya langsung mengecek kondisi sang ibu.
Walaupun Adrian tau kalau itu tak di perlukan lagi karna Mata Air Kehidupan sudah menyembuhkan ibunya tetap saja ia menuruti perintah dokter Antony dan keluar sejenak.
Sambil melihat pemandangan malam kota Bluesky Adrian menelepon sang ayah.
~~ Titt...titt...titt... ~~
“Halo Adrian, ada apa menelepon?”
“Ayah sudah bisa pulang sekarang.”
Saat mendengar perkataan sang anak dengan suara sedikti serak, sang ayah yaitu Yoga Devano sedikti khawatir.
“Kenapa kamu bicara seperti itu, apa Wijaya mengganggumu lagi?”
“Tidak ayah...”
“Apa penyakit ibumu kambuh lagi?”
“Tidak yah...”
“Terus apa, kenapa suaramu seperti itu?”
“Yah, ibu sudah sembuh...”
Mendengar ucapan Adrian, Yoga terdiam sesaat.
Ia yang paling tau penyakit dan penderitaan Istrinya mulai sedikit terharu saat mendengar ucapan sang anak.
Adrian yang mendengar secara samar suara rintihan sang ayah tau kalau saat ini ayahnya sedang mencoba menahan tangisannya.
“Apa maksudmu nak?...kenapa kamu berbicara seperti itu?”
“Pulanglah yah, ibu sudah sembuh jadi ayah tak perlu kerja di kapal asing lagi.”
Meskipun Adrian sudah bilang begitu, tetap saja sang ayah masih tak percaya, bahkan baru beberapa hari yang lalu dokter Antony menghubunginya dan mengatakan kondisi istrinya makin parah.
Tapi Adrian yang memang mengatakan kebenaran langsung berjalan mendekat ke kamar sang ibu. Di sana dokter Antony yang sudah mengecek kondisi ibunya tersenyum cerah.
“Gimana dok?”
“Miracle...sepertinya ini pertolongan dari dewa, Adrian...ibumu sudah sembuh.”
Sang ayah yang masih dalam panggilan juga secara samar mendengar ucapan dokter Antony. Awalnya ia yang tak percaya menjadi sedikit memiliki harapan untuk mempercayai apa yang anaknya katakan barusan.
Sambil menelepon kembali sang ayah, Adrian yang berjalan masuk ke kamar sang ibu langsung menyerahkan hp miliknya.
“Yah, coba bicara dengan ibu...ayah sudah lama menantikan hal ini kan.”
Dengan cepat Adrian menyerahkan ponsel miliknya kepada sang ibu. Walaupun di sana masih ada beberapa suster yang mengecek alat medis, tapi karna ingin memberitahukan ibunya yang sudah siuman dan ingin meyakinkan sang ayah ia langsung memberikan hp ke ibunya.
__ADS_1
"Hallo...?"
“Judy...apa kamu sudah sadar?...aku...aku akan segera ke sana.”
Sambil tersenyum sang ibu mulai mengobrol dengan ayahnya. Dari telfon sang ibu bisa mendengar rintihan dari tangisan suaminya dengan jelas.
“Kenapa kamu menangis...aku sudah baikan jadi jangan menagis lagi?"
Adrian yang tak ingin menggangu suster yang lagi bekerja di sana dan momen bahagia sang ibu dan ayahnya sedikti menjauh dan melihat ke arah jendela.
Dari sana ia bisa melihat ada seorang anggota Wijaya yang memang selama ini mengikutinya.
Walaupun hanya mengawasi, tapi itu cukup mengganggu dan Adrian yang tak ingin momen bahagianya teruskik mencoba untuk tak memikirkan hal itu, setidaknya untuk sekarang.
Malam itu Judy Montana di nyatakan sembuh seutuhnya. Semua kenalan dan kerabat berkumpul di rumah sakit dan memberikan ucapan selamat.
David, Bella dan tetangga Adrian lainnya datang dan terlihat sangat senang saat itu.
Sambil menelepon kakek dan neneknya, Adrian memastikan kembali kabar tentang kesembuhan sang ibu.
“Benar nek, ibu sudah sembuh...jadi cepatlah ke sini.”
“Iya, kakek dan nenek serta pamanmu dan seluruh keluarganya akan datang ke sana besok pagi.”
“Oke nek, Adrian menantikan kehadiran kalian semua.”
Malam itu menjadi malam paling menyenangkan bagi Adrian. Selama berjam jam tak ada habisnya orang yang datang untuk setidaknya memberikan selamat karna memang keluarga mereka terkenal sangat baik dan ramah di lingkungannya.
“Bu, kalau gitu Adrian pulang dulu ya.”
“Iya, hati hati di jalan.”
Sebenarnya Adrian ingin tidur di rumah sakit malam itu menemani sang ibu, tapi karna besok akan ada banyak tamu dan saudara yang datang, Adrian harus menyiapkan segala keperluan.
Ia yang tau sang ayah masih di lautan lepas tak manja dan mengurus semuanya sendiri.
Di bantu David, Adrian mulai membersihkan rumahnya yang sangat kotor dan tak terurus malam itu.
“Anjay, udah gak bisa di sikat nih...harus di cat ulang kayaknya Yan.”
"Iya pid, yaudahlah percuma juga kita paksain...yang penting kamar ayah sama ibuku sudah bersih, trus kamar tamu juga udah.”
“Makasih sekali lagi dah bantuin aku.”
“Oke...kalo gitu aku balik ya, dah malam.”
“Yaudah hati hati.”
Rumah Adrian yang sudah tujuh tahun tak di sentuh oleh sentuhan seorang ibu rumah tangga memang menjadikan rumah yang cukup besar itu sangat kotor.
Di tambah sang ayah yang bekerja di lautan lepas dan hanya pulang sesekali makin membuat rumah itu amburadul.
__ADS_1
Adrian yang tau itu juga membersihkan secukupnya karna besok kakek dan nenek serta pamannya akan datang beserta keluara mereka.
Karna lelah, Adrian yang haus berjalan ke minimarket yang memang ada di dekat rumahnya.
Saat membeli beberapa minumam, di sana ia bertemu dengan seorang pria yang sangat di kenalnya dulu.
Eka Wijaya Kusuma. Saat melihat Eka, Adrian langsung kaget dan tak menyangka akan bertemu di tempat seperti itu.
“Adrian...apa kabar?”
“Mas Eka...sejak kapan mas kembali ke Bluesky?”
“Aku baru saja tiba, sepertinya malam ini kamu sedang berbahagia ya.”
“Hemm...ya, begitulah mas.”
“Yaudah saya permisi dulu mas.” Ucap Adrian yang sudah membayar di kasir dan tak ingin berurusan dengan Eka.
Tapi belum jauh dia pergi, Eka memangilnya.
“Kenapa buru buru sekali, aku tak akan menyakitimu kok."
“Aku tau kau berada di bawah perlindungan tuan Luca, tapi...kau harus ingat dengan perbuatanmu.”
Adrian yang mendengar ucapan Eka berhenti dan menatap pria itu. Jika tinggi Adrian 190 CM maka tinggi Eka mungkin lebih tinggi sedikit.
Tapi jelas, otot dan postur tubuh mereka berbeda jauh. Bahkan setelah lama tak bertemu tubuh Eka jadi jauh lebih besar dari sebelumya.
“Aku tak ingin membahas masalah itu, jadi aku permisi.”
“Lima giginya rontok, mata kiri mengalami pendarahan hebat, wajahnya hancur lebur, hidungnya patah dan belum sadarkan diri sampai sekarang...bagimana bisa kau tak ingin membahas hal itu.” Ucap Eka kepada Adrian yang berjalan menjauhinya.
Mendengar itu Adrian berhenti dan berbalik arah. Ia yang sudah lama di ganggu oleh Tri juga sudah menahan sebisa mungkin amarahnya.
Cuman Tri yang terbaring di rumah sakit juga menerima itu semua akibat perbuatannya sendiri.
“Itu salah adik mas sendiri karna tak bisa menjaga mulutnya, jika dia tak mencari gara gara aku tak akan pernah membuatnya sampai seperti itu.”
Mendengar jawaban dari Adrian. Eka langsung bertepuk tangan. Ia seolah olah memberi selamat atas apa yang telah Adrian lakukan.
“Hebat...aku tak tau apa yang kau lakukan sampai bisa membuat tuan Luca mau repot repot melindungimu.”
“Tapi satu hal yang harus kau tau anak kecil, aku Eka Wijaya Kusuma sama sekali tak takut dengan pria tua bernama Luca Salamanca itu...jadi nikmati waktu berbahagiamu karna sebentar lagi kau dan keluargamu tak akan bisa merasakannya lagi.” Ucap Eka sambil berjalan meninggalkan Adrian menggunakan mobil Lamborgini hitam miliknya yang terpakir di sana.
Adrian yang di ancam seperti itu langsung diam dan tak terima, apa lagi ketika Eka bilang keluarganya juga akan terlibat.
Baru saja sang ibu sembuh dan masalah baru langsung mendatanginya.
Kini pria bernama Adrian Devano itu terlhat berjalan pulang dengan sangat marah.
Dari jalan yang gelap bisa di lihat Adrian berjalan pelan menuju rumahnya dan dari kedua mata biru indah itu entah kenapa seakan akan berubah menjadi merah semerah darah.
__ADS_1