
BAB 17
Jelita yang tak berdaya dan juga kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang pemuda tampan yang tak di kenalnya hanya bisa pasrah karna belum bisa bergerak terlalu bebas mengingat bekas operasi di bagian punggung akibat kecelakaan yang membuat salah satu tulang punggungnya patah.
Bram mengusap usap kepala jelita dengan lembut dengan sebelah tangannya lalu yang sebelah lagi di gunakan untuk menahan kepala jelita bagian belakang menyusupkan muka jelita ke arah perutnya di atas pusat dengan tidak terlalu kuat mengingat gadis yang di rengkuh nya itu mengalami banyak luka.
Terasa tidak enak hati dengan posisinya jelita sedikit menarik kepalanya namun Bram masih tetap menahannya.
"Biarkan seperti ini dulu dan menangislah jika kamu ingin menangis, ucap Bram
" Oya... Maafkan aku gara gara aku kamu jadi begini.
"Dengan cepat namun juga hati hati jelita menarik sedikit kepalanya lalu mendongak ke atas di mana wajah bram juga sedang menunduk menatapnya dengan senduh.
" Apakah tuan yang menabrak kami? Tanya jelita
"Iya benar aku.....akulah pelakunya, ucap Bram dengan tersendat sendat.
" Apakah tuan tau kalau aku bersama tanteku?
"Iya.. Apakah perempuan paruh baya itu adalah tante kamu lalu apa kau sudah menemuinya.
" Belum.
"Oya... Siapa namamu dan berapa umurmu mengapa kamu belum memiliki KTP.
Bram mulai bertanya secara perlahan sambil mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di sampingnya sedangkan Rey dari tadi keluar meninggalkan mereka berdua.
" Nama saya jelita tuan
"Terus berapa umurmu
" Jalan delapan belas tahun tuan
"Mengapa belum mengurus hal penting seperti itu
" Sempat pernah terpikirkan akan membuat KTP akan tetapi belum sempat terwujud tante mira sudah jatuh sakit.
__ADS_1
"Jadi ibu itu adalah tante kamu.
" Iya dia adalah keluargaku satu satunya.
"Deg.. Jantung bara berdetak mendengar penuturan jelita.
" Di mana keluarga kamu yang lain atau kedua orang tuamu.
"Sudah meninggal tuan.
" Dari mana asalmu. Tanya bram sambil meraih tangan jelita lalu mengenggamnya.
"Cklek, tiba tiba suara pintu terbuka seorang suster datang membawa makan siang dan juga obat yang harus segera di makan oleh jelita.
"Permisi tuan... Permisi nona waktunya makan siang, ucap perawat itu ramah.
" Sini makanannya biar aku yang suapin. Ucap bram.
Baru saja bram mau menggapai makanan itu jelita malah memintanya.
" Sini,silahkan keluar ucap bara mempersilahkan perawat itu keluar sambil mengambil nampang yang berisikan makanan dari rumah sakit dan kembali duduk dengan memangku nampang itu.
"Ah... Sambil menganga Bram menyuruh jelita membuka mulutnya.
" Nggak usah tuan menyuapiku aku bisa sendiri.
"Aku sangat tak suka menerima penolakan makanlah buka mulutmu.
Dengan terpaksa jelita perlahan membuka mulut lalu memakan makanannya dengan sesekali melirik lelaki tampang yang sedang serius menyuapi nya hingga suapan terakhirnya.
Jelita sudah menyelesaikan acara makannya yang di suapi oleh Bram.
"Ini minumlah obatmu dan istirahatlah karna saya akan ke tempat tante kamu, ucap Bram
" Iya... Terima kasih tuan.
"Sama sama.
__ADS_1
" Kamu jangan bersedih lagi anggaplah aku dan Rey sebagai keluargamu dan jika ada sesuatu yang kau inginkan jangan sungkan sungkan mintalah kepada Rey dia akan lebih sering ke sini dari pada aku . Ucap Bram sambil mengusap usap kembali kepala jelita
"Baik tuan.
" Oh...... Iya sampai lupa mana hp kamu sini biar aku simpan nomor Rey dan nomor aku.
Jelita hanya sedikit menunduk baru menjawab.
"Maaf tuan tapi aku tak punya HP
Mendengar penuturan polos jelita membuat Bram sedikit tersenyum dan mengangkat sedikit sudut bibirnya.
" Baiklah tak apa kalau sempat besok saja aku kesini lagi, berbaringlah dan jangan memikirkan apa pun.
Bram pun ikut membantu membaringkan jelita dengan sedikit membungkukkan badannya tiba tiba jantungnya.
Deg
Deg
Deg
Pandangannya bertemu dengan pandangan mata jelita yang indah nan jernih dengan bulu mata lentik di pinggir matanya semakin menambah ke cantikan wanita mungil yang sekarang wajahnya sangat dekat di wajah Bram membuat Bram seakan terhipnotis dengan apa yang di pandangnya dengan sangat dekat semakin lama semakin Bram mendekatkan wajahnya sehingga membuat jelita agak tegang karna hembusan napas Bram dan wangi napas yang segar dan harum menyeruak menerpa wajah jelita bahkan Bram tak berhenti di situ dia semakin mendekatkan wajahnya sehingga hidung ke duanya sudah saling menempel jelita mencoba menghalau dengan satu tangannya di gerakkan namun Bram seakan sengaja menjepit tangan yang sebelah dan tak menunggu lama mata jelita membesar karna tiba tiba ada benda kenyal sudah menempel di bibirnya bergerak perlahan mengecup bibir mungil yang senang tiasa merah seperti delima sambil memejamkan mata Bram kembali mengecup dan itu semakin lama karna semakin bergelora n**** sudah menguasainya membuat Bram sedikit mengigit bibir yang semakin membuatnya hilang kendali sehingga jelita repleks membuka mulut dan Bram tak menyia nyiakan kesempatan yang sudah ada dengan segera dia memasukkan l**** nya dan menggabsen tiap tiap inci rongga rongga di dalam sana l****nya menari nari seakan mencari sesuatu ke******** yang hakiki dia terus terhanyut dalam gelora sedangkan jelita sudah tak tau lagi apa yang harus di perbuat nya namun yang pasti karna perbuatan lelaki yang belum di kenal namanya itu membuat jantungnya bertalu talu antara kaget takut malu namun ada juga perasaan asing yang jelita tak mengerti karna perasaan yang asing ini bercampur aduk antara geli dan nikmat namun tidak di pungkiri mungkin suatu saat nanti jelita akan menginginkannya lagi, setelah merasa cukup dan juga napasnya yang memburuh membuat Bram harus rela melepaskan dan mengakhirinya sambil mengusap sisa sisa salipan yang ada di bibir jelita .
Bara sedikit tersenyum melihat gadis mungil itu masih dalam fase keterkejutan dengan berusaha menetralkan perasaan dan napasnya yang masih ngos ngosan.
Wajahnya yang merah seperti tomat matang membuat hati bram sedikit merasa bersalah
"Maaf tapi mulai sekarang ini adalah milikku untuk selamanya, ucapnya sambil berbisik tanpa menarik kembali wajahnya.
Jelita hanya diam dengan wajah sudah merah dengan linangan air mata sudah menganak sungai.
" Jangan menangis nanti malam aku ke sini menemanimu.
Namun tak ada jawaban dari jelita gadis itu hanya memejamkan matanya dia merasa hancur apa yang di jaga selama bertahun-tahun dengan impian dia akan memberikan kepada lelaki yang sudah lama di cintainya kini sudah pupus setelah datang lelaki dewasa tanpa permisi merebutnya.
Setelah mengucapkan kata kata itu Bram berlalu pergi ke luar kamar meninggalkan jelita yang masih bungkam meski begitu Bram juga tak mengharap jawaban dari seseorang yang di anggap wanitanya mulai hari ini karna dia juga mengerti akan rasa kaget yang di hadapi wanita mungil itu karna secara tiba tiba Bram menciumnya apalagi pikir Bram itu adalah yang pertama bagi wanitanya.
__ADS_1