
Saat ini semua orang hanya bisa melihat kedua pemuda yang siap bertarung. Luca yang tak bisa menasehati anak keras kepala bernama Adrian itu hanya bisa berharap ia bisa bertahan.
Tentu saja ia akan melindunginya di saat saat krusial.
“Baiklah ayo kita mulai...”
Seperti sudah di rencanakan, semua orang akhirnya mulai berteriak dan menjadi juri di sana.
“Tiga.”
“Dua.”
“Satu.”
“Mulai.”
Atas teriakan para penonton yang terlihat bersemangat, pertarungan pun di mulai.
Adrian yang baru saja mempelajari teknik beladiri Dewa Laut Enki juga seperti langsung dapat menggunakan seni bertarung yang bahkan ia sendiri belum tau itu.
Di tengah laut bluesky, kedua pemuda itu akhirnya bertarung.
Dwi dengan gaya free style ciptaanya sendiri langsung berlari dan menerjang ke arah Adrian.
Mungkin tubuhnya tak setinggi dan sebesar Adrian, tapi jelas ia yang memiliki pengalaman lebih banyak di pertandingan langsung menyerang dengan kekuatan penuh.
Tapi di sana, pria bernama Adrian itu terlihat mengambil posisi dan ancang ancang yang aneh.
Saat ini Adrian dengan gaya bertarung yang sangat unik yaitu dua tangan di panjangkan seperti tombak terlihat diam saja dan saat Dwi mendekat, dengan cepat tangan kanan milik Adrian munusuk perut pemuda itu.
Dwi yang tak menyangka di serang secara vertikal terpental dan hampir jatuh ke luar lapangan.
Kini bagian perut Dwi terlihat biru dan semua orang yang melihat itu hanya bisa terkejut bukan main.
Adrian dengan gaya bertarung anehnya juga langsung berlari dan menerjang ke arah Dwi.
Dwi yang tak menyangka di serang dengan telak langsung berdiri kembali dan menggunakan gaya jujutsu andalannya.
Sambil menghindari serangan tangan Adrian yang seperti tombak, Dwi melompat dan mencari bagian leher Adrian.
Karna loncatan Dwi, kayu tempat berpijak menjadi bergoyang dan itu membuat Adrian sedikit tak seimbang.
Di momen sepersekian detik itu, Dwi berhasil meraih leher adrian dan menarik tubuh adrian ke bawah.
“Kena kau bajingan, dengan ini...”
Tapi belum sempat ia mengunci leher Adrian. Bagian siku Adrian menyerang tubuhnya.
Kuatnya serangan siku milik Adrian langsung membuat Dwi terjatuh. Saat Dwi terjatuh, Adrian dengan brutal menyerang Dwi yang terbaring di sana.
Pukulan dari jari tanganya yang seperti tombak membuat Dwi berteriak sangat keras.
“Ahhhh....”
“Berengsek ku bunuh kau...”
__ADS_1
Teriakan Dwi terdengar jelas saat itu, semua orang seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Dwi Wijaya Kusuma berteriak seperti seorang wanita di hadapan Adrian. Wijaya yang mendengar teriakan Dwi seakan tak percaya dan mulai mengerutu.
“Apa yang di lakuan si bodoh itu.”
“Hoi, cepat bunuh anak itu...kenapa justru kau yang di serang...bangkit dan bunuh dia.” Ucap tua bangka Wijaya.
Tapi mau apapun yang Wijaya katakan itu percuma, Adrian dengan seni beladiri Dewa Laut Enki dapat mendominasi pertarungan dengan penglihatan aneh yang kini di milikinya.
Sangat mudah bagi Adrian untuk memprediksi dan menghindari semua serangan yang Dwi lancarkan.
Pemain MMA seperti Dwi tak ada apa apanya di hadapan kekuatan besar Adrian tak teknik bertarungnya.
“Brengsek...ku bunuh kau bajingan kecil...”
Dwi yang di serang secara membabi buta mencoba bertahan dan menyerang balik. Sekujur tubuhnya kini di penuhi darah dan luka.
Sekuat tenaga ia berusaha menjangkau Adrian. Teknik jujutsu andalannya juga seakan tak berguna di hadapan tangan panjang Adrian.
Sambil menutup bagian tubuhnya dengan kedua tangan, Dwi mencoba bertahan sambil mencari momen yang pas.
Tapi Adrian dengan tangan panjangnya yang melesat sangat cepat bagaikan tombak tak dapat di hentikan.
Pemain top MMA kebanggaan kota Bluesky kini terbaring di lapangan bersimbah darah.
Belum lima menit pertandingan di mulai, Dwi sudah terkapar dan Adrian yang menjadi pemenang langsung berdiri dan berteriak.
“Pertandingan sudah selesai, aku Adrian Devano adalah pemenangnya, jadi jangan pernah mengganguku dan keluargaku lagi...kalian mengerti.” Ucap Adrian ke arah Eka dan Wijaya.
Dwi yang harusnya mengeksekusi Adrian di sana justru terbaring bersimbah darah.
Sadar ada yang tak beres dengan Adrian, Eka yang sudah membuang satu satunya kesempatan untuk membunuh Adrian terlihat sangat marah.
Jika tau Dwi tak bisa membunuh Adrian, mungkin dia sendiri yang akan turun tangan.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, di hadapan Luca, Eka dan Wijaya yang sudah berjanji akan menyelesaikan semua dendam mereka di pertandingan itu hanya bisa terduduk lesu.
Adrian yang memakai pakaiannya kembali juga berjalan ke arah Luca dan Thomas.
“Sepertnya pemenang dan sang juara sudah terlihat jelas, maka dari itu kami akan pamit.” Ucap Luca sambil berjalan meningggalkan Eka dan Wijaya beserta semua anggotanya yang terlihat sangat marah.
Tapi belum lama mereka berjalan, tua bangka Wijaya yang tak terima anak keduanya di bikin bonyok mengeluarkan pistol yang ada di pinggangnya.
Degan cepat Wijaya mengarahkan pistol miliknya dan berniat menembak Adrian saat itu juga.
Tapi belum sempat ia menarik pelatuk, suara tembakan dari kejauhan langsung terdengar dan secara tiba tiba tangan kanan Wijaya yang hendak menembak Adrian dari belakang hancur seketika.
Mendengar suara tembakan, Luca, Thomas dan seluruh anggotanaya langsung refleks berbalik arah dan mengeluarkan senjata mereka.
Kini total dua belas pria bersenjata lengkap mengarahkan senapannya ke arah Eka dan tua bangka Wijaya yang sedang terbaring.
“Ahhhh...tanganku.”
“Sialan...tanganku...”
__ADS_1
Wijaya yang tak menyangka di tembak entah dari mana mulai panik saat melihat Luca dan antek anteknya mengarahkan senapan tepat ke arah mereka.
“Dasar bajingan tua tak tau malu, berani sekali kau mengarahkan senjata dari belakangku.” Ucap Luca dengan ekspresi marah.
Eka yang melihat dan menyadari kesalahan yang di buat sang ayah mencoba meminta maaf.
“Maafkan ayah saya tuan Luca...dia memang sedikit sulit mengontrol emosinya.”
“Jadi lupakan saja kejadian ini karna masalah kita sudah selesai.”
Mendengar Eka yang meminta maaf, Luca yang di arahkan senjata oleh tua bangka Wijaya tetap tak terima.
Jika tidak ada beberapa sniper yang menjaga mereka dari jauh bisa saja ia tewas tertembak.
“Bajingan tua, sepertinya kau harus di beri pelajaran agar tau posisimu.”
Dengan santai Luca menembak Wijaya yang terbaring dan seketika itu juga tua bangka Wijaya tewas.
Melihat sang ayah mati di tembak, Eka benar benar marah dan pertumpahan darah pun terjadi.
Kini pertemuan yang harusnya berlangsung damai itu menjadi tak terkendali.
Beberapa anggota Wijaya yang memiliki pistol juga langsung mengeluarkan pistol mereka.
Tapi karna sudah di kepung sniper, orang orang yang menggunakan pistol langsung di bunuh dengan cepat.
Beberapa orang yang menggunakan senjata seperti golok dan sabit juga menyerang.
Tapi di hadapan Thomas dan pasukan polisi yang memang ahli dalam menembak dan memiliki pistol canggih mereka semua di bunuh secara brutal dan keji.
Apalagi dengan adanya sekelompok sniper elite yang memang menjaga dari jauh membuat pembantaian terjadi hanya dalam sekejap mata.
Adrian yang melihat pembantaian di depan matanya hanya bisa termenung dan seakan tak percaya dengan yang apa yang ia lihat.
Kini tambak ikan dan laut biru itu berubah menjadi merah karna darah dari anggota Wijaya yang tewas.
Eka yang kini tersisa sendiri dan masih duduk di kursinya juga terlihat sangat marah.
Luca yang hanya menyisakan Eka seorang mendekat ke arahnya dan berbicara dengan anak muda itu.
“Pergi dari kota Blueksy malam ini juga...jika aku masih melihatmu ataupun keluargamu yang lain, percayalah aku akan membunuh kalian semua.”
Di ancam oleh luca, Eka yang awalnya temenung mulai tersenyum. Kini pemuda yang merupakan salah satu kelompok mafia Big Dady itu balik mengancam.
“hahahaha....”
“Hahahaha....kau sudah keterlaluan serigala tua, mulai sekarang kau akan berurusan dengan Big Dady karna sudah membunuh keluargaku...aku Eka Wijaya Kusuma berada di bawah perlindungan Big Dady...kau akan segera menyesal brengsek hahahaha....”
Bukannya takut, Luca yang memang sudah mengenal Big Dady sejak lama justru menjawab ancaman Eka dengan santai.
“Sepertinya kau masih salah paham dengan posisimu, memang benar Big Dady melindungimu tapi ia hanya melindungi anggota kelompoknya dan bukan dengan keluarga bodohmu ini.”
“Jadi sana adukan ke bos besarmu kalau aku sudah membunuh ayahmu yang bodoh itu dan kita lihat apa reaksinya.”Ucap Luca sambil berjalan meninggalkan Eka sendirian.
Di hari yang mulai gelap itu Adrian akhirnya melihat sosok asli dari serigala tua bernama Luca.
__ADS_1
Laut merah dan matahari yang mulai terbenam menjadi saksi bisu dari kekejaman sang penguasa kota bluesky Luca Salamanca.