
Sebelum berangkat ke Amerika. Adrian, David dan seluruh anggota Sea Army saat ini sedang berkumpul dan bersenang-senang di salah satu Mal yang ada di pusat kota Bluesky.
Manta dan Polpo yang berhasil menjalankan misi dengan sempurna juga membuat Adrian puas dan malam itu mereka semua berpesta.
Di tempat bermain bola Bowling, Adrian untuk pertama kalinya mabuk berat.
“Hahaha, ayo tambah lagi bos.”
“Ini bos silahkan di habiskan.”
Karna kebanyakan anggota Sea Army suka merokok dan minum minuman keras, Adrian yang kenal dekat dengan mereka juga lama kelamaan ikut mengikuti kebiasaan itu.
Bahkan David yang sudah tak kuat minum saat ini sudah teler dan tak sadarkan diri.
“Hahaha, dasar lemah...baru dua gelas sudah teler.”
“Berisik Squalo...a...aku tak sama seperti kalian.” Ucap David sambil berusaha tetap sadar.
Adrian yang tau anggota Sea Army juga butuh hiburan dan privasi sengata tak membatasi kehidupan mereka.
Asalkan ketika di panggil siap, mereka bebas hidup semaunya.
Karna itulah anggota Sea Army hidup di kota Bluesky seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Beberapa dari mereka bahkan sudah menjali hubungan dengan orang-orang yang ada di sana.
Adrian yang meminum botol ke 25 akhirnya menyerah.
“Sudah cukup...jika lebih dari ini aku akan teler seperti David.”
“Hehehe, ternyata bos juga punya kelemahan ya.” Ucap Squalo.
Di sana Cano, Polpo dan Arcier sedang bermain dan bersaing dalam lomba Bowling.
Tentu saja Arcier dengan kemampuan menembaknya selalu menyapu bersih bola tanpa memberi ampun kepada lawannya.
“Sialan, kau curang Arcier...di larang menggunakan kemampuanmu dalam hal ini.” ucap Polpo yang kalah telak.
“Benar...ini sudah bukan persaingan lagi.” Lanjut Cano.
“Hahaha, maaf teman-teman...tapi kemampuanku ini sudah melekat pada diriku, jadi dengan memejamkan mata saja aku tetap akan menang.” Ucap Arcier.
Dan benar saja, sambil memejamkan matanya, Arcier yang melemparkan bola Bowling mengenai sasaran dengan telak dan menyapu bersih ke semua bola.
“Hahaha, aku menang lagi.”
__ADS_1
saat semua orang sedang bersenang-senang, tiba-tiba saja hp Adrian berdering.
Adrian yang masih sedikit sadar langsung mengangkat telfon tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
“Hallo...”
“Tuan...nyonya...nyonya Judy tuan...”
Mendengar suara pelayan di rumahnya yang menghubingi Adrian sambil berbicara terbata-bata, Adrian sontak kaget dan langsung berdiri.
Melihat ekspresi Adrian, semua anggota Sea Army langsung menatapnya dalam diam.
Bahkan Orca yang hanya minum sambil diam sendirian di pojokan dekat dengan Manta juga langsung menatap ke arah bosnya itu.
“Hallo bi, kenapa?...ada apa dengan ibuku?”
“Tuan...sebaiknya tuan pulang sekarang, nyonya...nyonya judy habis bertengkar hebat dengan ayah tuan.”
Mendengar ibunya yang habis bertengkar dengan sang ayah, Adrian yang memiliki firasat buruk langsung pergi meninggalkan tempat VIP tersebut.
Melihat bos mereka pergi dengan terburu buru, semua orang mengikutinya. Basil yang melihat Adrian pergi tanpa membicarakan apapun juga mengikuti dari belakang.
“Bos...apa yang sebenarnya terjadi?”
Tanpa menjawab pertanyaan Basil, Adrian terus melangkah dan dengan cepat pulang menuju rumahnya.
Saat sampai di rumahnya, Adrian langsung masuk.
Baru sehari yang lalu kakek dan neneknya kembali ke jakarta karna mereka juga ada jadwal cek kesehatan rutin di sana sehingga rumah sepi kembali dan hanya ada beberapa pembantu dan pelayan di sana.
Adrian yang khawatir langsung menuju kamar sang ibu.
Saat masuk, Adrian dapat melihat beberapa perabot yang pecah dan masih berserakan serta sang ibu yang duduk dan sedang di obati oleh salah satu pelayan.
“Mama...”
Adrian yang sampai di sana melihat dengan jelas luka lebam di wajah sang ibu dan langsung terdiam.
Darah dan luka mengalir deras di pelipis mata sang ibu. Melihat itu jantung Adrian berdetak kencang dan darahnya langsung mendidih.
Sang ibu yang melihat anak semata wayangnya mendatanginya juga membuang muka dan diam saja seperti tak ingin memperpanjang masalah.
Tapi Adrian yang kini duduk dan melihat ibunya babak belur langsung menatap sang ibu dan berbicara.
“Apa ayah yang melakukan ini?”
__ADS_1
Mendengar perkataan Adrian, sang ibu yang diam saja dan tak berbicara sudah dapat membuat Adrian menyimpulkan semua itu.
“Ma...jawab Adrian, apa si bajingan itu yang melukai mama?”
Mendengar suara tinggi Adrian, sang ibu yang khawatir langsung menenangkannya.
“Tidak...ini salah mama karna tak sengaja berkata jahat kepada ayahmu, jadi sudahi saja masalah ini ya.”
Mendengar suara serak sang ibu, Adrian sudah tak dapat berkata-kata lagi.
Hatinya benar benar sakit dan darahnya mendidih.
Memang belakangan ini menurut laporan anggotanya, sang ayah terlihat sering mabuk mabukan. Bahkan ketika keluarga besarnya berkumpul, ayahnya juga pergi menjauh.
Adrian yang sadar dengan sifat ayahnya yang seperti tak di hargai di rumah itu juga sengaja membiarkannya dahulu.
Mungkin suatu hari nanti ia bisa menerima fakta bahwa sang anak sudah jauh melampauinya.
Tapi ketika melihat darah menetes dari wajah sang ibu, untuk pertama kalinya Adrian merasa ingin membunuh ayahnya.
Sambil berdiri dan berjalan meninggalakan kamar sang ibu yang berserakan, Adrian yang tak terima ibunya di lukai langsung keluar dan berniat mencari sang ayah.
Sudah tujuh tahun ia hidup menderita dan selama tujuh tahun itu keinginannya hanya satu. Yaitu ibunya bisa sembuh dan hidup berbahagia.
Tapi melihat sang ibu menangis dan darah menetes dari wajahnya, Adrian yang sedikit mabuk langsung berjalan dengan kencang dan berniat membunuh ayahnya saat itu.
Sang ibu yang melihat Adrian marah dan pasti mencari ayahnya juga mencoba menghentikannya.
“Adrian...jangan di perpanjang, mama yang salah karna sudah berkata jahat pada ayahmu.”
Tapi seakan tak peduli, Adrian yang sudah tak bisa lagi menahan emosinya tetap berjalan meninggalkan rumah.
Meskipun beberapa kali ia mendengar suara ibunya memanggil dari belakang, hati Adrian yang sudah terlanjur sakit tak bisa merelakan itu semua.
Jika ada yang berani menyakiti sang ibu maka hanya ada satu kata, Mati. Bahkan jika itu adalah ayahnya sendiri.
Sambil mengendarai mobilnya dengan kencang, Adrian yang tau berkat laporan rutin anggotanya langsung menuju sebuah Kasino besar yang ada di pusat kota.
Anggoanya juga mengikuti dari belakang. Mereka semua yang melihat Adrian sangat marah tak berani mendekat dan hanya mengikuti dari belakang.
Squalo yang merasa akan ada darah malam itu juga tertawa lebar.
“Hahahaha, sepertinya malam ini aku akan makan daging segar lagi.”
“Berhentilah berbicara seperti itu Squalo, kita harus menghentikan bos.” ucap Basil.
__ADS_1
“Bagaimana caranya?...jika bos mau membunuh ayahnya sendiri apa yang bisa kita perbuat?” lanjut Cano yang duduk di belakang bersama David yang teler.
Adrian yang akhirnya sampai di depan Casino besar dan satu satunya di kota Bluesky itu langsung masuk di ikuti anggota Sea Army lainnya.