
Adrian yang di sambut oleh Luca langsung mendekat dan menjawab ucapan pria bersetelan hitam tersebut.
“Iya pak, lama tidak bertemu dan maaf menggangu di malam hari seperti ini.”
“Duduklah dulu.”
Setelah duduk, Adrian yang kini di kelilingi oleh empat orang yang menakutkan mencoba menenangkan dirinya.
Di depannya ada pria dengan tubuh besar bernama Luca, di belakangnya ada kakek Adam yang hanya berdiri seakan menjaga supaya ia tak kabur.
Lalu di kanan dan kirinya ada dua orang pria yang masih sangat muda. Dua orang pemuda itu juga terlihat sangat berbeda dengan orang orang yang biasa Adrian temui.
Dari auranya saja Adrian sudah tau kalau orang orang itu bukan orang sembarangan.
Sambil menuangkan wine ke gelasnya, Luca mulai menenangkan Adrian.
“Kau tak perlu takut, mereka tak akan memakanmu.”
“Jadi...bisa kau jelaskan tentang batu permata indah ini?” ucap Luca sambil memegang dan menunjukkan batu permata yang baru saja di beli Adrian di toko sistem.
“Itu saya dapatkan di lautan, dan saya ingin menjual batu itu kepada anda pak.”
“Menjual ya...jujur saja aku sedikit terkejut ketika tau dari Adam kalau batu ini adalah berlian asli dengan kemurnian mencapai 100%.”
“Selama aku berbisnis, aku tak pernah melihat yang seperti ini.”
“Tapi di situasi sekarang kita tak sedang berbisnis, kau tau itukan?”
Adrian yang mengerti dan memahami situasinya juga sudah merencanakan segala hal.
Ia yang saat itu memang sedang dalam keadaan tak di untungkan hanya tersenyum dan menjawab ucapan pria berbadan tegap itu.
“Saya tau itu dan tujuan utamaku ke sini juga bukan soal itu.”
“Keluarga Wijaya, saya ingin bapak melidungi keluargaku dari mereka.”
Bukannya menjawab perkataan Adrian, Luca justru melihat dan melirik permata indah berwarna biru laut itu dengan seksama.
Pria paruh baya itu terlihat masih sangat muda di umurnya yang sekarang. Sambil melihat batu berlian itu dengan seksama, Luca langsung memberikan jawaban yang membuat Adrian makin penasaran.
“Keluarga Wijaya ya, jika dua tahun lalu kau membawakanku batu ini...jangankan melindungi, membunuh mereka semua saat ini pun akan dengan senang hati ku lakukan.”
“Tapi keadaan sekarang berbeda, dunia ini seperti roda besar yang terus berputar dan kau tau itu kan?”
“Jadi apa jawaban bapak?”
“Santai sedikit anak muda, saat ini ibumu juga sudah aman dan kita masih memiliki banyak waktu malam ini.” Ucap Luca sambil tersenyum di ikuti semua orang yang ada di sana.
Sambi menuangkan segelas wine ke gelas di depan Adrian, Luca lalu tersenyum dan tertawa.
__ADS_1
“Hahahaha, ini yang ku butuhkan...apa kau tau harga batu ini jika di jual?”
Bukannya memberi kepastian, Luca lagi lagi bertanya hal aneh pada Adrian. Adrian yang tau kalau batu itu asli langsung menerka nerka harga batu seukuran telapak tangan yang kini di pegang oleh Luca.
“Berapa ya...mungkin seratus miliar.”
“Hemm...jawaban yang bagus, tapi tetap saja kau masih bocah.”
“Batu dengan kemurnian 100% ini memiliki harga yang tak akan bisa kau bayangkan, jadi dengan senang hati aku akan menerima permintaanmu dan melindungimu dengan semua yang ku punya.”
“Adrian Devano, mulai malam ini kau dan seluruh keluargamu berada di bawah perlindunganku.” Ucap Luca sambil menjulurkan gelas berisi wine miliknya ke arah Adrian.
Adrian yang mendengar itu dan memastikan keamanan dirinya dan seluruh keluarganya langsung meraih gelas yang sudah di isi wine dan bersulang dengan Luca.
”Baik pak, saya percayakan semuanya pada anda.”
Dengan cepat Adam langsung mendekat dan memberikan sebuah telpon ke Luca.
Di tempat lain...
Pak Wijaya yang marah besar karna Adrian melarikan diri langsung menyuruh semua orangnya mencari dan menemukan bajingan kecil yang membuat anak bungsunya sekarat.
“Bajingan...kau tak akan bisa lari.”
“Kalian semua, cari anak itu sampai dapat dan bawa ke hadapanku.”
“Baik bos.”ucap semua pria berpenampilan preman yang ada di sana.
“Pak Wijaya, kumohon jangan sakiti anak itu.” Ucap pak Yuda sambil sedikit memohon.
“Ini bukan salahku, anak itu yang memulai semua ini dan dia juga yang harus bertanggung jawab.”
“Jadi jangan coba ikut campur kau mengerti.”
“Kalian semua mengeti kan, jika ada lagi yang mencoba melindunginya lagi, saya Wijaya Kusuma akan memastikan kalian akan sangat menyesal sudah berani melawan perintahku.” Ucap tua bangka Wijaya sambil melotot ke semua nelayan yang memang sedikit ketakutan.
Tapi belum lama ia berbicara seperti itu, hp miliknya berdering dan sebuah panggilan dengan nama Luca Salamanca langsung terlihat jelas di hpnya.
Wijaya yang merasa heran kenapa seseorang seperti Luca yang tak pernah menelepon dirinya duluan langsung mengangkat telepon itu.
“Malam sahabaku, ada perlu apa malam malam menelepon?”
“Jaya, anak itu sekarang berada di bawah perlindunganku.”
Saat mendengar ucapan Luca, Wijaya langsung cemberut dan terlihat sangat marah. Setelah diam sejenak, Wijaya langsung menjawab panggilan itu.
“Kenapa kau melindunginya?”
“Aku tak akan berbicara panjang lebar, ini adalah perintah dariku...jika kau masih menyayangi keluargamu maka suruh semua orangmu untuk tak mengganggunya lagi.”
__ADS_1
“Jika aku sampai mendengar ada masalah sedikit saja padanya, maka kau dan seluruh keluargamu akan berhadapan denganku.”
~~ Tiitt ~~
Lalu telepon di matikan dan Wijaya yang mendengar itu langsung marah besar dan membanting hp miliknya.
“Sialan...”
“Awas saja kau bodoh, saat waktunya tiba nanti kau juga akan ku habisi.” Ucap Wijaya sambil menuju ke dalam mobil.
Melihat Wijaya yang sangat marah, semua orang terdiam dan tak ada yang berani bergerak.
Sambil masuk ke dalam mobil, Wijaya langsung berteriak dan memanggil salah satu anggota terpercayanya.
“Joko, hubungi semua orang dan katakan untuk kembali.”
“Huh, apa yang terjadi bos kena-.”
“Jangan melawan perintahku dan suruh semua orang kembali ke markas, kita akan rapat besar.”
“Ba-baik bos.”
Dengan itu semua orang di kantor utama nelayan hanya bisa termenung dan seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Baru saja Wijaya menyuruh semua orangnya untuk berpecar dan mencari Adrian, sekarang malah di suruh kembali.
Pak Yuda dan semua nelayan yang ada di san juga hanya bisa berdoa yang terbaik agar Adrian tak kenapa napa.
Di tempat lain...
“Apa begitu saja tak apa?”
“Kenapa memangnya?...apa kau takut dia tak mendengarkan ucapanku?”
“Bukan itu, bapak tau sendirikan keluarga itu kalau sudah marah, aku takut mereka tak-.”
“Santai saja bocah kecil, jika dia pintar maka sekarang ia akan menghubungi anaknya Eka dan tak akan berani bergerak sampai anaknya kembali.”Ucap salah satu anggota Luca yang duduk di sebelah kanan Adrian.
“Hahaha, apa bos yakin membiarkan mereka semua tetap hidup?...sudah lama kita tak beraksi dan mereka sepertinya cocok untuk meghabiskan waktu senggang ku.”
“Jangan terbawa suasana, rekan kita ini hanya meminta untuk melindungi keluarganya, jadi semua keputusan ada di tangan Adrian.”
“Benar begitukan Adrian?”
“Iya pak, saya juga mengaku salah sudah menghajar anaknya sampai sekarat, jika semuanya masih bisa di selesaikan baik baik, maka itu lebih baik.”
“Kalian dengar kan, jadi tahan diri kalian dan biarkan para preman kampung itu.”
Akhirnya malam itu masalah Adrian dengan keluarga Wijaya selesai.
__ADS_1
Mungkin belum seutuhnya, tapi dengan perlindungan keluarga Salamanca, Adrian yakin semuanya masih baik baik saja dan yang terpenting sang ibu sudah aman.