
Sisilia, Italy...
Saat ini kelompok yang menamakan diri mereka dengan nama BaneHallow sedang berperang dengan salah satu kelompok mafia tertua dan terkuat di dunia.
Kota yang menjadi markas dan kelahiran sang pengusa terkuat dunia bawah “The Godfather” itu sekarang terbakar hebat dan sedang di landa bencana.
Petir menyambar dari segala penjuru, badai besar datang menerbangkan apapun yang di lewatinya.
Mayat manusia berserakan dimana-mana. Api besar membakar hampir semua tempat tanpa tersisa.
Di situasi chaos tersebut, terlihat seorang pria muda yang dengan santainya sedang sarapan pagi di pinggir pantai.
Tubuhnya terlihat normal dan seperti pria biasa pada umumnya, rambutnya hitam dan tersisir rapi, matanya juga hitam pekat bagai malam abadi.
Seperti tak takut atau tak peduli dengan keadaan yang ada di sana, ia makan dengan begitu lahap di kala teriakan manusia dan petir menyambar dari segala penjuru.
Saat sedang makan, seorang wanita berjubah hitam datang dari portal aneh berwarna hitam dan menunduk di hadapannya.
“Lapor Tuan, ada berita tak terduga dari Madellin.”
Mendengar ucapan wanita itu, si pria misterius sambil mengunyah makanannya mulai berbicara.
“Kenapa, bukankah Big Dady sudah menyerah dan memilih tunduk?”
“Benar tuan, uang jaminan bahkan sudah di kirim.”
“Terus apa masalahnya?”
“Itu...Big Dady dan kelompoknya sudah musnah dan Justine, dia...dia tewas.”
Mendengar Sindikat Big Dady sudah musnah dan nama Justine yang tewas, pria itu berhenti menggerakkan garpu dan langsung menatap tajam ke arah wanita berjubah.
Bagaimana bisa salah satu komandan terkuatnya tewas. Mungkin jika orang lain itu masih bisa di cerna oleh otaknya.
Tapi Justine, pria abadi dan tak bisa mati itu di kabarkan tewas.
Sambil menggerakkan garpunya lagi, ia mulai melanjutkan sarapan paginya dan mulai berbicara kembali.
“Begitu ya, jadi si bodoh itu bisa mati juga...aku sedikit penasaran bagaimana dia bisa mati...”
“Tuan, kalau berkenan saya memiliki foto terakhir darinya yang ku dapatkan dari polisi di sana.”
“Ohhh...mana, perlihatkan padaku.”
Sambil berjalan mendekat, wanita dengan jubah hitam itu berjalan menunduk dan memberikan sebuah foto terakhir dari Justine yang merupakan salah satu komandan tertinggi BaneHallow.
Saat foto di letakkan di meja makan, pria misterius itu mengambil dan langsung melihat Foto terakhir orang yang sudah ia pekerjakan.
Melihat foto Justine yang tinggal kepala dan di paku bersama anggota Big Dady yang isi perutnya di keluarkan, seketika pria misterius itu langsung pucat dan memuntahkan semua makanan yang baru saja ia makan.
Wanita berjubah yang melihat masternya muntah juga terlihat panik dan sedikit menjauh.
“Huuueekkkk...”
“HuuuueeeHuuueeeekk...”
Setelah memuntahkan makanan, pria itu sedikit tenang dan duduk kembali. Sambil melihat kembali foto itu, ia mulai berbicara lagi.
“Sialan, kau sengaja ya menunjukkan padaku foto ini?”
“Tidak tuan, saya hanya...”
“Cukup...kirimkan Victor dan cari tau siapa Monster yang melakukan hal gila ini.”
Setelah diberi perintah, wanita berjubah hitam itu menghilang entah kemana lalu pria misterius itu berdiri dan menatap mentari pagi yang terlihat sangat cerah.
Saat selesai makan, entah kenapa cuaca yang awalnya gelap dan mendung mulai berubah. Lalu petir dan badai juga reda.
Sambil menatap pemandangan laut yang indah dari kota Sisilia yang sudah hancur lebur, pria itu tersenyum seperti iblis.
Aura hitam pekat terlihat mengelilinginya dan makin lama aura itu makin tebal dan gelap.
“Hahahaha, sepertinya di dunia ini ada yang lebih kejam dariku.”
Di tempat lain, Adrian yang saat ini sedang latihan beladiri bersama beberapa anggota Sea Army dan karyawan Baruna Grub terlihat sedang melawan Orca.
Melawan Orca yang tubuhnya sangat kuat dan sudah di luar nalar, semua serangan Adrian seperti tak berefek pada tubuh Orca.
Sambil menyempurnakan Seni Beladiri Dewa Laut Enki, Adrian memang biasa latihan dengan anggota lain.
Kali ini Adrian berusahan menyerang Orca dengan tangan panjang miliknya.
__ADS_1
Tapi serangan yang kuat dan cepat bagai tombak itu selalu di tahan dengan mudah oleh Orca.
Melihat Orca yang hanya bertahan, Adrian menjadi sedikit kesal dan memerintahkan Orca untuk menyerangnya dengan serius.
“Ayo serang aku dengan serius, aku ingin tau seberapa kuat seranganmu.”
Di beri perintah, Orca masuk mode serius dan menyerang Adrian dengan cepat.
Gerakan simple tapi sangat sulit di prediksi dari Orca membuat Adrian sedikit di permainkan.
Dengan penglihatan Dewa Laut Enki, Adrian seperti dapat melihat semua gerakan di sekitarnnya beberapa detik lebih cepat.
Atau bisa di bilang semua pergerakan di matanya dapat di lihat dalam gerakan Slow Motion.
Dengan kemampuan ini, Peluru saja bisa Adrian hindari.
Di tambah Sense tinggi miliknya membuat pertahanan Adrian sangat kokoh dan tak mudah di tembus.
Tapi di hadapan Orca dengan mode serius, semua itu bagaikan omong kosong dan dengan sedikit trick, Orca berhasil menyerang Adrian.
Tinju kuat miliknya ia lancarkan dengan cepat dan lurus, tapi seakan tau serangannya akan di hindari, Orca dengan ancang-ancang anehnya juga menyerang Adrian dari sisi lain.
Setelah serangan pertamanya di hindari,sambil memutar badan, Orca dengan sikut kanannya berhasil menyerang Adrian dengan telak.
Diserang dengan kecepatan yang sudah di luar nalar, Adrian yang tak bisa mengikuti gerakan Orca terpental sejauh beberapa meter dan keluar dari lapangan pertandingan.
Melihat bos mereka terpental dan terluka, Basil dan Cano langsung menghampiri Adrian karna khawatir.
“Tuan...apa tuan baik-baik saja.”
“Bos...”
Cano yang melihat Orca dengan sengaja menyerang titik lemah Adrian secara brutal menatap pria itu dengan ekspresi marah.
“Kau...kau sengaja melakukan ini kan?”
Di tatap oleh Cano, Orca langsung mengeluakran aura membunuh yang luar biasa.
Seakan di tantang, Orca berjalan mendekat ke arah Cano dan momen menengangkan terjadi saat itu.
Adrian yang merasakan niat membunuh dari dua anggotanya langsung berteriak.
“HENTIKAN!"
__ADS_1
Mendengar ucapan Adrian, dua orang yang hampir saling menyerang itu berhenti sektika.
Lalu Adrian yang tersungkur dan perutnya di serang dengan telak mulai berdiri kembali.
“Ini salahku karna telat menghindar...jadi jangan mempermasalahkan hal ini karna luka seperti ini juga tak berarti bagiku.”
“Tapi Bos...”
“Cukup Cano, aku sendiri yang menyuruh Orca untuk menyerangku dengan serius jadi jangan di perpanjang.”
Mendengar perkataan bos besar alias Adrian, Cano langsung menghilangkan Aura kuatnya dan Orca pun sama.
Tepat sesaat Cano tak menargetkannya lagi, Orca juga menghentikan aura membunuhnya yang sangat kuat.
“Baiklah para jagoan...kalian lanjutkan dahulu tanpaku, aku ingin istirahat sebentar.”
Adrian yang perutnya terluka berjalan meninggalakan tempat latihan sederhana yang ada di belakang kantornya itu.
Di sana juga sangat ramai bukan hanya ada anggota Sea Army. Beberapa karyawan lain yang memang hobi bertarung dan beladiri juga ada di sana.
Sambil berjalan ke ruang ganti, Adrian yang membuka bajunya dapat melihat luka serius pada perutnya.
Luka itu bukan berwarna biru lagi tapi sudah hitam lebam.
Adrian juga merasakan beberapa tulang rusuknya patah dan organ dalamnya hancur. Mungkin jika ia manusia biasa, saat ini ia sudah mati.
Sambil menuangkan air, Adrian yang merasakan sakit mencoba menahan rasa sakit itu.
Setelah terkena air dengan sendirinya luka di perut Adrian hilang seketika.
Adrian yang kini duduk sendirian di ruang ganti sedikit melamun. Sambil membuka layar hologram, ia melihat basic status tinggi miliknya.
Tapi status tinggi itu hanyalah status human form alias status manusia Adrian.
Sadar dirinya jauh lebih lemah dari anggotanya sendiri, Adrian merasa dirinya harus bertambah lebih kuat lagi.
Tak lucu kan jika sang pemimpin lebih lemah dari anggotanya.
Sambil melamun, Adrian mulai melihat status unik yang muncul saat ia level 50.
Sejak status baru itu muncul, status itu sama sekali tak meningkat.
Status itu adalah status Raja Laut.
“Mungkin sudah saatnya aku meningkatkan status Raja...”ucap Adrian sambil menatap layar hologram.
__ADS_1